Kenali Gejala Kondisi Penyakit Ablasi Retina

Kenali Gejala Kondisi Penyakit Ablasi Retina

Hallo Kawan Mama, Gangguan penglihatan adalah salah satu masalah kesehatan pada mata yang umum dan seringkali di alami kebanyakan orang. Beberapa jenis gangguan penglihatan umumnya tidak akan terlalu berbahaya dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun beberapa kondis tertentu, jenis gangguan penglihtan lainya akan sangat berbahaya bagi penderitanya, seperti halnya dengan penyakit ablasi retina. Keadaan ini pada dasarnya dapat di kenali dengan melihat pada gejala yang muncuk pada kondisi penyakit ablasi retina.

Mata pada dasarnya merupakan salah satu bagian atau organ tubuh yang memiliki fungsi dan peran sangat penting sebagai alat penglihatan. Gangguan pada mata tentu akan membuat penderitanya mengalami kesulitan terutama dalam melakukan aktivitas. Seseoarng yang mengalami ablasi retina umumnya akan mendapati di mana kemampuan penglihatannya menjadi terganggu atau penurunan fungsi dan ketajaman penglihatan.

Kondisi tersebut dapat terjadi secara perlahan atau dengan tiba-tiba sesuai dengan kondisi perkembangan ablasi retina. Dalam kondisi awal munculnya penyakit ablasi retina, umumnya hanya akan menimbulkan gejala-gejala ringan. Namun ketika kondisi ablasi retina memasuki tahap yang lebih serius, maka kondisi ini akan cukup berbahaya. Meski tidak berdampak pada kesehatan tubuh, atau menyebabkan kematian, namun ablasi retina dapat menyebabkan penderitanya mengalami kebutaan secara permanen.

Ablasi retina umumnya dapat terjadi akibat beberapa faktor yang cukup beragam. Seperti halnya ganguan penglihatan berupa mata minus atau rabun jauh, katarak atau bahkan degenerasi macula. Beberapa hal tersebut sangat berkaitan dengan munculnya ablasi retina. Sementara itu, kondisi ini pada dasarnya dapat di kenali dengan melihat beberapa gejala yang muncul. Berikut ini telah Kawan Mama rangkum beberapa informasi mengenai gejala dari kondisi penyakit ablasi retina. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya sebagai berikut.

Pengertian Ablasi Retina

Kenali Gejala Kondisi Penyakit Ablasi Retina

Pada dasarnya, ablasi retina merupakan salah satu dari sekian banyaknya jenis gangguan penglihatan yang sifatnya berbahaya hingga dapat menyababkan penderitanya mengalami kebutaan. Ablasi retina atau dalam istilah medis di kenal dengan istilah retinal detachment adalah kondisi di mana rertina yang ada di mata mengalami gangguan akibat beberapa faktor tertentu. Ketika retina mata mengalami gangguan atau masalah kesehatan maka tentunya kondisi ini akan berdampak pada fungsi penglhatan yang mengalami gangguan atau penurunan.

Retina mata pada dasarnya merupakan bagian dari mata sebagai lapisan yang berbentuk menyerupai selaput tipis yang menempel pada bola mata. letaknya sendiri berada di belakang mata pada bagian terdalam. Selaput tersebut pada dasarnya terdiri dari ribuan sel-sel yang berfungsi sebagai sensor yang peka terhadap cahaya yang masuk ke mata. Cahaya dari objek yag masuk ke mata tersebut pada dasarnya akan masuk keretina untuk di kirimkan kepada otak.

Dalam proses penglihatan sendiri, umumnya cahaya yang masuk ke mata akan melwati kornea ayang akan membiaskannya menuju retina. Kemudian retina memiliki tugas untuk mengubah infromasi visual menjadi sinyal listrik yang nantinya akan melawati macula dan di kirimkan oleh saraf optik menuju ke otak. Sinyal lsitrik yang telah sampai ke otak tersebut kemudian akan di interpretasikan sebagai gambar dari objek yang di lihat oleh mata.

Ablasi retina berupa kondisi di mana retina pada mata yang menyerupai selaput tipis sebagai lapisan yang menempel pada bagian belakang mata mengalami pelepasan. Ketika retina mata terlepas dari bola mata, maka hal ini akan berdampak pada penglihatan yang kian menurun dan terjadilah kebutaan. Pada dasarnya retina memiliki penyokong berupa lapisan koroid yang ada di bawahnya. Lapisan koroid tersebut pada dasarnya kaya akan pembuluh darah sebagai penyedia oksigen dan nutrisi sebagai bagan bakar retina. Lepasnya retina menyebabkan suolai oksigen menjadi terganggu hingga menyebabkan perkembangan ablasi retina.

Seputar Ablasi Retina

Ablasi retina merupakan salah satu jenis penyakit mata dalam kategori berbahaya yang menyebabkan penderitanya mengalami kebutaan. Meskipun usia 50 hingga 60 tahun ke atas adalah usia yang rentan akan mengalami kondisi tersebut, namun kondisi ini juga dapat di alami oleh orang dewasa maupun anak-anak. di lansir dari laman hellosehat menyebutkan bahwa kondisi ablasi retina merupakan maslah kesehatan yang terjadi pada fungsi penglihatan. Kondisi ini bahkan mempenagaruhi 0.6 hingga 1.8 orang per 10.000 atau sekiatr 0,3 pertahhunnya

faktor bertambahnya usia atau kondisi penuaan menjadi penyebab paling umum munculnya kondisi abalsi retina. seseorang yang memasuki usia 50 hingga 60 tahun le atas cenderung lebih mudah mengalami kondisi tertentu, namun kondisi ini juga dapat terjadi akibat beberapa faktor lainya yang sangat beragam, selain itu, kondisi ini umumnya juga lebih mudah di alami oleh kaum pria di bandigkan dengan kaum wanita.

Gejala Penyakit Ablasi Retina

Pada umumnya, ketika kondisi mata megalami ablasi retina maka akan muncul berbagai gejala-gejala yang berkaitan. Mengetahui gejala tentunya merupakan hal yang penting untuk di katahui. Sebab dengan mengetahui gejala yang muncul, maka kamu dapat melakukan langkah penanganan atau pencegahan. Langkah tersebut tentunya perlu di lakukan dengan segera sebelum kondisi ablasi retina semakin parah.

Tidak seperti yang di bayangkan oleh orang pada umumnya atau jenis gangguan penglihatan lainya yang akan menimbulkan adanya rasa sakit. Kondisi ablasi retina biasanya tidak akan menimbulkan rasa sakit. Meskipun demikian, hilangnya fungsi penglihatan dapatterjadi secara tiba-tiba. Apabila kamu merasakan adanya bintik pada mata, floater hingga kilatan cahaya maka kemungkinana besar kamu sedang mengalami ablasi retina tahap awal.

Kondisi ini biasanya akan menyebabkan pandanganmenjadi kabur atau penglihatan yang kian memburuk. Selain itu, adanya semacam bayangan atau tirai yang turun dari bagian atas mata atau melintang dari arah samping. Selain itu, beberapa gejala lainya antara lain sebagai berikut.

  1. Penglihatan Yang Menjadi Terhalang

Biasanya kondisi ini berupa penglihatan pada objek yang terhalang  seperti adanya tirai transparan yang menutup mata akibat keruhnya vitreous oleh penumpukan darah.

  1. Adanya Kilatan Cahaya

Kondisi ini aka mengakibatkan munculnya kilatan cahaya secara mendadak ketika melihat (fotopsia), terutama dalam tempat yang gelap atau cahaya yang redup.

  1. Muncul Floater

Penderita abalsi retina umumnya juga akan merasakan kondisi di mana pada penglihatan muncul adany floater. Floater atau bintik-bintik berukuran kecil tersebut akan seperti melayang-layang ketika mata melihat.

  1. Penglihatan Kabur

Penderita ablasi retina akan mengalami kondisi di mana penglihatan yang menjadi kabur. Hal ini trerjadi akibat adanya pelepasan retina yang membuat focus mata menjadi hilang, sehingga ketajaman penglihatan juga ikut menurun.

  1. Kondisi Mata Yang Terasa Lebih Berat

Pelepasan retona pada bola mata ini akan membuat ketajaman penglihatan menjadi menurun sehingga membutuhkan focus ekstra agar dapat melihat pada objek dengan labih baik.

  1. Kehilangan Sebagian Fungsi Penglihatan

Ablasi retina ini juga dapat terjadi dengan kondisi di mana fungsi penglihatan hanya akan hilang sebagian saja.

Ablasi retina pada dasarany merupakan salah satu gangguan penglihatan atau penyakit mata yang sangat serius dan berbahaya bagi fungsi penglihatan. Sebab kondisi ini dapat menyababkan penderitanya mengalami kondisi di mana fungsi penglihatan yang hilang atau bahkan kebutaan secara permanen. Meskipun demikian, kondisi ini umumnya masih dapat di atasi dengan penanganan medisi sesegera mungkin. Sebab seringkali penanganan yang lambat menyababkan kondisi ablasi retina tidak lagi dapat di perbaiki.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai beberapa gejala yang muncul pada penyakit ablasi retina. dari penjelasan di atas dapat di ketahui bahwa penting untuk mengetahui gejala-gejala ang muncul akibat kondisi ablasi retina. sebab kondisi ini terbilang tidak akan menimbulkan rasa sakit dan membutuhkan penanganan yag cepat untuk dapat memulihkannya.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Allaboutvision
  • Klinikmatanusantara
Penyebab Terjadinya Kondisi Penyakit Ablasi Retina

Penyebab Terjadinya Kondisi Penyakit Ablasi Retina

Hallo Kawan Mama, Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa mata merupakan salh satu bagian dari organ atau anggota tubuh yang memiliki peran penting sebagai alat penglihatan. Pasalnya mata sendiri cenderung memiliki karakter yang sangat sensitive sehingga mudah mengalami gangguan. Beberapa jenis ganggguan mata bahkan di sangat perlu untuk di hindari karena dapat menyebabkan kebutaan, salah satunya adalah seperti penyakit abalsi retina. Selain itu, beberapa faktor dapat menjadi penyebab terjadinya kondisi mata yang mengalami penyakit ablasi retina.

Pada dasarnya ablasi retina merupakan salah satu kondisi medis yang terjadi di mana mata sebagai alat penglihatan mengalami gangguan pada bagian retina. Banyak kasus yang menyebutkan bahwa tidak jarang pasien beerakhir dengan kebutaan yang di akibatkan oleh penyakit tersebut. Karenanya tidak akan mengagetkan bila kondisi ini banyak yang menjauhi dan tidak ingin mengalaminya. Oleh karena itu, pentinhg untuk mengetahui faktot-faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut.

Pada umumnya, seseorang yang mengalami kondisi ablasi retina akan mengalami berbagai gejala pada fungsi hingga ketajaman peglihatannya. Hal yang paling umum terjadi adalah terjadinya penurunan kemampuan penglihatan yang terjadi secara mendadak. Terjadinya kondisi ini tentu tidak terlepas dari beberapa fakto yang menjadi penyebab munculnya penyakit ablasi retina. Nah, berikut Kawan Mama telah merangkum beberapa faktor yang menjadi penyebab mata mengalami kondisi penyakit ablasi retina. Simak penjelasannya sebagai berikut.

Apa Itu Ablasi Retina ?

Penyebab Terjadinya Kondisi Penyakit Ablasi Retina

Sebagaimana yang telah di singgung di atasm bahwa pada dasarnya, ablasi retina merupakan salah satu gangguan atau masalah kesehatan yang terjadi pada retina mata. Penyakit mata yang satu ini atau juga di kenal dengan istilah retinal detachment terjadi berupa adanya pelepasan retina dari bola mata. Kondisi ini merupakan salah satu penyakit mata yang serius di mana kondisi ini dapat menyabakan penderitanya mengalami kebutaan. Bahkan kasus yang terburuk menyebutkan ablasi retina dapat menyebabkan kebutaan secara permanen apabila tidak segera di tangani.

Pada dasarnya retina merupakan selaput atau lapisan tipis yang terletak di bagian terdalam pada area mata bagian belakang. Lapisan tipis tersebut pada dasarnya kaya akan sel-sel yang peka terhadap cahaya yang ada di sekitar dan masuk ke mata. Retina mata ini memiliki fungsi dan peran yang sangat penting dalam proses penglihatan. Seba retina akan bertugas untuk memproses cahaya objek yang masuk dan di tangkap oleh mata. Cahaya objek yang masuk ke mata dan sampai ke retina tersebut kemudian akan di ubah menjadi informasi visual berupa sinyal listrik yang akan di kirimkan ke otak.

Sinyal listrik yang di kirim oleh retina dan sampai ke otak tersebut kemudiana akan di proses oleh otak untuk kemudian di interpretasikan sebagai gambar yang dapat di lihat oleh mata. Ketika retina mata mengaami gangguan, maka secara otomatis kondisi ini akan mempengaruhi kemampuan penglihtan mata. Sebab informasi visual yang ada di retina akan mengalami penghambatan dalam proses pengolahannya menjadi sinya listrik yang akan di kirimkan ke otak.

Retina mata sendiri pada dasarnya di sokong oleh lapisan yang ada di bawahnya yakni berupa lapisan koroid. Lapisan tersebut merupakan lapisan koroid yang kaya akan pembuluh darah yang bertugas untuk menyediakan oksigen dan nutrisi untuk retina. Ketika retina mengalami pelepasan amak suplai oksigen mengalami gangguan dan mempengaruhi fungsi penglihatan. Umumnya, kondisi balasi retina ini dapat terjadi hanya sebagian saja atau terjadi pada area seluruhnya, di mana kondisi ini juga tergantung oleh seberapa besar bagian retina yang terlepas. Sementera itu,

Penderita Ablasi Retina

umumnya kondisi ini seringkali di alami orang dengn usia lanjut atau 50 tahun ke atas. Meski demikian, ablasi retina juga dapat di alami oleh siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Di lansir dari laman hellosehat, menyebutkan bahwa ablasi retina merupakan masalah kesehatan pada fungsi penglihatan di mana kondisi ini telah mempengaruhi 0.6-1.8 orang per 10.000 orang atau sekitar 0,3 % pertahunnya.

Umumnya kondisi yang paling umum di mana seseorang mengalami ablasi retina adalah ketika ia bernjak menua atau memasuki usia 60 hingga 70 tahun ke atas. Meski demikian, kondisi ini juga dapat di alami dan mulai berkembang pada usia 50 tahun. Selain itu, ablasi retina merupakan gangguan penglihatan di mana kaum pria lebih sering atau lebih mudah mengalami kondisi ini di bandingkan dengan kaum wanita.

Penyebab Ablasi Retina

Pada dasarnya, penyebab mata mengalami kondisi ablasi retina umumnya dapat di sebabkan oleh berbagai faktor yang cukup beragam. Seperti mata yang mengalami cedera, peradangan, komplikasi atau luka pasca operasi hingga katarak dan glaucoma atau penyakit mata lainya. Namun pada umumnya, beberapa kondisi tertentu menjadi penyebab umu terjadinya ablasi retina. Yakni anatara lain sebagai berikut.

  1. Adanya Robekan Kecil Pada Bagian Retina

Bagian retina yang mengalami atau terdapat robekan tersebut akan menyebabkan cairan pada bagian tengah pada bola mata atau cairan vitreus dapat merembes masuk. Akibatnya cairan tersebut akan menumpuk pada bagian belakang retina. Penumpukan cairan tersebut akan menjadi penyebab terjadinya seluruh bagian dari lapisan retina yang mengalami pelepasan dari posisi aslinya.

Umumnya, robekan yang di alam oleh bagian retina tersebut, dapat terjadi akibat adanya perubahan jaringan yang di sebabkan oleh faktor bertambahnya usia atau penuaan. Beberapa kondisi seperti orang yang mengidap mata minus atau rabun jauh atau bahkan pernah mengalami operasi katarak memiliki risiko adany robekan pada retinanya. Oleh sebab itu, beberapa kasus ablasi retina dapat terjadi akibat kondisi tersebut.

  1. Terbentuknya Jaringan Parut Atau Tractional

Pada kondisi ini, lepasnya retina terjadi ketika terbentuknya jaringan parut pada permukaan retina. Jaringan parut tersebut, akan mengakibatkan bagian pada lapisan mata tersebut tertarik hingga retina tersebut mengalami pelepasan. Kondisi ini umumnya seringkali di temukan pada penderita diabetes militus. Sebab dalam kondisi tersebut kadar gula darah di dalam tubuh sudah tidak dapat terkontrol lagi.

  1. Adanya Cairan Yang Menumpuk Pada Retina

Dalam kondis tertentu, beberapa cairan dapat menumpuk dan mengendap, bahkan tanpa dadnaya robekan yang terjadi pada retina. Umumnya kondisi ini di sebabkan oleh faktor cedera, tumor, peradangan atau bahkan penyakit degenerasi macula. Selain itu, adanya cairan eksudatif yang mengumpul pada bagian bawah retina juga dapat menyababkan kondisi tersebut. Selain itu, umumnya kondisi ini seringkali di sebabkan oleh adanya benturan berat pada mata, tumor atau uveitis.

Pada dasarnya, penyakit ablasi retina merupakan salah satu gangguan penglihatan yang sangat berbahaya. Dan bahkan kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami hilangnya fungsi penglihatan atau kondisi kebutaan secara permanen. Oleh sebab itu, ablasi retina merupakan salah satu kondisi kesehatan yang perlu untuk di hindari dan di tangani dengan segera apa bila muncul gejala-gejala yang berkaitan. Meskipun umumnya kondisi ini akan terjadi pada usia 50 tahun hingga 60 tahun ke atas, namun beberapa faktor di atas dapat menyebabkan kondisi ini terjadi dengan lebih cepat. Karenanya sebisa mungkin rutin memeriksakan mata untuk mencegah kondisi tersebut.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai beberapa fakto yang menjadi penyabab terjadinya penyakit ablasi retina. Faktor-faktor di atas umumnya merupakan masalah-masalah kesehatan pada fungsi penglihatan yang sangat biasa di alami oleh semua orang. Meskipun terbilang tidak berbahaya, namun nyatanya beberapa faktor tersebut dapat menyebabkan kondisi berbahaya seperti ini. Dengan demikian dapat di katahui bahwa seringan apapun gangguan penglihatan tetap adapat menyebabkan kondisi yang berbahaya bial tidak segera di tangani atau di sepelekan.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Alodokter
  • Klikdokter
Cara Mendiagnosis Kondisi Penyakit Graves

Cara Mendiagnosis Kondisi Penyakit Graves

Hallo Kawan Mama, Setiap orang pada dasarnya memiliki jaringan di dalam tubuh yang berfungsi untuk menjaga kinerja serta fungsi dan kesehatan tubuh yang di sebut dengan system kekebalan tubuh. Jaringan ini akan selalu aktif untuk mengntrol setiap aktivitas yang di lakukan oleh organ tubuh. Namun bagaimana jika system kekbalan tubuh sendiri mengalami masalah kesehatan? Kondisi tersebut akan menyebabkan tubuh mangalami penyakit graves. Kondisi ini umumnya cenderung sulit untuk di kenali sehingga membutuhkan cara untuk mendiagnosis penyakit graves.

System kekebalan tubuh merupakan jaringan yang memiliki peran yang sangat penting di dalam tubuh. Ia juga yang akan berfungsi sebagai stabilitas kondisi organ tubuh. Selain it, system kekebalan tubuh atau autoimun tersebut juga akan menjaga fungsi organ tubuh dari berbagai serangan yang dapat menyebabkan masalah kesehatan. Ketika system kekebalan tubuh itu sendiri mengalami gangguan tentu ini akan berpengaruh terhadap fungsi dan kinerja organ tubuh lainya.

Penyakit graves adalah salah satu penyakit yang muncul dan di sebabkan oleh kondisi tersebut. Umumnya, kondisi ini cenderung lebih sering muncul dan di pengaruhi oleh faktor usia. Seseorang yang beranjak dewasa hingga mulai menua, yakni berkisar pada usai 20 hingga 40 tahun ke atas adalah usia yang paling rawan untuk mengalami penyakit graves. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa faktanya usia anak-anak juga dapat mengalami penyakit graves.

Dalam tahap awal atau kondisi yang masih terhitung ringan, penyakit graves umumnya masih cenderung sulit untuk di kenali. Hal ini di sebabkan karena gejala berupa perubahan pada keadaa organ tubuh yang tidak terlalu berdampak secara signifikan. Pada akhirnya, kondisi ini seringkali di temui ketika penderitanya telah memasuki tahap lebih lanjut atau parah. Nah, berikut ini Kawan Mama akan membahas mengenai cara untuk mendiagnosis kondisi penyakit graves. Berikut adalah penjelasannya.

Pengertian Penyakit Graves

Cara Mendiagnosis Kondisi Penyakit Graves

Pada dasarnya, penyakit graves adalah sebuah salah satu masalah kesehatan yang cukup serius dan akan mengakibatkan berbagai dampak buruk bagi penderitanya. Kondisi ini berupa adanya gangguan atau masalah kesehatan yang terjadi pada autoimun atau system kekebalan tubuh. Gangguan tersebut akan menyebabkan kelenjar teroid yang ada di tubuh menjadi tidak stabil sehingga membuat terjadinya peningkatan dalam memproduksi kelenjar teroid.

Kelenjar teroid yang di produksi dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya atau biasa di kenal dengan istilah hiperteroid ini akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Sebab sebagaimana telah di singgung di atas, bahwa system kekebalan tubuh memiliki fungsi sebagai pengontrol setiap aktivitas yang di lakukan oleh organ tubuh. Karenanya, peningkatan produktivitas teroid ini akan mengakibatkan keseimbangan tubuh menjadi terganggu.

Teroid pada dasarnya merupakan jaringan yang ada di dalam tubuh yang berupa kelenjar yang berbentuk menyerupai kupu-kupu yang terletak pada bagian depan di dalam leher. Kelenjar teroid akan memproduksi teroid yang akan berfungsi untuk membantu mengatur system kekebalan metabolisme di dalam tubuh. Teroid ini juga berperan sebagai pengontrol segala aktivitas dari organ tubuh. Peningkatan jumlah teroid ini akan membuat system kekebalan tubuh mengalami masalah sehingga keseimbangan tubuh menjadi tidak stabil.

Kondisi tersebut umumnya akan mengakibatkan berbagai masalah kesehatan pada berbagai organ tubuh yang berada pada kondisi yang cukup serius. Umumnya kondisi ini akan menyebabkan peningkatan detak jantung yang tidak normal dan stabil seperti pada umumnya, serta tubuh atau tangan yang akan mengalami tremor atau gemetar. Hal ini juga akan berdampak pada struktur mata di mana bola mata cenderung akan lebih menonjol keluar.

Cara Mendiagnosis Penyakit Graves

Dalam upaya untuk mendiagnosis penyakit graves, umumnya dokter akan memberikan pertanyaan seputar gejala dan keluhan terkait penyakit graves yang di alami oleh pasien. Setelah hal itu di lakukan, dokter akan memeriksa tanda-tanda vital pada pasien, termasuk denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh, hinga laju panas. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan kelenjar teroid di leher dan mencari tanda-tanda keberadaan grave’s ophtalmopathy dan grave’s dermopathy.

Selain itu, cara untuk mendiagnosis penyakit graves, dapat melalui beberapa pemeriksaan sebagai berikut.

  1. Pemeriksaan Fisik

Umumnya, dalam metode ini, dokter akan mencari beberapa tanda yang di cari oleh dokter melalui pemeriksaan ini adalah apakah adanya iritasi mata atau bola mata. Sebab, umumnya penyakit graves di tadai dengan adanya kondisi di mana bola mata cenderung lebih menonjol seperti mau keluar dari kelopak mata. Untuk mengetahui hal ini dokter akan melihat apakah terjadi pembesaran pada kelenjar teroid. Selain itu, dokter juga akan memeriksa denyut nadi atau tekanan darah, serta mencari tahu apakah pasien mengalami tremor.

  1. Tes Darah

Tes darah ini di lakukan terutama untuk mengevaluasi kadar hormon peransang teroid atau thyroid-stimulating hormone (TSH). TSH merupakan hormon yang di produksi oleh hipofisis (kelenjar yang terletak di bawah otak. TSH yang di di produksi oleh hipofisis tersebut akan merangsang kelenjar teroid dan kadar hormon teroid. Umumnya, penderita panyakit graves juga memiliki kadar TSH yang lebih rendah dari batas normal dengan kadar hormon teroid yang lebih tinggi.

  1. Tes Laboratorium

Selain metode pemeriksaan di atas, umumnya dokter juga aka menggunakan metode tes laboratprium untuk mengethui kondisi pasien dengan lebih jelas. Pada dasarnya terdapat beberapa tes laboratprium yang dapat di gunakan untuk mengukur kadar antibody yang di ketahui dapat menjadi penyebab terjadinya penyakit graves pada pasien.

Tes-tes tersebut biasanya tidak di perlukan untuk membuat diagnosis, tetapi hasil negative yang mungkin akan menunjukkan adanya penyakit lain yang dapat menyababkan terjadinya hiperteroidisme. Berikut adalah beberapa tes laboratorium yang di lakukan oleh dokter.

    • Uji Serapan Yodium Radioaktif (Radioactive Lodine Uptake)

Pada dasarnya, tubuh membutuhkan yodium untuk membuat hormon teroid tetap ada. Dengan memberikan sedikit ypoduim radioaktif dan kemudian mengukur jumlahnya di dalam kelenjar teroid menggunakan kamera khusus. Maka kemudian dapat di tentukan tingkat pengambilan yodium oleh kelenjar teroid. Jika kelenjar teroid mengambil yodium radioaktif dalam jumlah yang besar, maka kemungkinana besar pasien mengalami penyakit graves.

    • Pemindaian Kelenjar Teroid

Hampir sama dengan tes sebelumnya, tes ini merupakan tes pencitraan pada kelenjar teroid dan juga akan menggunakan dosis yodium radioaktif. Perbedaanya adalah di mana tes ini akan menunjukkan bagaimana serta di mana yodium tersebar pada kelenjar teroid. Apabila pasien menderita penyakit graves maka seluruh kelenjar teroid akan di penuhi oleh yodium. Berbeda dengan kondisi hiperteroidisme lain yang akan menunjukkan pola sebaran yodium yang berbeda pada kelenjar teroid.

    • Ultrasonografi (USG)

Tes laboratorium menggunakan metode pemeriksaan USG dapat menunjukkan apakah kelenjar teroid membesar. Hal ini juga akan sangat berguna pada pasien yang tidak dapat melakukan tes serapan yodium radioaktif seperti kondisi wanita yang sedang hamil.

    • Pemeriksaan Radiologi

Umumnya, beberapa metode pemeriksaan di atas telah di lakukan maka dokter akan mengathui kondisi yang sedang di alami oleh pasien. Namiun apabila setelah beberapa metode pemeriksaan di atas di lakukan namun tak membuahkan hasil yang di iniginkan. Maka mungkin dokter akan meminta untuk melakukan tes pencitraan, seperti menggunakan CT scan atau menggunakan MRI.

Penyakit graves pada dasarnye merupakan kondisi di mana system autoimun atau kekebalan tubuh yang bertugas mengontrol aktivitas oran tubuh serta menjaga ksehatan mengalami gangguan. Umumnya, terjadinya kondisi ini akibat adanya peningkatan produktivitas hormon teroid oleh kelenjar teroid yang akan mengakibatkan berbagai masalah kesehatan. Umumnya kondisi penyakit graves pada tahap awal atau ringam tidak akan menimbulkan gejala atau dampak yang signifikan pada penderitanya. Namun ketika kondisi ini telah memasuki tahap yang serius, maka dapat menyebabkan kondisi yang cukup serius dan berbahaya bagi penderitanya.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai beberapa cara untuk mendiagnosis kondisi penyakit graves. Karena gejala yang di timbulkan terutama dalam tahap awal cenderung tidak akan begitu terlihat, dan gejala yang di timbulkan cenderung sangat beragam (kondisi lebih lanjut). Maka perlu bagi pasien untuk melakukan beberapa pemeriksaan di atas untuk mengetahui atau mendiagnosis penyakit graves.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Sehatq
  • Alodokter
Kenali Tanda Atau Gejala Penyakit Graves

Kenali Tanda Atau Gejala Penyakit Graves

Hallo Kawan Mama, Pernahkah kamu mendengar istilah autoimun? Ya, autoimun atau system kekebalan tubuh merupakan jaringan yang ada di tubuh yang memiliki fungsi untuk mengintrol dan menjaga oragn tubuh agar dapat berfungsi dengan baik. Lalu bagaimana bila sitem kekebalan tubuh tersebut mengalami gangguan, sedangkan ia bertugas untuk menjaga kesehatan organ tubuh? Ketika kondisi ini terjadi maka yang menimbulkan kondisi penyakit graves. Kondisi ini akan menimbulkan beberapa gejala dari penyakit graves.

Seperti yang telah di singgu di atas, bahwa autoimun atau system kekebalan tubuh memiliki fungsi untuk mengontrol dan menjaga kesehatan serta kondisi organ tubuh agar tetap dalam kondisi yang baik. Selain itu, system kekbalan tubuh juga akan berfungsi untuk menjaga kesehatan organ tubuh dari berbagai gangguan, seperti infeksi akibat bakteri, kuman, virus dan sejennisnya. Namun ketika system kekebalan tubuh tersebut mengalami gangguan maka kondisi ini akan mengakibatkan terjadinya penyakit graves.

Penyakit graves adalah salah satu jenis penyakit di mana kondisi ini lebih sering terjadi ketika pertembahan usia yang matang dan menua. Umumnya usia 20 hingga 40 tahun ke atas menjadi usia yang rawan mengalami penyait graves. Meskipun demikian, anak-anak juga tetap memiliki risiko yang membuatnya dapat mengalami penyakit graves. Selain itu, jenis kelamin juga sedikit mempengaruhi, di mana kaum wanita memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami penyakit graves.

Seseorang yang mengalami kondisi penyakit graves umumnya akan mengalami beberapa gejala yang di timbulkan akibat kondisi ini. Gejala yang timbulkan umumnya sangat beragam mulai dari yang biasa hingga sampai kondisi yang berbahaya. Berikut ini Kawan Mama telah merangkum beberapa informasi mengenai tanda atau gejala yang muncul pada tubuh yang mengalami penyakit graves. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya sebagai berikut.

Kondisi Penyakit Graves

Kenali Tanda Atau Gejala Penyakit Graves

Panyakit graves pada dasarnya merupakan masalah kesehatan yang terbilang cukup serius, di mana terjadi gangguan pada sistem autoimun yang ada di dalam tubuh. system autoimun pada dasarnya merupakan jaringan yang berfungsi sebagai media yang akan menghasilkan atau memproduksi hormon teroid. Hormon teroid ini akan memiliki fungsi sebagai pengatur beberapa fungsi  dan kinerja dari organ tubuh.

Penyakit graves ini berupa kelenjar teroid yang bertugas sebagai autoimun mengalami gangguan sehingga tidak dapat memproduksi hormon teroid seperti dalam keadaan normal. Umumnya penyakit graves ini terjadi di mana adanya gangguan pada autoimun yang menyebabkan kelenjar teroid mengalami gangguan sehingga memproduksi hormon teroid yang lebih banyak dari biasanya. Kondisi ini di sebut dengan istilah hiperteroid di mana kondisi ini akan menimbulkan beragam gejala seperti detak jantung yang tidaK normal, tangan dan tubuh yang ge,etar, hingga mata yang lbebih menonjol.

Teroid sendiri pada dasarnya merupakan organ tubuh berupa kelenjar yang berbentuk kupu-kupu yang letaknya ada di bagian depan leher. Pada tempat tersebut, teroid akan di produksi dan berfugngsi untuk membantu mengatur metabolisme tubuh. Selain sebagai mengatur system metabolisme tubuh, teroid juga akan berfungsi mengontrol aktivitas dari organ tubuh. Ketika system atuoimun mengaami gangguan, maka akan berpengaruh terhadapt jaringan tubuh yang lain.

Di lasnir dari laman docdoc, bahwa seseorang yang mengalami penyalit graves, apabila tidak segera di tangani, maka kondisi ini akan menyebabkan risiko di mana penderitanya dapat mengalami komplikasi yang cukup serius. Dalam kasus yang lebih buruk, penderita penyakit graves akan mengalami berbagai masalah kesehatan serta rentan mengalami serangan penyakit dalam rentan waktu yang cukup lama. Bahkan beberapa kasus menyebutkan bahwa penyakit graves dapat menyebabkan penderitanya mengalami kematian.

Gejala Penyakit Graves

Gangguan pada system autoimun tersebut tentunya perlu untuk segera di atas agar tidak menjalar dan menyebabkan masalah kesehatan lainya. Untuk itu, mengetahui gejala-gejala yang muncuk pada kondisi garves merupakan hal yang perlu untuk di lakukan. pada tahap awal, penyakit graves tidaka akn menimbulkan gejala yang signifikan. Hal ini membuat seringkali penderitanya tidak menyadari bahwa ia mengalami penyakit graves.

Umumnya kondisi penyakit graves seringkali baru di sadari ketika kondisi ini memasuki tahap lanjut atau kondisi yang cukup parah. Selain itu, kondisi penyakit graves akan menimbulkan gejala yang cukup beragam. Beberapa gejala yang di timbulkan akibat penyakit graves anatara lain sebagai berikut.

  1. Pembesaran kelenjar teroid yang menyebabkan penyakit gondok
  2. Bagian tubuh yang mengalami tremor yang umumnya di alami oleh jari atau tangan
  3. Palpitasi jantung atau jantung yang berdebar-debar
  4. Detak jantung yang tidak menentu atau aritmia
  5. Perubahan pada siklus menstruasi, seperti haid yang terlambat atau datang terlalu cepat
  6. Mengalami disfungsi ereksi
  7. Berat badan yang menurun akibat hilangnya nafsu makan
  8. Kondisi mood atau suasana hati yang tidak menentu atau mudah berubah
  9. Penrurunan gairah seksual
  10. Mengalami insomnia atau kondisi kesulitan pergi tidur
  11. System pencernaan yang terganggu hingga menyababkan diare
  12. Berdampak pada kondisi rambut yang mengalami kerontokan
  13. Mudah kelelahan
  14. Mudah mengeluarkan keringat
  15. Lebih sensitive terhadap kondisi atau suhu udara yang cenderung lebih panas
  16. Kondisi bola mata yang cenderung lebih menonjol
  17. Gangguan penglihatan seperti pandangan yang kabur atau penglihatan ganda
  18. Kondisi kulit yang memerah dan menebal, terutama pada bagian tulang kering atau puncak kaki
  19. Pergerakan usus yang lebih aktif dari kondisi normal
  20. Kondisi otot yang lemah dan lemas
  21. Sulit untuk hamil
  22. Penurunan libido
  23. Munculnya benjolan di leher

Gejala Lain

Selain beberapa gejala di atas, umumnya seorang perokok yang mengalami penyakit graves akan menimbulkan gejala yang lebih parah, termasuk masalah pada mata. sebab kondisi ini akan mengakibatkan otot dan jaringan yang ada di mata mengalami peradangan. Kondisi ini akan mengakibatkan struktur bola mata menjadi lebih menonjol dari soket mata atau di kenal dengan istilah exophthalmos. Pada dasarnya, belum di katahui secara pasti bagaimana penyait dan komplikasi ini dapat menyerang mata. selain itu, di yakni bahwa tidak ada keterkaitan anatara tingkat keparahan penyait dan seberapa parah penonjolan mata.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai tanda atau gejala penyakit graves. Umumnya pada tahap awal, tanda atau gejala dari penyakit graves cenderung masih ringan sehingga tidak jarang penderitanya tidak menyadari kondisi ini. Namun dalam tahap yang lebih lanjut, gejala dari penyakit ini baru saja akan mulai terasa. Sebelum hal tersebut terjadi, baiknya periksakan dengan rutin kondisi mata untuk mencegah perkembangan penyait graves.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Sehatq
  • Alodokter
Risiko Komplikasi Akibat Penyakit Neuritis Optik

Risiko Komplikasi Akibat Penyakit Neuritis Optik

Hallo Kawan Mama, Neuritis optik adalah salah satu jenis gangguan penglihatan yang sering kali terjadi dan di alami kebanyakan orang. Kondisi ini umumnya akan membuat fungsi penglihatan menjadi menurun , seperti pandangan pada objek menjadi kabur, atau bahkan pandangan menjadi buram. Bahkan seringkali kondisi ini terjadi di sertai dengan rasa nyeri yang datang secara tiba-tiba. Lebih dari itu, risiko komplikasi akibat penyakit neuritis optik juga dapat di alami oleh penderitanya.

Kondisi mata yang mengalami Neuritis optik umumnya adalah salah satu gangguan penglihatan yang pada dasarnya belum di ketahui dengan pasti penyebab utamanya. Namun beberapa hal di kaitkan dan berhubungan dengan kondisi mata yang mengalami neuritis optik. Karena seringkali muncul pada usia 30 ke atas, maka faktor penuaan di anggap menjadi salah satu penyebab utama terjadinya neuritis optik. Namun hal ini tidaklah sepenuhnya benar.

Sebab, beberapa faktor lain juga di kaitkan dan berhubungan dengan terjadinya kondisi neuritis optik. Seperti infrksi bakteri atau kuman, serta beberapa riwayat kesehatan atau kondisi penyakit tertentu juga dapat menyebabkan seseorang mengalami neuritis optik. Selain itu, penggunaan beberapa jenis obat tertentu juga berpotensi menyebabkan seseorang mengalami kondisi neuritis optik. Beberapa hal tersebut umumnya akibat dari gaya hidup yang tidak sehat.

Sementara itu, mata yeng mangalami kondisi neuritis optik, di duga dapat mengalami beberapa kondisi risiko komplikasi akibat penyakit neuritis optik. Meskipun umumnya penyakit neuritis optik hanya berlangsung beberapa waktu saja namun ternayata memiliki risiko komplikasi yang berbahaya. Berikut ini Kawan Mama telah merangkum beberapa informasi mengeneai risiko komplikasi akibat penyakit neuritis optik. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya sebagai berikut.

Kondisi Neuritis Optik

Risiko Komplikasi Akibat Penyakit Neuritis Optik

Pada dasarnya, neuritis optik merupakan kondisi di mana adanya gangguan pada system penglihatan, tepatnya pada saraf optik yang ada di mata. Kondisi saraf optik yang mengalami gangguan akan mengakibatkan fungsi penglihatan menjadi terganggu. Hal ini akan berimbas pada pandangan yang menjadi tidak normal seperti biasanya. Gangguan tersebut berupa adanya peradangan akibat pembengakakan pada saraf optik yang di sebabkan oleh beberapa faktor.

Saraf optik merupakan jaringan yang ada di mata yang memiliki fungsi yang sangat penting di mana ia akan berperan sebagai media untuk mengirirm atau mengantarkan informasi visual ke otak. Informasi visual tersebut adalah hasil dari cahaya objek yang masuk ke mata. Pada dasarnya, proses penglihatan terjadi di mana cahaya objek yang masuk ke mata akan melewati kornea untuk kemudian sampai ke retina.

Retina ini akan berperan untuk mengubahnya menjadi informasi visual yang nantinya akan di kirimkan ke otak. Dan di sinilah peran saraf optik sebagai media yang bekerja untuk mengantarkan atau mengirim informasi tersebut ke otak. Ketika saraf oprik mengalami gangguan maka infomasi visual yang ada di retina akan kesulitan untuk sampai ke otak. Bahkan informasi visual yang ada pada retina tidak dapat sampai ke oatak.

Kondisi ini akan mengakibatkan fungsi penglihatan tidak dapat bekerja dengan baik sehingga menyebabkan pendangan menjadi menurun. Kondisi ini juga akan mengakibatkan ketajaman penglihatan yang ikut menurun. Selain itu, biasanya kondisi ini akan mengakibatkan pandagan yang menjadi kabur dan buram yang mana hal ini akan membuat mata kesulitan untuk mengenali objek yang terlihat. Selain itu, penderita neuritis optik juga akan merasakan rasa nyeri pada mata yang umumnya akan datang secara tiba-tiba.

Penderita Neuritis Oprtik

Pada dasarnya, neuritis optik merupakan salah satu gangguan penglihatan yang sampai saat ini masih belum di ketahui dengan pasti penyebab utamanya. Meski demikian, dalam beberapa penelitian, neuritis optik di kaitkan pada beberapa faktor yang berisiko menyababkan kondisi ini terjadi. Di lansir dari laman hellosehat, neuritis optik merupakan Janis penyakit mata yang lebih mudah terjadi dan di alami oleh kaum wanita di bandingkan dengan kaum pria.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa risiko kuam wanita untuk mengalami neuritis optik lebih tinggi hingga mencapai sekala 3 banding 1 di mana kaum penderita penyakit ini lebih jarang di alami kaum pria. Meskipun demikian, neuritis optik tetap saja perlu untuk di waspadai karena kondisi ini juga dapat di alami oleh kaum pria. Di sisi lain, selaon jenis kelami, faktor usia juga di kaitkan menjadi penyebab seseorang mengalami neuritis optik.

Sebab pada usia-usia remaja hingga orang tua merupakan usia yang rawan mengalami neuritis optik di mana lebih tepatnya pada usia 14 sampai 40 tahun ke atas. Meskipun usia-usia tersebut memiliki risiko yang cukup tinggi untuk mengalami neuritis optik, namun kondisi ini juga dapat di alami oleh usia anak-anak. Bahkan kasus yang terjadi pada anak-anak juga cukup sering terjadi hingga mencapai 60% di mana anak perempuan pada usia 9-10 tahun lebih rentan mengalami neuritis optik.

Komplikasi Akibat Neuritis Optik

Umumnya, neuritis optik akan menyebabkan kondisi atau gejala umum seperti penglihatan yang kabur, pandangan buram atau rasa nyeri yang datang secara tiba-tiba. Selain membuat rasa tidak nyaman, neuritis optik juga menyebabkan penderitanya kesulitan untuk melihat atau mengenali objek yang di lihat olrh mata. Namun ternayata, neuritis optik dapat menyebabkan seseorang mengalami beberapa kondisi komplikasi.

Risiko komplikasi akibat neuritis optik umumnya terjadi karena mata yang mengalami kondisi ini tidak di rawat. Selain itu, perawatan atau penanganan yang salah juga dapat menyebabkan penderita neuritis mengalami risiko komplikasi. Berikut ini adalah beberapa kondisi risiko komplikasi akibat neuritis ooptik. Anatar lain sebagai berikut.

  1. Kerusakan Saraf Optilk

Neuritis optik merupakan kondisi di mana adanya gangguan pada saraf optik yang ada di mata. Umumnya kondisi ini berupa adanya peradangan atau pembengkakan yang di alami oleh saraf optik. Namun ternyata, kondisi neuritis optik ini dapat menyebabkan risiko komolikasi. Yakni saraf optik yang mengalami kerusakan. Bahkan di ketahui bahwa kerusakan pada saraf optik dapat terjadi secara permanen.

Meskipun demikian, biasanya kerusakan pada saraf optik tidak akan menyebabkan gejala yang berbeda pada gejala-gejala yang biasa muncul. Namun tetap saja ketika saraf optik tersebut mengalami kerusakan maka kondisi ini akan berimbas pada fungsi penglihatan yang akan kesulitan untuk melihat pada objek. Dan parahnya lagi kondisi ini juga akan terjadi secara permanen.

  1. Penurunan Ketajaman Visual

Umumnya, neuritis optik hanya akan berlangsung selema beberapa minggu atau bulan. Kondisi ini juga akan sembuh dengan sendirinya, bahkan tanpa menggunakan pengobatan medis sekalipun. Namun hilangnya sebagian warna pada mata merupakan risiko komplikasi yang dapat di alami akibat kondisi neuritis optik. Bahkan beberapa kasus menyebutkan bahwa kondisi tersebut kemungkinan juga akan dapat terus berlanjut.

  1. Risiko Masalah Kesehatan

Selain berimbas pada fungsi penglihatan di mana pandangan menjadi kabur dan buram serta ketajaman penglihatan yang menurun, neuritis optik juga dapat menyebabkan beberapa kondisi medis. Penderita neuritis optik lebih rentan mengalami beberapa jenis penyakit, seperti penyakit deep vein thrombosis (DVT), emboli paru, atau bahkan mengalami ineksi pada saluran kemih.

  1. Risiko Komplikasi Akibat Efek Samping Pengobatan Atau Perawatan

Dalam penanganan penyakit neuritis optik, pasien dapat mengalami beberapa risiko efek samping akibat tidakan medis yang di lakukan. Kondisi ini berpotensi menyebabkan pasien berisiko mengalami komplikasi berupa kortikosteroid. Kondisi ini akan menyebabkan system kekebalan rubuh mangalami penurunan. Akibatnya, kondisi ini akan menyebabkan penderita neuritis optik lebih mudah dan mengalami infeksi.

Selain itu, penggunaan obat steroid yang biasa di gunakan untuk mengobati kondisi neuritis optik juga dapat menyababkan system autoimun atau kekebala tubuh menjadi menurun. Akibatnya berbagai infeksi sangat mudah menyerang organ tubuh, termasuk mata. Kondisi ini juga akan menyebabkan penderitanya mengalami kenaikan berat badan atau mengalami perubahan mood.

Neuritis optik merupakan salah satu gangguan penglihatan yang dapat di alalmi oleh semua orang tanpa terkecuali. Meski dmeikian, kondisi ini lebih rentan terjadi dan di alami oleh kaum wanita. Umumnya kondisi ini hanya akan berlangsung beberapa minggu atau bulan saja, dan akan sembuh dengan sendirinya,bahkan tanpa menggunakan pengobatan medis sekalipun. Namun ternyata, neuritis optik dapat menyebabkan penderitanya mengalami beberap risiko komplikasi akibat kondisi ini. Pada kondisi yang lebih buruk, penderita neuritis optik dapat mengalami keadaan di mana kerusakan pada saraf optik terjadi secara permanen.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai risiko komplikasi akibat penyakit neuritis optik. Meskipun bukan terilang sebagai penyakit yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, neuritis optik dapat menyebabkan penderitanya mengalami berbagai risiko komplikasi yang akan mempengaruhi fungsi penglihatan. Oleh sebab itu, neuritis optik adalah salah satu jenis penyakit yang perlu untuk di waspadai.

Semoga tulisan ini dapat membantudan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Alodokter
  • Halodoc
Obat Alami Mengatasi Kondisi Penyakit Neuritis Optik

Obat Alami Mengatasi Kondisi Penyakit Neuritis Optik

Hallo Kawan Mama, Apakah kamun pernah mendengar atau bahkan sedang mengalalmi kondisi neuritis optik? Neuritis optik adalah masalah kesehatan di mana adanya gangguan penglihatan yang terjadi pada system penglihatan. Umumnya kondisi ini akan mengakibatkan gejala di mana pandangan menjadi buram dan di sertai dengan rasa nyeri yang datang secara tiba-tiba. Jika kamu mendapati kondisi ini sebaiknya perlu di waspadai. Beberapa obat alami di katakan dapat mengatasi kondisi mata yang mengalami penyakit neuritis optik.

Kenapa kondisi neuritis optik perlu untuk di waspadai? Sebab kondisi ini adalah keadaan di mana system penglihatan mengalami gangguan yang akan membuat penglihatan menjadi terganggu dan tidak dapat bekerja dengan maksimal. Neuritis optik umumnya adalah salah satu gengguan penglihatan yang dapat dan seringkali di alami oleh kebanyakan orang. Namun kondisi ini lebih sering di alami oleh seseorang dengan usia 30 tahun ke atas.

Pada dasarnya, belum di ketahui dengan pasti penyebab utama terjadinya kondisi neuritis optik. Beberapa pendapat mengatakan bahwa kondisi ini terjadi akibat faktor penuaan. Namun beberapa faktor lain juga mengatakan bahwa munculnya neuritis optik dapat di sebabkan oleh infeksi bakteri dan kuman, atau bahkan kondisi penyakit tertentu. Di sisi lain penggunaan jenis obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan seseorang mengalami neuritis optik.

Kondisi ini pada dasarnya belum di katahui dengan pasti obat yang tepat dan ampuh untuk mengatasi kondisi ini. Namun beberapa metode seperti penggunaan obat-obatan dan penanganan medis di katakan dapat memperbaiki kondisi ini. Selain itu, ternayata ada beberapa obat alami yang dapat di gunakan untuk mengatasi neuritis optik. Nah, pada kesempatan kali ini, Kawan Mama akan membahas mengenai obat alami untuk mengatasi kondisi penyakit neuritis optik. Simak penjelasannya sebagai berikut.

Apa Itu Neuritis Optik?

Obat Alami Untuk Mengatasi Kondisi Penyakit Neuritis

Pada dasarnya, neuritis optik merupakan salah satu kondisi gangguan penglihatan di mana adanya gangguan yang di alami oleh saraf optik yang ada di mata. Neuritis optik merupakan kondisi di mana saraf optik mengalami peradangan atau pembangkakan yang membuatnya tidak dapat berfungsi dengan baik. Saraf optik sendiri pada dasarnya merupakan jaringan saraf yang bertugas untuk mengirimkan informasi visual dari retina hingga sampai menuju otak.

Ketika saraf optik mengalami gangguan atau peradangan akibat pembangkakan, maka secara otomatis, infomasi visual akan kesulitan atau bahkan tidak akan terkirim ke otak. Kondisi inilah yang di sebut dengan neuritis optik yang akan mengakibatkan munculnya gejala terganggunya fungsi penglihatan, seperti pandangan kabur, buram, ketajaman penglihatan yang menurun, serta timbulnya rasa nyeri yang datang secara tiba-tiba.

Dalam kondisi normal, umumnya proses penglihatan terjadi di mana cahaya objek yang masuk akan di tangkap oleh kornea yang kemudian akan di lewati menuju retina. Retina inilah yang akan merubahnya menjadi informasi visual yang kemudian akan di kirimkan menuju otak. Saraf optik akan bekerja membawa informasi visual dari retina untuk di kirimkan ke otak. Sementara itu, peradangan dan pembangkakan akan membuat saraf optik tidak dapat mengirimkan informasi visual ke otak.

Pasien Neuritis Optik

Neuritits optik umumnya merupakan salah satu gangguan penglihatan yang dapat di alami oleh semua orang. Meskipun demikian, beberapa faktor dapat di kaitkan dengan neuriti optik. Seperti di lansir dari laman hellosehat yang mengatakan bahwa neuriti optik adalah jenis gangguan penglihatan yang umumnya lebih mudah di alami oleh kaum wanita di bandingkan dengan kaum laki-laki. Bahkan perbandingan pasien penderita neuritis adalah 3 banding satu di mana jumlah wanita lebih banyak.

Meskipun wanita lebih berisiko mengalami neuriti optik, namun tetap saja kondisi neuritis optik dapat terjadi dan di alami oleh kaum laki-laki. Karenanya baik kaum wanita maupun laki-laki perlu untuk mewaspadai akan kondisi neuritis optik. Selain itu, faktor usia ternayat juga tidak lepas dari terjadinya kondisi neuritis optik. Remaja, dewasa hingga orang tua atau kalangan usia 14 sampai 40 tahun ke atas merupakan usia yang rawan mengalami neuritis optik.

Meskipun pada kalangan usia tersebut, yakni remaja hingga orang tua memiliki kemungkinan risiko yang lebih besar untuk mengalami kondisi neuriti optik, namun meski jarang terjadi, kondisi ini juga dapat du alami oleh anak-anak. Bahkan kejadian pada anak-anak terjadi hingga mencapai angka 60% di mana anak perempuan dengan rata-rata usia mencapai 9 hingga 10 tahun lebih rawan mengalami neuritis optik.

Obat Alami Untuk Mengatasi Penyakit Neuritis Optik

Pada umumnya, neuritis optik merupakan penyakit yang dapat di alami oleh siapa saja dan dalam keadaan normal, kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Bahkan tanpa menggunakan pengobatan medis sekalipun neuritis optik dapat sembuh dan kembali pulih. Namun perlu untuk di katahui bahwa dalam keadaan tertentu neuritis optik juga perlu penanganan untuk membantu menyebuhkan dari kondisi tersebut.

Selain dengan menggunakan pengobatan medis, ternayata ada juga beberapa cara atau obat alami untuk mengatasi penyakit neuritis optik. Tentunya hal ini juga mudah dan sderhana dan dapat di lakukan di rumah. Berikut adalah beberapac cara atau obat alami untuk mengatasi penyakit neuritis optik.

  1. Mengkonsumsi Susu Kedelai

Susu kedelai atau juga biasa di kenal dengan sari kedelai adalah salah satu bahan konsumsi yang dapat membantu mengatasi kondisi penyakit neuritis optik. Sebab di dalam sari kedelai ini kaya akan kandungan vitamin B1, protein asam glutamate dan lesitin yang tinggi. Kandungan-kandungan tersebut di katahui dapat dengan efektif menyembuhkan neuritis optik. Selain itu, kamu juga bisa mencapmurkannya dengan madu alami untuk mempercepat proses penyembuhan.

  1. Apel

Apel adalah salah satu jenis buah-buahan yang kaya akan manfaat terutama untuk kesehatan mata. ternyata, apel juga dapat menjadi salah satu media untuj mengobati neuriti optik. Banyaknya kandungan vitamin di dalam buah apel, seperti A dan C yang juga berperan sebagai antioksidan akan membantu meredakan peradangan pada saraf optik yang ada di mata. cukup dengan memakannya 2 hingga 3 buah perhari maka kamu akan manfaatnya.

  1. Vitamin B

Makanan yang kaya akan kandungan vitamin B juga menjadi salah satu pilihan baik untuk membantu mangatasi kondisi neuritis optik. Sebab vitamin B akan membantu proses penyembuhan neuritis optik, serta meringankan rasa sakit yang muncuk akibat kondisi ini. Vitamin B dapat kamu temukan pada berbagai jenis ikan laut atau karang serta daging ayam tanpa lemak.

  1. Yogurt

Yogurt adalah salah satu jenis makanan olahan yang kaya akan kandungan vitamin B1 dan B12. Jenis vitamin-vitamin tersebut pada dasarnya merupakan vitamin yang baik untuk kesehatan serta fungsi mata. peradanga pada saraf optik juga akan terbantu proses pemulihannya dengan mengkonsumsi yogurt. Selain itu, bakteri yang ada di yogurt akan berperan sebagai katalis di dalam usus.

  1. Nanas

Kandungan asam esensial di dalam buah nanas merupakan senyawa yang sangat baik dan bermanfaat untuk membantu mengatasi neuritis optik. Selain itu, di dalam nanas juga mengandung vitamin A dan C yang akan bekerja sebagai antioksidan. Kamu dapat mengkonsumsi buah nanas satu gelas perhari dan kemudian akan merasakan manfaat baiknya.

Neuritis optik pada dasarnya merupakan kondisi saraf optik yang ada di mata yang sedang mangalami adanya gangguan. Umumnya hal ini berupa adanya peradangan atau pembangkakan sehingga saraf optik tidak dapat mengirimkan bekerja untuk mengirimkan informasi visual dengan bai ke otak. Akibatnya penglihatan akan menjadi buram, kabur hingga rasa nyeri yang datang secara tiba-tiba. Selain itu, umumnya neuritis optik akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. namun beberapa kondisi tertentu mengakibatkan neuritia optik berlangsung dalam waktu yang lama. Dan meskipun sangat jarang terjadi penyakit ini juga dapat menyebabkan kebuataan.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama menganai obat alami untuk mangatasi penyakit neuritis optik. Umumnya selain akan sembuh dengan sendirinya, beberapa pengobatan medis juga seringkali di lakukan untuk mengatasi kondisi neuritis optik. Namun beberapa hal di atas merupakan cara atau obat alami yan juga dapat di gunakan untuk membantu mengatasi kondisi neuritis optik.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Fimela
  • Halodoc
Cara Mengobati Penyakit Neuritis Optik

Cara Mengobati Penyakit Neuritis Optik

Hallo Kawan Mama, Mata adalah salah satu oragn tubuh yang memiliki peran serta fungsi yang sangat penting sebagai indra penglihataan. Namun beberapajenis pengliahatan seringkali menganggu dan menyerang mata sehingga kinerjanye terganggu dan mengalami penurunan. Salah satu gangguan di mana terjadi kerusakan pada saraf optik yang ada di mata adalah kondisi neuritis optik. Dalam hal ini, ada beberapa cara untuk mengobati jenis penyakit neuritis optik.

Umumnya, kondisi mata yang mengalami neuritis optik lebih sering terjadi dan di alami oleh orang dengan usia lanjut. Sebab bertambahnya usia menjadi salah satu faktor yang di duga penyebab munculnya neuritis optik. Meski demkian berbagai faktor lain juga daoat menyebabkan seseorang mengalami neuritis optik. Selain itu, pada dasarnya kondisi ini juga dapat di alami oleh orang dewasa. Meski jarang terjadi neuritis optik juga dapat di alami oleh anak-anak.

Neuritis optik biasanya hanya akan berlangung sementara atau hanya beberapa hari saja. Kondisi ini juga cenderung akan sembuh denan sendirinya, dan bahkan tanpa menggunakan obat atau pengobatan medis sekalipun. Meski demikian, banyak juga kasus yang menyebutkan bahwa kondisi neuritis optik tidak kunjung membaik bahkan setelah beberapa minggu. Dalam kasus yang lebih parah, bahkan kondisi ini di duga dapat menyebabkan terjadinya kebutaan pada penderitanya.

Berbagai gejala akan muncul akibat kondisi neuritis optik, seperti padangan yang tidak nyaman, objek yang kabur atau padangan buram. Kondisi ini juga akan memuat penderitanya kesulitan melihat dengan baik karena ketajaman penglihatan yang menurun. Karenanya, kondisi neuritis optik bukanlah sesuatu yang baik untuk di sepelkan. Berikut ini Kawan Mama telah merangkum beberapa informasi mengenai cara untuk mengobati penyakit mata neuritis optik. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya sebagai berikut.

Penyakit neuritis optik

Cara Mengobati Penyakit Neuritis Optik

Neuritis optik pada dasarnya merupakan salah satu gangguan penglihatan atau penyakit yang menyerang jaringan yang ada di mata, yakni saraf optik. Ketika saraf optik mengalami gangguan maka kondisi ini akan mempengaruhi fungsi penglihatan. Sebabs araf opti merupakan jaringan yeng berfungsi sebagai pengantar informasi visual dari retina menuju otak. Gangguan pada saraf optik membuat informasi tersebut menjadi keuslitan untuk sampai atau bahkan tidak akan sampai ke otak.

Pada dasarnya, pterjadinya proses penglihatan adalah di mana cahaya atau bayangan dari objek yang masuk ke mata melaulio kornea mata. kemudian cahaya tersebut akan menembus kornea hingg sampai pada retina mata. bagian tengah retina yang di sebut dengan macula ini akan membantu menghantarkan cahaya objek melalui saraf optik menuju ke otak. Ketika salah satunya menalami gangguan maka itu akan berdampak pada penglihatan. Neuritis optik adalah gangguan yang terjadi pada saraf optik.

Saraf optik yang mengalami gangguan umumnya akan terjadi karena adanya peradangan yang di sebabkan oleh pembengkakan akibat faktor-faktor tertentu. Hal ini akan mengahambat proses pengiriman informasi visual menuju ke otak. Alhasil fungsi penglihatan terutama pada ketajaman akan semakin menurun. Bahkan meskipun jarang terjadi, di duga kondisi ini menjadi salah satru faktor yang dapat menyebabkan teradinya kebutaan.

Seputar Neuritis Optik

Di lansir dari laman hellosehat menyebutkan bahwa kondisi mata yang mengalami neuritis optik umumnya lebih mudah di alami oleh kaum wanita di bandingkan dengan kaum laki-laki. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa kaum wanita memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami kondisi neuritis optik di mana 3 untuk wanita berbanding 1 untuk lelaki yang mengalami kondisi ini. Meskipun demikian, kondisi ini juga perlu di waspadai bagi kaum laki-laki.

Selain itu, neuritis optik juga juga lebih banyak di alami oleh pasien dengan rentang usia remaja hingga orang tua, yakni 14 tahun sampai 40 tahun ke atas. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa anak-anak pun dapat mengalami kondisi neuritis optik. Bahkan kondisi ini kejadina pada anak-anak terjadi hingga mencapai 60% di mana nak permepuan dengan rata-rata usia 9 hingga sepuluh tahun. Sementara itu, penderita neuritis optik ini di sisi lain memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kondisi penyakit komplikasi.

Dari data tersebut dapat di ketahui bahwa faktor jenis kelamin dan usia menjadi salah satu faktor yang tidak lepas pada kondisi neuritis optik. Sementara itu, dalam penanganannya, sendiri di katakana bahwa dapat di lakukan dengan cara mengurangi faktor-faktor penyebabnya. Sekalipun kondisi ini pada umumnya akan sembuh dengan sendirinya, namun data lain menyebutkan bahwa neuriti optik dapat kembali terjadi di kemudian hari. Bahkan 1 dar 3 pasien kembali mengalami neuritis optik setelah sempat mengalami kondisi ini.

Cara Mengobati Penyakit Mata Neuritis Optik

Umumnya, dalam kondisi normal, neuritis optik dapat sembuh dengan sendirinya. Namun beberapa kasus menyebutkan bahwa dalam kondisi tertentu, neuritis otik akan berlangsung hingga berminggu-minggu dan menyebabkan komplikasi. Kondisi ini tentunya membutuhkan penanganan agar dapat segera pulih. Sementara itu, cara pengobatannya pun tergantung dengan tingkat keparahan kondisi tersebut.

Berikut adalah cara untuk membantu mengobati penyait neuritis optik.

  1. Obat-Obatan

Penggunaan obat-obatan adalah salah satu metode pengobatan yang umumnya akan di lakukan pada tahap awal. Sebab dalam kondisi tersebut, jenis obat yang di konsumsi akan berpengaruh untuk mengurangi efeksamping dari gejala neuritis optik. Obat yang di konsumsi juga akan meredakan gejala-gejal dan membantu memerbaiki saraf optik yang mengalami kerusakan. Beberapa obat tersebut antara lain, yakni,

    • Jenis kortikosteroid seperti methylprednisolone
    • Imunoglobin intravena (IVIG)
    • Interferon
    • Suntikan vitamin B12
  1. Suntikan Obat Teroid Dengan Dosi Yang Tinggi

Pemberian suntikan obat jenis steroid ini alam membantu memperlambat perkembangan multiple sclerosis yang menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan neuritis optik. Meskipun begitu, obat jenis ini memiliki efek samping pada beberapa orang dalam kondisi tertentu. Seperti seseorang yang mengalami kenaikan berat badan (obesitas), gangguan lambung, insomnia, hingga perubahan suasana hati. Karenanya dalam penggunaanya perlu ada kehati-hatian.

  1. Terapi Penggantian Plasma

Metode pengobatan yang satu ini akan di gunakan ketika konsumsi jenis obat-obatan tidak menimbulkan efek yang baik secara signifikan. Ketika obat-obatan yang sudah di konsumsi tidak membuahkan hasil, maka dokter akan menyarankan untuk melakukan metode terapi penggantian plasma. Terapi penggantian plasma akan di lakukan untuk membantu memperbaiki kerusakan pada saraf optik, serta memaksimalkan penglihatan.

Neuritis optik pada dasarnye merupakan masalah kesehatan berupa gangguan penglihatan yang terjadi pada saraf otik yang ada di mata. Gangguan pada saraf optik ini akan membuat infornmasi visual dari beyengan objek yang ada di retina akan keuslitan atau bahkan tidak sampai ke otak. Akibatnya, fungsi penglihatan akan terganggu sehingga menurun dan memnyebabkan berbagai gejala yang menjadi keluhan penderitanya. Pada dasarnya, pengobatan yang tepat pada neuritis belum di katahui dengan pasti karena penyebabnya yang juga belum di ketahui dengan pasti. Namun beberapa penelitian menyeubtkan bahwa beberacap cara di atas dapat membentu memulihkan dari kondisi tersebut.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai cara mengobati penyakit mata neuritis optik. Meskipun umumnya kondisi neuritis optik hanya akan berlangsung sebentar dan akan sembuh dengan sendirinya, namun kondisi ini perlu untuk tetap di waspadai. Sebab beberapa komplikasi bisa saja terjadi akibat neuritis optik.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Halodoc
  • Alodokter
Cara Mencegah Kondisi Neuritis Optik

Cara Mencegah Kondisi Neuritis Optik

Hallo Kawan Mama, Neuritis optik adalah salah satu jenis gangguang penglihatan yang juga seringkali di alami oleh kebanyakan orang. Kondisi ini umumnya lebih sering di alami oleh dorang dengan usia 40 tahu ke atas. Namun beberapa kasus menyebutkan bahwa kondisi ini juga dapatd di alami oleh orang dengan usia 30 atau bahkan 20 tahun ke bawah. Sementara itu, beberapa cara di ketahui dapat mencegah perkembangan kondisi neuritis optik.

Kondisi ini merupakan salah satu gangguan penglihatan yang umumnya seringkali menjadi keluhan terutama pada golongan lansia. Sebab, pada usia tersebut dengan system metabolisme dan produktivitas organ tubuh yang sudah tidak lagi baik tentu sangat mudah mengalami berbagai masalah kesehatan. Neuritis optik merupakan salah satu masalah kesehatan pada fungsi penglihatan yang seringkali muncul pada usia-usis tersebut.

Umumnya kondisi ini lebih sering muncul dan di alami hanya pada satu mata saja. Namun meskipun dalam sekala yang cenderung lebih sedikit, neuritis optik juga dapat di alami oleh kedua mata. Selain itu, biasanya kondisi mata yang mengalami neuritis optik juga akan berlangsung tidak lama dan hanya beberapa hari saja. Namun beberapa penelitian menyebutkan bahwa neuritis optik dapat di alami dan menyebabkan ganggua penglihatan secara permanen.

Mata yang mengalami kondisi neuritis optik umumnya akan mengalami berbagai gejala yang membuat rasa tidak nyaman hingga menganggu fungsi penglihatan. Seperti adanya rasa nyeri dan pegal pada mata, serta ketajaman penglihatan yang kian menurun. Meskipun jarang terjadi, dalam kasus yang terburuk, neuritis optik dapat menyebabkan kebutaan. Untuk itu, berikut ini Kawan Mama telah merang beberapa informasi mengenai cara untuk mengatasi kondisi neuritis optik. Yakni sebagai berikut.

Neuritis Optik

Cara Mencegah Kondisi Neuritis Optik

Neuritis optik pada dasarnya merupakan salah satu masalah kesehatan berupa gangguan penglihatan di mana ada yang tidak normal pada saraf optik di mata. Saraf optik merupakan salah satu jaringan yang ada di mata yang memiliki fungsi penting dalam proses penglihatan. Yakni sebagai media yang akan menyalurkan informasi visual dari retina. Sedangkan retina sendiri bertugas untuk menerima cahaya objek yang masuk melalui kornea mata.

Pada dasarnya proses terjadinya penglihatan adalah cahaya objek yang masuk melalui kornea mata yang akan di salurkan menuju retina. Kemudian retina akan menganalisa atau merubahnya menjadi informasi visual yang nantinya akan di salurkan oleh macula yanga terletak pada bagian tengah retina menuju otak. Dalam hal ini, saraf optik yang akan berperan sebagai media untuk menghantarkan informasi tersebut menuju otak untuk di baca atau rangsang sehingga mata dapat melihat informasi visual tersebut.

Ketika salah satu dari oragan atau jaringan tersebut mengalami masalah atau gangguan, maka itu akan berdampak pada kinerja system penglihatan. Dalam hal ini, neuritis optik merupakan kondisi di mana jaringan saraf yang bertugas mengantarkan informasi visual ke oatak mengalami gangguan. Yakni umumnya terjadi pembengkakan yang mengakibatkan peradangan pada saraf optik. Akibatnya informasi visual akan sulit atau bahkan tidak dapat sampai ke otak.

Kondisi tersebut akan membuat system penglihatan terganggu, sehingga ketajaman penglihatan menjadi menurun. Selain itu, perdangan akibat pembangkaka tersebut akan membuat gejal-gejala lain yang tentunya mengganggu dan membuat tidak nyaman bagi penderitanya. Selain itu, meskipun kondisi ini umumnya akan berlangsung hanya beberapa hari saja, namun kasus yang terburuk menyebutkan bahwa neuritis dapat tejadi secara permanen atau bahkan menyebabkan penderitanya mengalami kebutaan.

Penderita Neuritis Optik

Neuritis optik merupakan salah satu ganggun penglihatan yang pada dasarnya cukup umum dan sering terjadi. Di lansir dari laman hellosehat bahwa kondisi neuritis optik lebih banyak di temukan pada kaum wanita di bandingkan dengan kaum laki-laki. Bahkan dari data yang di temukan risiko neuritis optik berupa perbandingan 3:1 di mana kaum wanita lebih rawan mengalami kondisi ini. Selain itu, kondisi ini lebih banyak terjadi pada pasien dengan rentang usia 14 hingga 40 tahun ke atas.

Dari data tersebut bisa di ketahui bahwa kondisi neuritis lebih banyak dan rentan di alami oleh orang dewasa dan orang dengan usai lanjut. Namun tentunya hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi ini juga dapat di alami oleh usia anak-anak. Bahkan kejadian anak-anak terjadi hingga 60% pada anak perempuan pada rata-rat usia 9 – 10 tahun. Pasien yang mengalami gangguan pada satu sisi memiliki risiko lebih tinggi terhadap risiko tanda-tanda dan gejala koplikasi dini.

Pada dasarnya, kondisi neuritis optik dapat di tangani dengan cara mengurangi faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi ini. Selain itu, penting untuk di katahui bahwa meskipun cenderung terjadi, namun kondisi ini dapat muncul kembali di kemudian hari. Bahkan sekitar 1 dari 3 orang yang mengalami neuritis optik kembali mengalami kondisi ini setelah pulih dari kondisi neuritis yang pernah di alami.

Faktor Risiko Neuritis Optik

Umumnya kondisi neuritis optik lebih sering di kaitkan dengan kondisi multiple sclerosis dan neuromyelitis optik yang di anggao menjadi penyebab terjadinya neuritis optik. Sebab kedua kondisi tersebut sangat erat kaitanya dengan kondisi saraf optik yang ada di mata. Namun beberapa faktor lain ternayat memiliki risiko yang dapat menyebabkan seseorang mengalami neuritis optik. Sebagaimana yang telah di singgung di atas, bahwa salah penanganan yang tepat adalah dengan mengetahui faktor risiko penyebab neuritis optik.

  1. Infeksi

Infeksi memang menjadi penyebab paling umum terjadinya gangguan penglihatan termasuk neuritis optik. Namun infeksi di sini juga termasuk dalam kondisi kesehatan lainya, seperti infeksi bakteri, penyakit lyme, sifilis. Selain infeksi akibat bakteri inveksi virus juga memiliki peran kan kondisi ini, yakni seperti campak, gondongan, dan juga penyakit herpes.

  1. Riwayat Penyakit

Selain penyakit yang di sebabkan oleh bakteri dan virus di atas, beberap penyakit lain di duga menyababkan terjadinya neuritis optik. Seperti, sarcoidosis, dan lupus yang bahkan dapat menyebabkan terjadinya neuritis optik secara berulang.

  1. Penggunaan Obat-Obatan

Penggunaan obat-obatan juga di kaitkan dengan terjadinya neuritis optik. Seperti obat-obatan jenis antibiotic.

  1. Mutase Genetik

Mutase genetik juga di katikan dan di anggap sebagai salah satu faktor yang berisiko menyebabkan neuritis optik. Selain itu, mutase genetik juga dapat menyebabkan kondisi multiple sclerosis yang juga dapat menyebabkan kondisi neuritis optik.

Cara Mencegah Kondisi Neuritis Optik

Pada dasarnya sampai sekarng belum di ketahui bagaimana cara yang tepat dan pasti sebagai metode untuk mencegah terjadinya kondisi neuritis optik. Sebab hal ini tidak lepas dari penyebab utamanya yang juga belum di katehui dengan pasti. Namun, biasanya kondisi neuritis optik akan sembuh dengan sendirinya atau bahkan tanpa menggunakan pengobatan medis. Namun tidak jarang juga kondisi ini akan bertambah menjadi semakain parah.

Untuk itu, beberapa cara di anggap dapat menjadi pilihan untuk mengurangi efek samping serta dampak neuritis optik. Selain itu, cara pencegahan juga ei makudkan untuk mencegah atau paling tidak memperlambat perkembangan neuritis optik atau bahkan mempercepat proses penyembuhan dan pemulihannya. Berikut adalah beberapa cara sebagai langkah untuk mencegah kondisi neuritis optik.

  1. Rutin Memeriksakan Mata Ke Dokter

Neuritis optik adalah penyakit atau gangguan pada penglihatan yang di kaitkan oleh infeksi akibat bakteri atau virus, serta kondisi penyakit tertentu. Oleh sebab iru, pemeriksaan mata dengan ruitn perlu untuk di lakukan agar pasien dapat mengetahui dengan pasti akannkondisi yang sedang di alami oleh mata. dengan begitu, pasien juga akan dapat segera melakukan langkah pencegahan ketika mengetahui adanya gangguan pada penglihatan, termasuk neuritis optik.

  1. Konsumsi Obat Sesuai Resep Dari Dokter

Pada seseorang yang mengalami kondisi neuritis optik, umumnya dokter akan menyarankan atau memebri resep obat untuk di konsumsi. Seperti obat-obatan golongan beta interferon yang akan berfungsi untuk menunda atau memperlambat, serta mencegah terjadinya multiple sclerosis. Sebab sebagaimana telah di jelaskan di atas bawha multiple sclerosis adalah salah satu kondisi yang dapat menyebabkan neuritis optik.

  1. Mengkonsumsi Buah Sirsak Dan Manggis

Mengkonsumsi buah sirsak dan manggis dapat mencegah neuritis optik? Buah sirsak dan manggis pada dasarnya merupakan buah-buahan yang mengandung berbagai zat-zat baik yang akan bekerja untuk memperbaiki kerusakan pada saraf. Hal ini senada dengan terjadinya neuritis optik di mana saraf optik mengalami gangguan. Maka dengan mengkonsumsi buah tersebut di harapkan kandungan di dalamnya juga dapat melindungi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi pada saraf optik.

  1. Terapkan Gaya Hidup Sehat

Gaya hidup sehat merupakan salah satu bahasan yang sedang di gaungkan oleh kebanyakan orang. Sebab dengan menerapkan gaya hidup sehat, tentu akan berefek baik terhadap kesehatan tubuh. Namun seringkali kita tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Karenanya, untuk mendapatkan tubuh yang sehat, maka gaya hidup sehat haruslah benar-benar di lakukan dengan sungguh-sungguh.

  1. Menghindari Melakukan Kebiasaan Buruk

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kebiasaan buruk meupakan salah penyebab utama munculnya berbagai masalah kesehatan. Beberapa kebiasaan buruk seperti kebersihan yang kurang atau ketik menyentuh mata dengan tangan yang kotor dan tidak di cuci, serta faktor melihat atau membaca yang tidak baik dan juga merokok. Hal-hal tersebut merupakan kebiasaan buruk yang akan berdampak pada mata sehingga berbagai jenis gangguan pada mata dapat terjadi.

Neuritis optik pada dasarnya adalah salah satu kondisi gangguan penglihatan atau penyakit mata di mana pada saraf optik yang ada di mata mengalami gangguan. Kondisi ini berupa adanya peradangan atau pembengkakan yang membuat fungsi dari saraf optik untuk menghantarkan informasu visual dari retina menuju otak menjadi terhambat atau bahkan tidak bisa terjadi. Kondisi ini akan menyebabkan kemampuan serta ketajaman penglihatan manjdi menurun, serta menyebabkan gejala yang tidak nyaman. Meskipun beum di ketahui dengan pasti penyebabnya, namun beberapa faktor seperti riwayat penyakit atau infeksi bakteri dan virus di duga turut andil pada kondisi ini.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai beberapa cara untuk mencegah kondisi neuritis optik. Meskipun belum di temukan dengan pasti cara untuk mencegah terjadinya kondisi neuritis optik, namun dengan mengetahui penyebab serta melakukan cara-cara di atas memungkinkan kondisi neuritis optik untuk dapat di kurangi atau bahkan mencegah pertumbuhannya. Sebagai catatan, sebaiknya lakukan cara-cara di atas setelah berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah penanganan yang tidak tepat.

Semoga tulisan ini dapat memabntu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Alodokter
  • Klikdokter
Ini Dia Cara Mendiagnosis Kondisi Mata Neuritis Optik

Ini Dia Cara Mendiagnosis Kondisi Mata Neuritis Optik

Hallo Kawan Mama, Pernahkah kamu mendengar istilah atau kondisi neuritis optik? Atau mungkin kamu merupakan salah satu penderita atau pernah mengalami kondisi tersebut? Ya, neuritis optik merupakan salah satu masalah kesehatan yang berupa adanya kondisi gangguan penglihatan. Seseorang di katakana mengalami kondisi ini apabila mengalami gejala-gejala yang berkaitan. Sementara itu, selain dari gejala-gejala yang muncul, ada beberapa cara untuk mendiagnosis kondisi mata yang mengalami neuritis optik.

Umumnya, neuritis optik merupakan salah satu jenis gangguan penglihatan yang umumnya muncul ketika seseorang menginjak usia 30 hingga 40 tahun ke atas. Hampir mirip dengan jenis gangguan penglihatan lainya seperti degenerasi macula dan lainya yang juga muncul akibat faktor penuaan. Meskipun demikian, penyebab utama sehingga mata bisa mengalami kondisi neuritis optik masih belum di temukan dengan pasti.

Neuritis optik biasanya akan menimbulkan gejala di mana penderitanya akan merasa kesulitan melihat apalagi dengan normal, serta membuat mata menjadi tidak nyaman. Selain itu, umumnya kondisi ini hanya akan muncul dan di alami hanya pada satu mata saja, sedangkan mata yang lainmasih tetap normal. Mata yang mengalami kondisi neuritis optik, umumnya juga hanya akan berlangsung sementara dan akan sembuh dengan sendirinya.

Untuk mengetahui kondisi ini, pada dasarnya dapat di lakukan dengan melihat dan memperhatikan pada gejala-gejala yag muncul. Namun beberapa pemersiksaan medis di lakukan sebagai pilihan atau cara untuk mendiagnosis kondisi neuritis optik dengan lebih jelas. Pada kali ini, Kawan Mama akan membahas mengenai beberapa cara untuk mendiagnosis kondisi mata yang mengalami neuritis optik. Dengan melakukan metode tersebut, maka kamu akan benar-benar mengetahui kondisi serta langkah untuk menanganinya. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya sebagai berikut.

Kondisi Neuritis optik

Cara Mendiagnosis Kondisi Neuritis Optik

Mata yang mengalami kondisi neuritis optik pada dasarnya merupakan sebuah kondisi di mana adanya peradangan yang di alami oleh saraf optik atau nervus optikus. Nervus optikus merupakan jaringan saraf yang memiliki fungsi yang sangat penting agar mata dapat melihat dengan baik. Yakni sebagai jalur atau media yang memiliki tugas untuk mengirimkan informasi visual dari retina menuju ke otak. Sebab cahaya dari objek akan masuk melalui kornea menuju retina yang kemudian akan di bawa oleh saraf otpik menuju otak.

Pada kondisi yang normal, saraf optik akan dengan mudah mengirmikan informasi visual dari retina menuju otak. Hal ini akan membuat apa yang di lihat oleh mata dapat di rangsang oleh otak sehingga akan memvisualisaikan objek yang telah terlihat oleh mata. Namun ketika terjadi sebuah ganggauan atau masalah, terutama pada saraf optik, maka informasi visual tersebut secara otomatsi akan kesulitan di terima oleh otak, atau bahkan tidak bisa di sampaikan ke otak.

Kondisi ini tersebut akan mengakibatkan fungsi penglihatan menjadi terganggu sehingga penderita kondisi ini tidak dapat melihat dengan baik atau normal. Meskipun kebanyakan penderita neuritis optik hanya mengalami kondisi ini pada satu mata, namun tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi ini dapat terjadi pada dua mata. Selain itu, meski kondisi ini lebih umum untuk sembuh dengan sendirinya , bahkan tanpa penanganan medis, namun beberapa kasus menyebutkan bahwa kondisi ini dapat terjadi secara permanen.

Cara mendiagnosis neuritis optik

Umumnya kondisi mata yang mengalami neuritis optik dapat di ketahui dengan memperhatikan gejala-gejala yang muncul. Namun tentu tidak banyak yang benar benar memahami gejala-gejala kondisi tersebut. Karenanya pemeriksaan medis atau diagnosis adalah salah satu cara yang tepat untuk mengetahui dengan lebih jelas apabila mata mengalami kondisi neuritis optik.

Diagnosis kondisi neuritis optik biasanya dapat di tentukan dari wawancara medis yang mendetail, pemeriksaan fisik mata secara langsung dan pemeriksaan penunjang tertentu. Sebagai awal langkah pemeriksaan, umumnya dokter akan memenanyakan seputar gejala yang di alami oleh pasien. setelah itu, barulah dokter akan melakukan langkah pemeriksaan sebagai uapaya untuk mendiagnosi kondisi yang sedang di alami oleh mata.

  1. Pemeriksaan tajam penglihatan

Dalam metode ini, umumnya dokter akan meminta pasien untuk melihat pada objek berupa tulisan atau angka yang di letakkan pada jarak tertentu dan menyebutkannya. Dengan melakukan metode ini, maka dokter akan mengetahui dengan pasti kondisi yang sedang di alami oleh mata.

  1. Pemeriksaan lapang pandang

Tes lapang pandang di lakukan sebagai upaya untuk membantu dokter agar dapat mengetahui kemampuan mata pasien. dengan begitu, dokter akan mengetahui kemampuan pasien untuk melihat objek yang ada di tepi lapang pandang. Pemeriksaan ini dapat di lakukan dengan berbagai motode, seperti dengan metode manual atau dengan menggunakan alat khusus.

  1. Tes reaksi pupil terhadap cahaya

Pada pemeriksaan ini, biasanya dokter akan menyinari mata dengan senter untuk melihat respons pupil terhadap cahaya yang terang. Pupil pasien penderita neuritis optik umumnya tidak akan mengecil sekecil pupil mata yang sehat jika di sinari oleh cahaya yang terang.

  1. Oftalmoskopi

Pemeriksaan oftalmoskopi adalah sebuha metode pemeriksaan yang di lakukan dengan menggunakan alat bernama oftalmiskop. Metode ini di lakukan dengan tujuan untuk memeriksa lempengan saraf optik. Apabila lempengan tersebut mengalami pembengkakan, maka kemungkinan besar pasien mengalami neuritis optik. Metode ini akan membantu dokter untuk menyinari mata dengan cahaya, sehingga dapat melihat strutur bagian dalam pada mata pasien.

  1. Pemeriksaan optikal coherence tomography (OCT)

Sebagai upaya untuk mendiagnosis kondisi mata yang mengalami neuritis optik, dokter juga akan menggunakan metode pemeriksaan optikal coherence tomography atau OCT. Pemeriksaan ini di lakukan untuk memeriksa ketebalan serabut saraf retina.

  1. Tes visual evoked response

Metode ini merupakan metode pemeriksaan yang akan di gunakan oleh dokter untuk mengetahui dan menilai kecepatan aliran listrik pada saraf optik. Sebab pada dasarnya kecepatan aliran listrik menandari kondisi dari keinerja saraf optik itu sendiri. Serabut saraf optik umumnya lebih tipis dari orang normal dan aliran listriknya cenderung akan melambat.

  1. Tes darah

Selain pemeriksaan di atas, terutama pada bagian mata atau saraf optik, dokter juga akan melakukan pemeriksaan berupa tes darah. Metode ini di lakukan sebagai pemeriksaan tentang kemungkinan adanya neuromyelitis optika pada penderita neuritis optik. Caranya adalah dengan mendeteksi keadaan antibody yang ada di dalam darah.

  1. Pemindaian dengan menggunakan MRI (magnetic resonance imaging)

Pemeriksaan dengan menggunakan metode pemindaian menggunakan MRI juga akan di lakukan untuk mengetahui kondisi mata. Biasanya dokter akan menyuntukkan cairan pewarna kontras sebelum prosedur MRI. Cairan ini akan menerangi saraf-saraf yang adadi mata, serta bagian lain pada otak agar dapat terlihat lebih jelas pada foto X-ray. Pemeriksaan ini juga di lakukan untuk menentukan area kerusakan pada otak yang menjadi penyebab terjadinya multiple sclerosis.

Neuritis optik pada dasarnya merupakan kondisi di mana adanya gangguan pada saraf optik yang ada du mata. gangguan tersebut mengakibatkan pembangkakan dan peradangan yang membuat kinerja saraf optik menjadi terganggu dan tidak normal. Akibatnya, informasi visual yang ada di retina tidak dapat di kirimkan menuju otak. Kondisi ini akan mengakibatkan pandangan menjadi buram di serrtai gejala-gejala yang membuat tidak nyaman. Meskipun umumnya berlangsung hanya sementara, namun tidak menutup kemungkinan bawha neuritis optik dapat terjadi secara permanen. Karenanya kondisi ini perlu untuk di waspadai dan melakukan penanganan yang tepat apabila kondisi ini terjadi.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai beberapa cara untuk mendiagnosis kondisi mata yang mengalami neuritis optik. Untuk mengetahui kondisi mata yang mengalami neuriti optik, umumnya kamu dapat melihat dari gejala-gejala yang muncul. Namun beberapa pemeriksaan di atas di sarankan untuk edi lakukan untuk mengetahui kondisi dengan lebih jelas dan pasti.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat.

 

 

 

 

Sumber :

  • Sehatq
  • alodokter
Kenali Gejala Dari Kondisi Neuritis Optik

Kenali Gejala Dari Kondisi Neuritis Optik

Hallo Kawan Mama, Ketika berbicara mengenai faktor penuaan, maka hal tersebut pasti tidak lepas dari beberapa kondisi terkait masalah kesehatan. Beberapa masalah kesehatan memang cenderung mudah di alami ketika usia beranjak menua, salah satunya adalah gangguan penglihatan atau penyakit mata. Salah satu jenis gangguan penglihatan atau penyakit mata dalam hal ini sering kali muncul adalah neuritis optik. Kondisi ini dapat di kenali dengan melihat pada gejala – gejala yang muncul akibat neuritis optik.

Neuritis optik memang merupakan salah satu gangguan penglihatan atau penyakit mata yang di kaitkan dengan faktor bertambahnya usia. Sebab kondisi ini memang umumnya sering kali muncul ketika seseorang menginjak usia 30 tahun ke atas. Namun beberapa kasus menyebutkan bahwa mata yang mengalami kondisi neuritis optik juga dapat muncul pada usia 20 tahun. Meskipun demikian, pada dasarnya, belum di kathui dengan pasti penyebab kenapa mata bisa mengalami kondisi neuritis optik.

Meskipun demikian, banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kondisi ini terjadi akibat beberapa faktor di mana faktor tersebut berisiko menyebabkan neuritis optik. Selain itu, umumnya kondisi ini juga lebih mudah di alami oleh orang yang tinggal di tempat atau dataran tinggi. Namun neuritis optik juga dapat di alami oleh seseorang yang tinggal di tempat atau dataran rendah. Neuritis optik juga di kaitkan pada jenis kelami di mana wanita memiliki risiko yang lebih tingg untuk mengalami neuritis optik di bandingkan dengan kaum pria.

Umumnya kondisi ini akan bermpak pada penglihatan yang menjadi tidak berfungsi dengan normal. Berbagai gejala akan muncul dan menjadi keluhan bagi penderitanya. Namun kondisi ini pada dasarnya dapat di ketahui dengan melihat gejala-gejala yang muncul. Berikut ini Kawan Mama telah merangkum beberapa informasi mengenai gejala dari mata yang mengalami kondisi neuritis optik. Berikut adalah penjelasannya.

Neuritis Optik

Kenali Gejala Dari Kondisi Neuritis Optik

Neuritis optik pada dasarnya merupakan salah satu kondisi gangguan penglihatan di mana adanya peradangan yang di alam oleh nervus optikus. Nervus optikus sendiri merupakan saraf optik yang memiliki fungsi dan peran yang sangat penting yang akan mengirimkan sinyal informasi visual yang telah masuk ke mata ke otak. Pada dasarnya cahaya dari objek akan masuk ke mata dan di tangkap oleh kornea yang kemudian di salurkan menuju retina.

Setelah cahaya yang masuk sampai pada retina, maka saraf optik tersebut akan berperan untuk mengantarka infomasi visual dari retina menuju ke otak. Dengan begitu, informasi yang masuk ke otak membuat penglihatan menjadi jelas. Namun apabila saraf optik mengalami gangguan maka kondisi ini tentu akan menyebabkan informasi visual yang sudah ada di retina tidak akan sampai dengan baik ke otak.

di lansir dari laman sehatq, Umumnya kondisi ini hanya akan di alami oleh satu mata saja di mana mata yang lain tetap dalam keadan nomal. Kondisi tersebut juga merupakan ciri khas dari mata yang mengalami neuritis optik. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi ini juga dapat di alami oleh kedua mata. Selain itu, kondisi neuritis yang di alami oleh mata umumnya hanya akan berlangsung sementara dan tidak membutuhkan penanganan medis. Namun bebebrapa kasus menyebutkan bahwa kondisi ini dapat berlangsung lama, bahkan terjadi secara permanen.

Kondisi ini juga di katikan dengan terjadinya kondisi multiple sclerosis yang merupakan penyakit yang juga dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan pada saraf yang ada di otak dan juga saraf tulang belakang. Selain itu, umumnya terjadinya kondisi multiple sclerosis juga merupakan indikasi awal neuritis optik. Pada kondisi ini maka seiring berjalannya waktu akan membuat kondisi ini berkembang dan menyebabkan neuritis optik.

Gejala Neuritis Optik

Mata yang mengalami kondisi neurtitis optik umumnya akan menimbulkan gejala yang cenderung berbeda-beda anatara satu pasien dengan pasien lainya. Namun kebanyakan dari kasus yang terjadi, seseorang yang mengalami neuritis optik akan akan mengalami gejala yang seringkali muncul yakni rasa nyeri pada mata, terutama saat di gerakkan. Kondisi ini umumna hanya di alami oleh satu mata saja sedangkan mata yang lain masih tetap nomal.

Kondisi ini umumnya akan memburuk hanya dalam beberapa hari atau bahkan beberapa jam saja. selain itu, biasanya kondisi ini cenderung bersifat akut dan sub-akut di mana perkembangan gejalanya bisa terjadi dalam beberapa hari hingga 2 minggu. Selain itu, umumnya neurits juga di kaitkan dengan beberapa gejala lainya. yakni sebagai berikut.

  1. Penurunan Penglihatan Pada Satu Masa

Selain adanya rasa nyeri, neuritis optik juga akan mengakibatkan kondisi di mana penurunan pada fungsi penglihatan. Kondisi ini biasanya hanya akan terjadi hanya pada satu mata saja. sedangkan mata lainya tetap normal. Sebagian besar individu juga mengalami hal setidaknya penurunan fungsi penglaihatan hingga setidaknya penurunan daya lihat sementara. Meskipun demikian, umumnya kondisi ini cenderung bersuhu berebeda perindividu di mana serajat pernuruna juga akan berbeda-beda.

  1. Penurunan Lapang Pandang

Mata yang mengalami neuritis optik akan mengalami kondisi di mana adanya penurunan lapang pandang. Penurunan lapang pandang tersebut umumnya terjadi dengan pola yang tidak menentu.

  1. Penurunan Daya Lihat Warna

Mata yang mengalami neuritis optik juga dapat mempengaruhi persepsi warna. Penderita neuritis optik biasanya dapat merasakan bahwa warna yang di lihat tidaklah tampak seterang seperti sebelumnya.

  1. Kilatan Cahaya

Kilatan cahaya juga menjadi salah satu gejala yanh seringkali di keluhkan oleh penderita neurotos optik. Umumnya kilatan cahaya akan muncul dengan adanya pergerakan pada bola mata.

  1. Penurunan Pada Ketajaman Penglihatan

Penurunan pada ketajaman penglihatan yang umumnya akan di alami penderita neuritis optik dan akan berlangsung selama 7 hingga 10 hari atau bahkan lebih.

  1. Gejala Lain

Selain beeberapa gejala di atas, umumnya neuritis juga akan memungkinkan penderitanya mengalami gejala-gejala lainya. yakni seperti,

    • Penglihatan kabur
    • Kesulitan melihat kesamping
    • Adanya rasa sakit saat menggerakkan mata
    • Adanya rasa sakit pada bagian belakang kepala
    • Munculnya sebuah lubang pada bagian tengah penglihatan
    • Seperti melihat sorotan atau kedipan cahaya
    • Kesulitan melihat warna terang hingga seolah warna terang berubah menjadi gelap
    • Demam
    • Ruang padang menajdi menyempit atau penglihatan tepi menjadi terlihat tidak jelas

Neuritis optik pada dasarnya merupakan kondisi di mana saraf optik mengalami pembangkakan yang mengakibatkan terjadinya peradangan. Kondisi ini akan menganggu kinerja saraf optik yang memiliki fungsi dan peran untuk mengirimkan informasi visual yang telah masuk ke retina menuju otak. Akibatnya kondisi ini akan membuat penderitanya mengalami berbagai gejala yang menganggu dan membuat tidak nyaman sebagaimana telah di samapikan di atas. Umumnya, kondisi ini akan membaik dan sembuh dengan sendirinya bahkan tanpa pengobatan medis sekalipun.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai beberapa gejala yang muncul akibat mata mengalami kondisi neuritis optik. Meskipun pada umumnya kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya, namun tidak jarang juga kondisi ini menjadi bertambah parah. Karenanya, penitng untuk memeriksakan kondisi mata, terutama ketika ada gangguan atau gejala yang tidak normal.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Klikdokter
  • hellosehat