Adab Berpakaian Dalam Islam

Adab Berpakaian Dalam Islam

Adab Berpakaian Bagi Laki-Laki Dan Perempuan

Adab Berpakaian Bagi Laki-Laki Dan Perempuan

 

Hallo Kawan Mama,

Pada dasarnya, pakaian merupakan salah satu hal yang menjadi kebutuhan pokok yang sangat penting bagi semua orang. Hal ini merupakan hal yang perlu di cermati dan di perhatikan dengan baik. Pasalnya selain di gunakan untuk menutupi anggota tubuh yang bersifat pribadi/personal, pakaian tentu juga merupakan hal yang mempengaruhi penampilan kita. Di dalam Agama Islam, manusia di perintahkan untuk mengenakan pakaian dengan tujuan untuk menutup auratnya. Dan dalam penerapannya, ada adab berpakaian dalam Islam yang berlaku bagi setiap kaum laki-laki maupun wanita.

Di dalam Agama Islam, menutup aurat merupakan sebuah perintah yang wajib untuk di laksanakan. Dengan adanya pakaian, maka aurat dapat tertutup dengan baik dan dapat terhindar dari perbuatan-perbuatan kemaksiatan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 26. Yang artinya,

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan pada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang lebih baik. Hal itu semua merupakan ayat-ayat Allah, supaya mereka berdzikir dan mengingat-Ku.” (Q.S Al-A’raf : 26)

Dari ayat di atas, dapat di ketahui bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengenakan pakaian sebagai penutup aurat. Aurat laki-laki, pada berada di antara bagain perut (pusar sampai pada ujung dengkul), sedangkan aurat wanita adalah seluru bagian dari anggota tubuh kecuali wajah dan tangannya saja. Di dalam berpakaian, tentu ada yang namanya adab berpakaian yang baik. Hal ini di maksudkan agar pakian yang kita kenakan tidaklah menyalahi aturan yang dapat membuat kita berbuat maksiat dan dosa. Lalu bagaimana adab yang baik bagi kita dalam berpakaian? Berikut ini adalah penjelasannya.

Adab Berpakaian

Selain sebagai penutup aurat, pakaian yang di perintahkan tersebut juga merupakan perhiasan yang dapat kita kenakan. Hal ini juga dapat menunjang penampilan kita agar semakin indah dan menawan. Agama Islam selalu mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai Islami yang baik dalam segala aspek kehidupan. Dalam berpakaian pun islam memiliki atura berupa adab yang baik untuk di lakukan dalam memilih dan menggunakan pakaian. Adab tersebut tentu memiliki tujuan yang baik agar kita tidak melakukan kesalahan yang dapat mengakibatkan dosa dalam berpakaian.

Selain dapat di kenakan sebagai perhiasan, pakaian juga merupakan sebuah identitas dan menjadi tanda ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena bagaimanapun pakaian berfungsi sebagai penutup aurat yang pada dasarnya tidak boleh di perlihatkan pada orang lain. Oleh karena itu, pakaian merupakan tanda ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Tentunya dalam berpakaian, ada adab-adab yang perlu kita ketahui dan di terapkan dalam kehidupan kita. Di harapkan dengan dengan menerapkan dan melaksanakan adab-adab ini dapat membuat kita menjauh dari perbuatan maksiat dan dosa, serta dapat semakin dekat dengan Allah SWT. Berikut adalah adab berpakaian di dalam Islam

  1. Adab Berpakaian Bagi Laki-Laki

Pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan perempuan, laki-laki juga merupakan mahluk yag ingin terlihat indah, namun tidak dengan menggunakan make up. Hal ini tentu bertujuan untuk memperindah penampilan yang akan menjadikan kenyamanan dalam berkativitas. Sebagai seorang laki-laki beragama islam, tentu memiliki aturan atau adab yang baik dalam berpakaian yang harus di tunaikan. Hal ini akan menjadikan seorang laki-laki menjadi terjaga penampilan dan perilakunya, serta mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Berikut adalah adab berpakaian bagi-laki-laki

    • Berpakaian Sewajarnya Dan Tidak Berpakaian Dengan Berlebihan

Dalam mengenakan pakaian, hendaknya bagi kaum laki-laki untuk tidak mengenakan pakaian yang berlebihan. Sebab pakaian-pakain yang berlebihan ytersebut menandakan adanya kesmobongan dalam dirinya. Sebaiknya kenakan pakaian yang sederhana atau sewajarnya saja. hal ini dapat menghindari dari rasa tinggi hati.

    • Berpakaian Untuk Kebutuhan Dan Kebersihan

Sudah selayaknya pakaian menjadi sebuah kebutuhan pokok dalam kehidupan. Sebab tanpa adanya pakaian tidak mungkin kita dapat melakukan segala aktivitas sehari-hari. Pakaian juga di maksudkan untuk menjaga kebersihan tubuh dan penamilan kita. sebab pakaian dan tubuh yang bersih tentu akan terlihat rapid an enak untuk di pandang. Selain itu, kebersihan juga merupakan tanda keimanan seorang kepada Allah SWT.

    • Tidak Berpakaian Dengan Bahan Sutra

Pada masa lampau, terutama masa Kenabian, pakian berbahan sutra merupakan barang yang mewah dan mahal karena kualitasnya yag bagus. Hal ini juga yang menjadikan sutra termasuk kedalam perhiasan. Hal ini pula yang menjadikan sutra lebih sering di gunakan oleh kaum wanita sebagai perhiasan. Semantara di dalam islam, seorag laki-laki tidak di perbolehkan mengenakan pakaian atau sesuatu yang menyerupai wanita.

    • Tidak Menggunakan Pakaian Dan Perhiasan Berbahan Emas

Bagi laki-laki, mengenakan pakaian yang berbahan emas juga merupakan sesuatu yang di larang oleh Allah SWT. Sebagaimana yang tekah di jelaskan di atas, emas juga merupakan slah satu perhiasan yang identic dengan wanita. Mak dari tiu, laki-laki tidak di perkenankan untuk mengenakan perhiasan tersebut.

    • Tidak Berpakaian Menyerupai Wanita

Seorang laki-laki memiliki kodratnya sendiri sebagai seorang manusia. tentunya hal ini tidak bisa di samakan dengan kaum wanita termasuk juga dalam berpakaian. Maka dari itu, seorang-laki-laki tidak di perkenankan untuk berpakaian menyerupai kaum wanita.

    • Tidak Menggunakan Pakaian Yang Dapat Menunjukkan Gambaran Atau Bentuk Tubuh, Serta Auratnya.

Islam telah memerintahkan pada umatnya untuk mengenakan pakian sebagai penutup aurat. Hal ini juga tebtu ternmasuk kedalam bagaimana pemilihan yang baik dalam menutup aurat. Aurat yang terututp dengan baik adalah dengan menggunakan pakaian yang tidak menerawang dan dapat memperlihatkan lekukan tubuh seseorang. Dengan begitu aurat akantertutup dengan baik dan sempurna. Karena bagaiamanapun, pakian yang menerawang dan menunjukkan lekukan tubuh sama seperti manusia yang berpakaian namun telanjang.

    • Hendaknya Panjang Pakaian Tidak Melebih Kedua Mata Kaki

Bagi kaum laki-laki, hendaknya menggunakan pakiana yang panjangny tidak samapi menutupi bagian mata kaki. Dahulu, pakaian termsuk kebutuhan pokok yang membutuhkan dana yang lumayan untuk mendapatkannya. Oleh sebab itu, penggunaan kain untuk pakian merupakan seuatu hal yang perlu di perhatikan dan di perhitungkan. Laki-laki yang mengenakan pakaian yang berlebihan menandai kesombongan pada dirinya yang memiliki harta lebih di banidngkan orang lain. Dan kesombongan merupakan hal yang sangat di benci Allah SWT.

  1. Adab Berpakaian Bagi Wanita

Meskipun sama-sama di perintakan untuk menutup aurat, bagi wanita tentu memiliki aturan dan adab yang baik dalam berpakaian yang berbeda dengan laki-laki. Wanita adalah mahluk yang seluruh bagian tubuhnya merupakan sebuah aurat yang harus di tutupi dengan sebaik-baiknya. kaum wanit hanya dapat memperlihatkan tangan dan mukanya saja yang bukan termasuk bagian dari aurat. Sebab bagia tubuh lain merupakan kehormatan dan kesucianya sebagai mahluk Allah. Oleh sebab itu, wanita memiliki adab-adab yang baik yang harus di terapkan dalam berpakaian.

    • Menutupi Seluruh Bagain Tubuh Yang Menajdi Aurat Kecuali Telapak Tangan Dan Wajah

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa seluruh anggota tubuh wanita merupakan aurat yang harus di tutupi, kecuali telapk tangan dan wajahnya saja. maka dari itu, tidak di perbolehkan bagi wanita msulimah untuk berakaian yang tidak menutupi apa yang menjadi auratnya. Sesungguhnya tidak ada surge bagi dirinya.

    • Tidak Mengenakan Pakaian Tembus Pandang

Berpakaian yang baimadalah dengan menggunakan pakaian yang menutupi aurat dengan baik. Artinya pemilihan bahan jug perlu di perhatikan dengan baik. Sebab bahan yang cenderung menerawang sama halnya akan mengumbar aurat dan menunjukkannya pada muka umum. Tentu ini meruoakan sebuah dosa besar bagi wanita.

    • Tidak Menyerupai Pakaian Khas Orang Kafir Atau Fasik

Pakian yang baik adalah pakaian yang akan mengantrkannya pamakainya kepada Allah SWT. Pada zaman ini, pakian budaya barat telah umum dan sering di kenakan oleh kaum wanita di Indonesia. Hal ini tentu menjadi hal yag perlu di perhatikan. Sebab pakian-pakain tersebt cnderung pakaian dengan model yang menunjukkan bagian-bagian tubuh wanita. Pakaian yang baik adalah pakaian yang dapat menutup bagian dari aurat dengan baik.

    • Tidak Menggunakan Pakaian Yang Menunjukkan Lekukan Tubuh

Sama halnya dengan pakaian yang menerawang, pakian yang menunjukkan lekukan tubuh juga merupakan pakaian yang tidak boleh di kenakan oleh kaum perempuan. Sebab aurat tidak hanya bagian tubuh yang terlihat atau kain yang menerawang saja. bagian tubuh yang dapat menimbulkan lekukan juga menjadi auarat yang harus di tutupi. Karena lekukan tubuh yang terlihat di khawatirkan dapat mengundang syahwat dari lawan jenis yang melihat

    • Tidak Menyerupai Laki-Laki

Sama halnya dengan laki-laki yang tidak boleh menyerupai wanita. Seorang wanita juga tidak di perboehkan mengenakan pakaian yang menyerupai laki-laki. Mengingat laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan pada bagian-bagian tubuh yang menjadi aurat. Oleh sebab itu, haram bagi wanita memakai pakaian yang menyerupai kaum laki-laki.

    • Tidak Berpakaian Untuk Mengundang Syahwat Lawan Jenis

Perintah untuk berpakaian adalah denga tujuan untuk menutup aurat agar terhidar dari perbuatan maksiat dan dosa. Oleh sebab itu, berpakaian dengan niatan untuk mengundang syahwat dari lawan jenis, jelas merupakan perbuatan dosa yang di larang untuk di lakukan oleh kaum wanita.

    • Tidak Berpakaian Dengan Niatan Pamer, Mencari Perhatian Dan Pujian

Allah SWT pada dasaranya memerintahkan manusia untuk mengenakan pakaian agar dapat menutupi auratnya dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Berpakaian dengan niatan selain itu seperti, mencari perhatian, pamer perhaiasan/pakaian dan haus akan pujian akan menjadikan wanita tersbut berdosa besar dan di laknat oleh Allah. Perintah berpakian sejatinya di tujukan agar manusia semakin mendekatkan diri kepada Allah sehingga terhindar dari perbatan maksiat dan dosa yang dapat mengantarkannya ke neraka.

Di dalam berpakaian tentu kita ingin agar pakaian yang kita kenakan adalah pakaian yang bagu dan dapat menunjang keindahan kita. Hal ini merupakan sebuah fitrah manusia dan perintah Allah untuk memerpindah diri dan juga menutup aurat dengan sebaik-baiknya. Namun dalam penerapannya, tentu ada aturan dan ketentuan tertentu yang perlu di perhatikan dan di laksanakan. Hal ini di tujukan agar dalam berpakian kita dapat selalu menjaga diri dan kehormatan, serta selalu dekat dengan Allah SWT dan terhindar dari perbuatan maksiat dan dosa. Berpakaian yang baik adalah berpakaian yang menggunakan bahan yang baik dan bersih,serta indah di pandang dengan tujuan melaksanakan perintah Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Akurat
  • Kumparan
Keutamaan Seorang Istri Dalam Agama Islam

Keutamaan Seorang Istri Dalam Agama Islam

Keutamaan Seorang Istri Dalam Agama Islam

Keutamaan Seorang Istri Dalam Agama Islam

 

Hallo Kawan Mama,

Melangsungkan pernikahan tentu menjadi impian dan harapan setiap dari kaum wanita, dan tidak ada wanita normal yang ingin untuk selalu menghabiskan hidupnya dengan kesendirian dan kesepaian. Seorang wanita ketika telah melangsungkan pernikahan akan menjadi seorang istri yang akan selalu menemani sepanjang hidup suami dan mengabdikan diri padanya. Tentunya menjadi seorang istri adalah jalan ibadah yang akan berjalan dengan kurun waktu yang lama. Sama halnya dengan suami, Istri juga memilki hak dan kewajiban kepada suami yang harus di penuhi agar rumah tangga yang ia jalani dapat berlangsung dengan semestinya dan mendapat ridho dari Allah SWT.

Di dalam Agama Islam, mejadi seorang istri merupakan sebuah berkah kenikmatan yang di berikan Allah untuk hambanya dalam melaksanakan ibadah. Dengan menikah maka seorang istri akan tertuju pada sebuah jalan ibadah yang indah untuk medapatkan ridho-Nya. Karena tugas seorang istri tidak lain adalah mengabdi pada suami dan keluarga, di mana hal ini merupakan kewajiban dan jalan bagi istri dalam beribadah.

Menjadi seorang istri bukanlah perkara yang mudah, sebab dalam sebuah pernikahan setiap pasangan suami istri akan mengalami adanya sebuah masalah. Entah karena faktor perbedaan pendapat, cara berfikir, sudut pandang, perbedaan sifat dan sebab-sebab lain yang dapat mengganggu jalanya hubungan rumah tangga. Dengan begitu menjalankan peran sebagai istri tentu bukanlah perkara yang mudah. Namun Allah SWT akan selalu menyertai dan memberkahi bagi setiap istri yang menjalankan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

Tentunya, selain hak dan kewajiban yang perlu di atunaikan seorang istri dalam berumah tangga, seorang istri juga memiliki keutamaannya dalam menajalankan perannya tersebut. Pada tulisan kali ini, Kawan Mama akan membahas mengenai keutamaan seorang istri dalam rumah tangga, sebagai berikut.

Keutamaan Menjadi Seorang Istri

  1. Jalan Bersyukur

Bersyukur adalah hal utama yang harus di lakukan seseorang dalam segala keadaan atas nikmat yang telah Allah SWT berikan. Dalam hal pernikahan, tidak semua dari kaum wanita dapat mendapatkan kesempatan untuk menikah dan menjadi seorang istri. Bahkan, banyak pula yang dapat melangsungkan pernikahanan namun berakhir pada perceraian. Oleh sebab itu, rasa syukur dari seorang istri harus selalu di curahkan kepada Allah SWT agar rumah tangganya selalu dalam berkah dan rahmatnya.

Dengan bersyukur rumah tangga yang di jalani akan menjadi lebih indah dan bermakna. Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah SWT akan menjaga dirinya. Dan barang siapa yang merasa cukup maka Allah SWT akan memberikan kecukupan pada dirinya.” (H.R Bukhari dan Muslim)

  1. Kemuliaan Dalam Bertanggung Jawab

Pada dasarnya, dalam sebuah rumah tangga, kepala dan pemimpin keluarga yang bertanggung jawab atas keluarga tersebut adalah seorang suami. Ketika suami pergi atau tidak dapat melaksanakan tugasnya sebagai kepala keluarga, maka peran tersebut akan berpindah kepada sang istri. Sebab seorang istri juga merupakan pemimpin di rumahnya terutama bagi anak-anaknya yang kelak akan di mintai pertanggung jawaban atas peran yang ia lakukan dalam rumah tangga.

Tentunya, tanggung jawab seorang istri merupakan tugas yang mulia yang juga merupakan kewajibannya dalam menunaikan ibadah membina rumah tangga. Rasulullah SAW bersabda.

“Seorang laki-laki adalah pemimpin keluarga dan ia akan di mintai pertanggungjawaban atas apa yang di pimpinya. Dan seorang wanita adalah seorang pemimpin di rumah suaminya, dan ia akan di mintai pertanggungjawaban atas apa yang di pimpinya.” (H.R Bukhari Muslim)

Dengan melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan baik, itu berarti seorang istri tengah dekan dan di jalan yang benar menuju ridho dan rahmat Allah Dalam berumah tangga.

  1. Menjaga Dan Melindungi Diri

Jika seorang seorang suami yang berposisi sebagai kepala rumah tangga yang berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan dan membahagiakan istri. Maka seorang istri juga memiliki tugas untuk menjaga diri dan kehormatanya ketiak suami tengah pergi keluar. Dengan begitu rumah tangga akan menjadi lebih seimbang karena peran yang telah di lakukan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 34, yang artinya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena itu Allah Swt telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita). Dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memlihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka.” (Q.S An-nisa : 34)

  1. Beribadah Dengan Lebih Khusuk

Keutamaan seorang istri selanjutnya adalah dapat beribadah dengan lebih khusuk. Seorang wanita yang belaum menikah cenderung sulit untuk beribdah dengan khusuk lantaran masih memikirkan banyak hal dalam hidupnya. Sedangkan wanita yang telah menikah cenderung lebih khusuk dalam beribadah. Sebab fikiranya telah focus pada keluarga dan Allah Semata.

Rasulullah SAW bersabda,

“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalat di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada du bagian lain dari rumahnya.” (H.R Abu Dawud)

  1. Sebagai Perhiasan Terindah

Sejatinya wanita shalihah adalah perhiasan dunia. Hal ini berlaku bagi istri yang dapat melukan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Bagaimana tidak, suami yang mendapat istri dengan ahlak yang mulia dan menjalankan kewajibanya dengan baik dan selalu dekat dengan Allah tentu merupakan sebaik-baikny perhiasan di dunia.

Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (H.R Muslim)

  1. Sumber Kebahagian Suami

Pada dasarnya, seorang istri yang baik dan shalihah adalah sumber kebahagaiaan dari sang suami. Sebab kebahagian suami stelah menikah adalah membahagiakan seorang istri. Jika istri dapat berperan baik dalam menjalankan tugas dan kewajibanya kepada suami, tentu suami akan menjadi bertambah senang dan bahagia serta semangat terhadapnya.

Rasulullah SAW bersabda,

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baiknya perbendaharaan laki-laki yaitu istri shalihah yang bila di pandang akan menyenangkan, dan bila di perintah akan mentaati dan bila ia pergi, maka istri akan menjaga dirinya.” (H.R Abu Dawud)

Setaip tingkah laku istri juga berdampak pada suasana hati suami. Ketika istri bertingkah laku dengan baik kepada suami, tentu itu akan menjadi penyejuk hati suami. Dan setiap pengabdian dari istri adalah sebuah ibadah yang mejadi sumber kebahagiaan bagi sang suami.

  1. Menjadi Penolong Suami Dan Dirinya Sendiri Di Akhirat Nanti

Seorang istri yang baik dan shalihah tentu dapat menjadi penolong suami di akhirat nanti. Sebab di akhirat nanti, suami akan di minta pertanggungjawaban atas kepemimpinanya di dalam membimbing suami. Dengan sifat keshalihahan seorang istri tentu akan menjadi penolong suami di akhirat kelak. Rasulullah SAW bersabda,

“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (H.R Ibnu Majjah)

Sebaliknya, ridho dari seorang suami juga merupakan kunci seorang istri untuk memasuki surge, sebagai mana telah di jelaskan dalam sebuah riwayat yang berbunyi.

“Wanita yang menjadi penghuni surge ialah wanita wanita yang penh kasih sayang, banyak kembali kepada suaminya yang apabila suaminya tengah marah kemudian ia mendatanginya dan meletakan tanganya di atas tangan suaminya dan berkata : ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga ekau ridho’.” (Mu’jamul Ausath No. 5644)

  1. Meneladani Sikap Istri Rasulullah SAW

Seorang suami tentu mengaharapkan mendapat istri yang memiliki kepribadian yang baik. Dengan menjadi istri yang baik kepada suami dengan mengabdi dan selalu menemaninya di segala kondisi merupakan sikap teladan yang di lakukan oleh Istri Rasulullah Khadijah. Siti Khadijah adalah istri yang setia, penyabar dan selalu mendapampingi Rasulullah di segala kondisi yang di alami oleh Rasulullah.

Ketika Rasul tengah dalam keadaan sulit saat hendak berdakwah sekalipun, Siti Khadijah tetap setia mendampingi rasul dan bahkan memberikan seluruh hartanya untuk di gunakan rasul dalam berdakwah. Sikap yang di tunjukan Siti Khadijah tersebut, merupakan sikap teladan sebagai bentuk pengabdian seorang istri kepada suami yang harus di tiru oleh kaum-kaum muslimah.

  1. Menjadi Sumber Pahala Bagi Seorang Istri

Tentu kita tahu, seorang wanita yang berposisi sebagai seorang istri mempunyai tanggung jawab dan kewajiban yang harus di tunaikan kepada sang suami. Tanggung jawab dan kewajiban tersebut juga merupakan sumber pahala yang dapa di peroleh seorang istri ketika dapat menunaikanyya dengan baik.

Pahala bagi seorang istri yang menyediakan air kemudian di minum oleh sang suami, di ibaratkan seperti ia telah berpuasa lebih dari satu tahun lamanya. Bahkan jika istri menyediakan makanan untuk suami yang kemudian di makan, maka pahalanya akan lebih baik jika di bandingkan mengerjakan umroh dan haji. Bahkan mandi junubnya seorang istri yang di sebabkan jimak dengan suaminya, maka hal ini akan lebih baik baginya jika di bandingkan mengurbankan 1.000 ekor kambing yang di sedekahkan kepada fakir msikin.

Bukan kah sebuah kenikmatan dari Allah, ketika istri dapat menunaikan tanggung jawab dan kewajibannya. Selain mendapat balasan langsung berupa kasih sayang dan kebahagiaan dari suami, istri juga akan mendapatkan pahala sebegitu banyaknya.

  1. Sebagai Jalan Jihad

Pengabdian seorang istri berupa menunaikan tanggung jawab dan kewajibanya kepada suami dengan sebaik-baiknya serta melayani dan menyenangkan suami juga merupakan sebuah langkah jihad bagi seorang istri. Terlabih ketika sang istri mengalami kehamilan akibat jimaknya dengan sang suami. Apabila seorang istri hamil maka ia di sebut sebagai seorang syahid yang khidmat kepada suami sebagai bentuk dari jihad.

Seorang istri yang tengah dalam masa kehamilan memang akan di jamin oleh Allah selalu dalam kebaikan. Karena bagaimanapun juga, masa kehamilan seorang istri adalah masa-masa perjuangan istri dalam merawat sang bayi dalam kandungan agar dapat sampai pada masa melahirkan. Tentunya masa tersebut membutuhkan adanya rasa sabar yang luar biasa dalam merawat kandungan yang bahkan dapat mengganguu maupun mengorbankan nayawanya sendiri.

Menikah tidak hanya melangsungkan akad nikah dan berpindah status menjadi suami ataupun sitri semata. Namun menikah juga akan membuat kita memiliki tanggung jawab baru di dalam rumah tangga. Dan setiap dari suami dan istri memiliki perannya masing-masing yang harus di jalankan dan di penuhi dengan sebaik-baiknya. Perang seorang suami adalah untuk menjadi imam dan kepala keluarga yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup anggota keluarganya, termasuk mencari nafkah untuk mereka. Dan seorang istri memiliki peran sebagai makmum dan menjadi kepala keluarga apabila suami tengan pergi. Melayani dan berbakti pada suami merupakan jalan beribadah bagi seorang istri untuk mendapatkan cinta kasih dan ridho dari suami yang merupakan ridho Allah.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai keutamaan seorang istri di dalam rumah tangga. Menjalankan kewajiban serta tanggung jawab dan memenuhi hak-hak atas suami merupakan jalan jihad seorang istri menuju surge Allah SWT.

Semoga tulisan ini membantu dan bermanfaat. . .

 

 

Sumber :

  • Dalamislam
  • Seruni
Hukum Mewarnai Rambut Dalam Islam

Hukum Mewarnai Rambut Dalam Islam

Hukum Mewarnai Rambut Dalam Islam

Hukum Mewarnai Rambut Dalam Islam

 

Hallo Kawan Mama,

Bagi setiap orang, terutama bagi kaum wanita, penampilan merupakan hal yang sangat penting untuk di perhatikan. Karena tampil dengan cantik dan indah memanglah fitrah dari setiap kaum wanita. Agar dapat tampil dengan cantic, banyak dari kaum wanita yang menggunakan segala cara agar dapat tampil dengan cantic dan indah. Seperti meggunakan bantuan make up atau kosmetik, memakai busana yang bagus dan ada pula yang merubah penampilan lainya pada tubuh. Pada zaman sekarang ini slah satu caa yang sedang ramai di gunakan oleh kaum hawa adalah dengan mengecat atau mewarnai rambutnya. Hal ini memang sedang ramai di gandrungi oleh kaum wanita, terutama kaum muda.

Pada dasarnya, Agama Islam tidak melarang umat-nya untuk memperindah penampilan diri. Memperindah diri hakikatnya adalah hal yang di perintahkan oleh Allah SWT sebagai bagiaan dari cara memelihara tubuh. Karena bagaimanapun Allah sendiri maha indah dan meyukai keindahan. Namun di dalam merindah diri tentu ada batasan-batasan yang tidak boleh di langkahi bagi setiap umatnya. tujuan dari batasan-tersebut tentu agar mengarahkan kita untuk tidak menuju kemaksiatan dan perbuatan dosa. Seperti halnya mengumbar aurat, berhias dengan berlebihan dengan niatan bukan sebagai ibadah, dan merubah bentuk tubuh merupakan sesuatu yag di larang dalam Islam.

Lalu bagaimana islam memandang berhias dengan mewarnai rambut ini? Bolehkah seorang wanita mewarnai rambutnya? Tentunya sebagai msulimah, kita perlu tahu hukum yang di perbolehkan bagi kita dalam memperindah diri. Berikut adalah penjelasan dari Kawan Mama mengenai hukum mewarnai rambut bagi kaum wanita di dalam agama islam. Sebagi berikut

Hukum Mewarnai Rambut Di Dalam Islam

Pada dasarnya mewarnai rambut dengan berbagai pilihan warna yang dapat di gunakan di anggap dapat menambah kesan pada penampilan menjadi lebih menarik dan indah. Karenanya, kegiatan mewarnai rambut menjadikan di gemari oleh para kaum hawa. Selain itu, dengan mewarnai rambut juga akan menutupi kesan rambut yang mulai tumbuh uban karena faktor usia. Dengan begitu, uban yang tubuh dapat terutupi oleh pewarna rambut yang di kenakan. Karena pada umumnya, wanita ingin agar selalu tampil cantic dana wet muda. Rasulullah SAW pernah membahas tentang rambut yang di warnai, beliau bersabda.

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidaklah menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut dapat di ketahui bahwa Rasulullah SAW dengan sangat lugas memrintahkan pada kita untuk mewarnai rambut untuk membedakan identitas kita dengan orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini menjadikan bagi kita di perbolehkan dalam mewarnai rambut agar tidak menyamai orang Yahudi dan Nasrani. Dan dalam sebuah riwayat lain oleh Jabir r.a menceritakan bahwa ketika saat fathul Makkah berlangsung, ayah dari Abu Bakar Ash-Shiddiq yaitu Abu Quhafah yang datang dengan kondisi rambut yang telah putih beruban. Kemudian Jabir berkata,

“Pada hari penklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan janggutnya yang telah memutih (seperti kapas, atau beruban). Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘ubahlah uban ini dengan seuatu, tetapi hindarilah warna hitam’.” (H.R Muslim)

Dari apa yang telah di sampaikan dalam kedua hadits tersebut, dapat di ketahui bahwa mewarnai rambut yang telah beruban murapak hal yang di perblehkan oleh Rasulullah dan Islam. Dengan mewarnai rambut yang mulai beruban di harapkan agar kita tidak sama dan membedakan identitas kita sebagai muslim dengan orang Yahudi dan Nasrani. Dengan begitu, mewarnai rambut/menyemir di perbolehkan di dalam Islam, dengan catatan tidak mewarnainya dengan warna hitam.

Apa yang menjadikan warna hitam tidak boleh di guanakan untuk mewarnai rambut? beriku adalah penjelasannya.

Hukum Menyemir Rambut Dengan Warna Hitam

Dalam hadits di atas kita telah melihat bahwa Rasulullah telah memerintahkan Abu Qunafah untuk mengubah warna rambut yang telah beruban. Namun dengan caatatan tidak boleh mengubahnya dengan warna hitam. Tentunya ini menjadi pertanyaan bagi kita sendiri, kenapa Rasulullah membolehkan mewarnai rambut tapi tidak dengan warna hitam. Dalam sebuah riwayat hadits, Rasulullah SAW bersabda,

“Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Maka itu tidak akan mencium bau surga.” (H.R Abu Dawud)

Bahan Yang Baik Di Gunakan Untuk Menyemir Rambut

Dalam sebuah riwatyat hadits menjalaskan bahwa Abu Dzar r.a pernah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda.

“sesungguhnya bahan yang terbaik yang kalian gunakan untuk menyemir rambut adalah hinna’ (pacar) dan katm (inai).” (H.R Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majjah dan An-Nasa’i)

Dari hadits tersebut, Rasulullah telah melarang kita untuk menyemir rambut dengan warna hitam. Namun beliau juga menganjurkan kepada kita untuk menyemir rambut dengan menggunakan hinna’ dan katm. Selain menggunakan hinna’ dan katm, kita juga dapat mewarnai rambut dengan al wars (biji yang dapat menghasilkan warna merah dan kekunging-kuningan). Dan juga menggunakan zafaron sebagaimana yang telah di lakukan oleh beberapasahabat Rasulullah.

Dalam mewarnai rambut, pada dasarnya Rasulullah SAW tidak mewajibkan bahan yang spesifik yang baik dan boleh di gunakan. Namun dalam memilih bahan hendaknya memperhatikan kadar dari bahan yang di gunakan. Karena apabila bahan yang di gunakan tidak meresap pada rambut. Maka akan membentuk lepisan sendiri yang akan menghalangi air wudzu ke rambut. sehingga hal itu dapat membuat wudzu mejadi tidak sah. Sebaiknya pilih dan gunakan bahan pewarna rambut yang dapat meresap dan tidak mengahaling air wudzu yang mengalir pada rambut agar wudzu dapat menjadi sah dan sempurna.

Menyemir Rambut Dengan Warna Selain Hitam

Dalam hadits-hadits yang telah di jeaskan di atas, rasululullah telah melarang kita untuk mewarnai rambut dengan warna hitam. Namun beliau memerintahka kita untuk mewarnai rambut dengan warna lain (selain hitam). Dalam hal ini Imama Nawawi berpendapat bahwa,

“Menurut Madzhab kami (Syafi’iyah), menyemir uban berlaku pada kaum laki-laki dan perempuan yaitu dengan shofroh (warna kuning) atau hamroh (warna merah). Dan si haramkan menyemir uban dengan warna hitam menurut pendapat yang terkuat. Ada pula yang mengatakan bahwa hukumnya hanyalah makruh tanzib. Namun pendapat yang menyatakan haram lebih tepat berdasarkan pada Rasulullah SAW yang telah bersabda, ‘hindarilah warna hitam’.”

Dari pejelasan di atas dapat di ketahui bahwa menyemir atau mengubah warna rambut merupakan hal yang di perintahkan oleh Rasulullah ketika melihat rambut putih beruban. Namun rasulullah juga melarang kita untuk mengubah dan meyemir rambut kita dengan menggunakan warna hitam. Sebab warna tersbut merupakan warna yang menyerupai dn identik dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Hal yang perlu di perhatikan dalam mengubah warna atau menyemir rambut adalah dengan memilih bahan yang baik yang dapat menyerap pada rambut dan kulit kepala sehingga tidak mencegah dan menutupi rambut dari air wudzu. Tentunya niat dalam merubah rambut adalah dengan tujuan ibadah pada Allah dan membuat kita menyelisihi kaum yahudi dan Nasrani.

Demikian pemabahasan dari Kawan Mama mengenai hukum merubah warna/menyemir rambut. menyemir rambut pada dasarany merupakan sunnah yang di perintahkan Rasulullah. Namun hal tersebut memiliki batasan serta niat dan cara yang baik dalam penerapannya agar dapat mendapat berkah dari Allah SWT

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Dalamislam
  • Masjidpedesaan
Hati-Hati !! – Dosa Menantu Terhadap Mertua

Hati-Hati !! – Dosa Menantu Terhadap Mertua

Dosa Menantu Terhadap Mertua

Dosa Menantu Terhadap Mertua

 

Hallo Kawan Mama,

Pernikahan merupakan langkah bagi seorang pria dengan seorang wanita untuk mengikat hubungan di antara keduanya dalam sebuah ikatan keluarga yang sah secara hukum dan agama. Menikah juga berarti mempersatukan keluarga pria dan keluarga wanita menjadi satu dalam hubungan kekeluargaan. Itu berarti orang tua dari pria (suami) akan menjadi orang tua wanita (istri). sebaliknya, orang tua wanita (istri) juga akan menjadi orang tua bagi sip pria (suami). Dengan begitu, pasangan tersebut akan memilki tanggung jawab baru terhadap orang tua (mertua) barunya.

Selayaknya anak yang berbakti pada orang tuanya, maka ketika telah menikah menantu juga memiliki kewajiban untuk berbakti kepada mertuanya (orang tua dari pasangan). Tentu hal ini perlu di perhatikan dengan cermat. Sebab berbakti kepada mertua sama halnya berbakti kepada orang tua kita sendiri. Bagaimanapun ridho dari orang tua adalah ridho Allah SWT, dan surga Allah SWT adalah ridho dari orang tua. Oleh karena itu, menantu harus berbuat baik dan berbakti serta berhubungan baik dengan sang mertua. Sebab hubungan menantu dengan mertua tentu akan berpengaruh pada hubungan rumah tangganya.

Islam memerintahkan kepada pemeluknya, sebagai anak untuk selalu berbakti kepada orang tua. Hal ini juga berlaku terhadap menantu kepada mertuanya demi terciptanya hubungan yang harmonis dalam berkeluarga. Tentunya sebagai menantu kita mencoba berhati-hati terhadap mertua, dan jangan sampai sikap dan perbuatan yang kita lakukan dapat mendurhakai mertua. Karena hal tersebut dapat membuat hubungan kita menjadi buruk dengan mertua dan menjadi dosa bagi kita sendiri.

Pada kesempatan kali ini, kawan mama akan membahas dosa menantu kepada mertua. Karena pada dasarnya banyak yang tidak tahu dan menyadari bahwa beberapa hal sepele merupakan perbuatan dosa kita kepada mertua. Oleh karena itu, perlu bagi kita sebagai menantu untuk berhati-hati dalam berinteraksi dengan mertua. Berikut adalah penjelasannya.

Dosa Menantu Terhadap Mertua

  1. Tidak Menganggap Mertua

Menikah tidak hanya berarti melakukan ijab Kabul dan hidup dalam keluarga baru sebagai pasangan suami istri. Namun juga berarti bahwa mendapat orang tua baru dan tanggung jawab untuk mengabdi kepada mereka. Oleh sebab itu, penting bagi menantu untuk selalu berhubungan baik dan berbakti kepada mertua. Sebab mertua adalah orang tua dari pasangan kita, yang berarti juga orang tua kita sendiri.  Dengan begitu, maka wajib bagi menantu untuk menganggap dan memperlakukan mertua seperti ia memperlakukan orang tuanya sendiri.

Sekalipun telah menikah, orang tua merupakan tanggung jawab bagi anak-anaknya. Umumnya, anak terakhir adalah harapan orang tua dan bertugas untuk merawat orang tua. Namun sangatlah keliru, sebab kelangsungan hidup orang tua merupakan taggung jawab dari semua anak-anaknya. Maka itu berarti jug bagian dari tanggung jawab kita sebagai menantu dan bagian dari anggota keluarganya. Dan menantu yang mendurhakai mertua sama hal-nya dengan mendurhakai orang tuanya sendiri.

  1. Bersikap Buruk Dengan Mertua

Orang tua merupakan orang yang telah meahirkan dan merawat kita dengan baik sehingga kita bisa tumbuh hingga sekarang dengan sehat. Maka sudah menjadi tugas kita untuk selalu bersikap baik dengan orang tua. Hal ini juga berlaku pada mertua, sebab mertua juga telah merawat pasangan kita sedari kecil hingga sekarang dan bahkan merelakan anak tersayagnya untuk di ambil oleh orang lain. Oleh sebab itu, wajib bagi kita sebagai menantu untuk selalu bersikap baik dan memperlakukan mertua kita dengan sebaik-baiknya.

Berbuat dan bersikao baik kepada mertua sama halnya berbuat baik kepada orang tua kita sendiri. Sebagaimana Allah SWT telah memerintahkan bagi seorang anak untuk berbuat baik dan patuh kepada orang tua. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Isyra’ ayat 23, yang artinya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu. Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkatan ‘ah’. Dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Q.S Al-Isra’ :23)

  1. Acuh Dan Tidak Peduli Serta Enggan Mertua

Seiring berjalanya waktu, setiap orang tua akan mengalami masa senja dan menua, dan tidak jarang dari mereka mengalami sakit. Pada kondisi ini, peran seorang anak sangat di butuhkan untuk merawat orang tuanya, hal ini juga berlaku bagi sang menantu. Mertua adalah orang yang telah merawat membesarkan pasangan kita, selayaknya kita sebagai menantub berterimakasih dan merawat dan memberikan perhatian kita kepada mertua layaknya kepada orang tua sendiri. Sebagaimana fiirman Allah SWT dalam surat Al-Luqman ayat 14, yang artinya.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Al-Luqman : 14)

Dari ayat tersebut dapat di ketahui bahwa tugas seorang anak adalah untuk berbuat baik dan merawat orang tua sebagai bentuk balasan rasa terima kasih atas apa yang telah di lakukan orang tua kita kepada kita, hal ini juga berlaku pada mertua kita. Karena bersikap baik kepada mertua juga nilainya sama halnya berbuat baik kepada orang tua kita sendiri. Dan bersikap baik kepada mertua tentu akan membuat rasa percayanya kepada kita bertambah yang membuat hubungan kita dengan pasangan kita juga menajadi lebih baik.

  1. Menjaga Hubungan Baik Dan Tali Silaturrahim Dengan Mertua

Menjaga hubungan baik dan tali persaudaraan (silaturrhim) dengan sesame merupakan kewajiban kita sebagai umat islam. Hal ini telah di jelaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surat Muhammada ayat 22. Yang artinya,

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa. kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?.” (Q.S Muhammad : 22)

Ketika telah menikah, beberapa dari pasangan suami istri memilih hidup sendiri dan jauh dari orang tua. Namun hal ini tidak dapat menajdi alasan rengganya hubungan kita dengan mertua. Hendaknya sebagai menantu untuk tetap menjaga komunikasi dan hubungan baik dengan mertua sekalipun terkendala jarak yang jauh.

Tidak jarang terjadi hubungan antara menantu dan mertua menjadi buruk lantaran perbedaan pendapat dan car berfikir. Sebagai menantu, hal ini tidak dapat manjadi alasan untuk tidak berhubungan baik dengan mertua. Setidak cocok apapun kita dengan mertua, wajib agi kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan mertua kita. Jangan sampai perkara tersebut menjadikan kita putus hubungan dengan mertua kita. Rasulullah SAW bersabda,

“Orang yang menyambung silaturrahim itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin. Akan tetapi orang yang menyambung silaturrahim ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus.” (Muttafaqun Alaih)

  1. Menghalangi Pasangan Untuk Berbakti Kepada Orang Tua

Pada dasarnya, setelah menikah maka keluarga merupakan hal utama yang perlu di prioritaskan. Namun hal ini tidak membuat kita menjadi lupa dan tidak berbakti kepada orang tua. Berbakti kepada orang tua tetap menjadi kewajiban bagi kita sebagai anak. Bagi seorang istri, hal utama yang perlu di prioritaskan adalah suaminya. maka apabila istri hendak berbakti kepada orang tuanya mak ia harus meminta izin kepada suaminya.

Namun, suami akan berdosa apabila menghalangi istrinya untuk berbakti kepada orang tuanya. Sebaliknya dengan suami, suami memiliki prioritas untuk membaktikan diri kepada orang tuanya. Sebab laki-laki adalah harapan dan penerus keluarga yang menjadikannya memiliki tanggung jawab untu berbakti kepada orang tua sebagai prioritas. Dan tidak ada ha katas istri untuk melarang suami untuk berbakti kepada orang tuanya.

  1. Mengumbar Aib Dan Menjelek Jelek-Jelekkan Mertua

Berbuat baik terhadap sesame adalah perintah yang harus kita laksanakan, terlebih pada keluarga dan mertua kita. Karena berbuat baik dengan mertua akan menjadikan mertua percaya dan membuat hubungan dengan mertua menjadi lebih baik.

Selayaknya orang pada umumnya, setiap dari kita pasti memiliki kekurangan dan aib kita masing-masing. Sebagai menantu, apabila mengetahui aib dari mertua, mak hendaknya kita menutup aib tersebut dengan serapat-rapatnya. Dan jangan sampai kita mengumbarnya ke khalayak umum, dan menjelek-jelekkannya meski setidak suka apapun kita kepadanya. Bukan tidak meungkin dengan menjaga menjaga aib mertua dapat membuat hubungan kita dengan mertua menjadi lebih dekat.

Karena pada dasarnya, mengumbar aib dan menjelek-jelekkan prang lain merupaka dosa besar bagi setiap manusia. Hal ini akan menjadikan kita durhaka pada mertua apabila kita melakukanya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12, yang artinya.

“wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging sudaranya yang sudah mati?. Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah SWT maha penerima tobat dan maha penyayang.” (Q.S Al-hujurat : 12)

  1. Durhaka Pada Mertua

Setiap anak wajib untuk berbakti kepada orang tuanya, karena itu adalah kodratnya sebagai seorang anak. Taat, patuh dan berbuat baik serta hormat adalah hal yang perlu di tekankan dan di amalkan bagi seorang anak kepada orang tuanya. Karena itu merupakan bentuk terimakasih seorang anak kepada orang tuanya yang telah merawat dan membesarkanya dengan berbagai pengorbanan dan penuh kasih sayang.

Sama halnya seperti orang tua kita sendiri, mertua adalah orang yang telah merawat dan membesarkan pasangan kita dengan penuh pengorbanan dan cita kasih. Oleh karena itu wajib bagi kita sebagai menantu untuk berbakti dan taat serta patuh kepada mertua. Hal tersebut sebagai rasa syukur dan bentuk terimakasih kita karena telah merawat dan membesarkan pasangan kita dengan sangat baik. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 24. Yang artinya,

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah. ‘Wahai tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al-Isra : 24)

Penutup

Sebagai seorang anak kita memiliki kewajiban untuk selalu berbuat baik dan berbakti kepada orang tua kita. Hal ini juga berlaku kepada mertua kita, wajib bagi kita sebagai menantu untuk selalu berbakti dan berbuat baik kepada mertua, serta menaruh rasa hormat kita kepadanya. Sebab bagaimanapun mertua adalah orang tua dari pasangan kita yang telah merelakan anaknya kita nikahi. Seperti yang telah di jelaskan di atas, berbakti kepada mertua sama halnya seperti kita berbakti pada orang tua sendiri. Dan jangan sampai kita melakukan hal-hal yang dapat menajdikan kita mendurhakai mertua kita, karena itu sama saja kita mendurhakai orang tua kita. dan tentu balasan bagi anak yang durhaka adalah siksa dari api neraka.

Demikian pembahasan dari Kawan Mama mengenai dosa menantu kepada mertua. Penting bagi seorang menentu untuk selalu berbakti dan menaruh rasa hormat kepada mertua, selalu bersikap dan beruhubungan baik dengannya. Karena itu akan membuat hubungan rumah tangga kita dengan pasangan kita tetap terjaga.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

Pengunjung lain juga mencari:

  • https://kawanmama com/hati-hati-dosa-menantu-terhadap-mertua/
  • Hukum menantu durhaka kepada mertua