Beberapa Dosa Mertua Terhadap Menantu

Beberapa Dosa Mertua Terhadap Menantu

Hallo Kawan Mama, Pernikahan merupakan salah satu momen penting dan kebahagiaan yang terjadi dalam hidup setiap orang. Karena selain menjadi langkah menunaikan perintah ibadah. Menikah juga berarti menyatukan hubungan antara laki-laki dan wanita menjadi satu ikatan suami istri yang di anggap sah. Namun menikah tidak hanya menyatukan hubungan antara laki-laki dan wanita menjadi satu, namun juga menyatukan kedua keluarga baik dari laki-laki maupun perempuan. Dan dalam hal ini, mertua juga memiliki tanggung jawab baru terhadap menantunya. Bahkan akan menjadi sebuat dosa bagi mertua apabila tidak menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap sang menantu.

Hubungan yang baik antara suami dan istri tentu menjadi dasar sebuah rumah tangga dapat berjalan dengan baik dan langgeng. Namun tidak jarang terjadi masalah-masalah yang menimpa sebuah keluarga yang dapat mengganggu keharmonisan hubungan suami dan istri. Dan kadang masalah-masalah tersebut malah datang dari orang-orang terdekat, seperti keluarga kita atau bahkan orang tua kita.

Peran orang tua mertua dalam hubungan rumah tangga anak dan menantunya tentu mempunyai dampak yang sangat krusial. Karena setiap pandangan, perkataan dan perbuatan yang ia lakukan orangtua mertua kepada rumah tangga anaknya tentu akan mempengaruhi hubungan rumah tangga anak dan menantunya. banyak kasus terjadi dimana pernikahan yang akhirnya berakhir dengan perceraian akibat campur tangan dari orang tua mertua suami istri. kadang kala mertua dan menantu mempunyai perbedaan cara berfikir atau pandangan yang membuat keduanya tidak cocok, yang akhirnya membuat rumah tangga anak dan menantu beujung dengan perceraian. Tentu hal ini merupakan perbuatan yang salah, sebab perceraian adalah ahal yang di benci oleh Allah SWT.

Pada kesempatan kali ini, Kawan Mama akan membahas mengenai hal yang dapat menjadi dosa bagi mertua kepada menantunya. Pada dasarnya, setelah ijab nikah berlangsung, maka seketika itu juga mertua juga menjadi orang tua dari sang menantu. Dengan begitu hubungan di antara keduanya perlu di jaga dengan baik. Berikut adalah penjelasannya.

Dosa Mertua Kepada Menantu

Dosa Mertua Terhadap Menantu

  1. Menuntut Dan Memaksa Menantu Agar Sesuai Dengan Keinginan Mertua

Setiap dari orang tua pasti mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk dalam mendapatkan pasangan hidup. Orang tua pasti akan melakukan apapun dan mengaharapkan anaknya agar mendapat pasangan yang baik dan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Tentunya hal ini merupakah hal yang wajar, dan merupakan bentuk cinta kasihnya kepada sang anak. Namun hal ini tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang di harapkan.

Karena pada hakikatnya, setiap manusia lahir dengan kodrat karakter yang berbeda-beda, dengan kakurangan dan kelebihannya masing-masing. Dan tidak selamanya harapan untuk mendapat menantu yang sesuai dengan apa yang kita harapkan dapat terwujud sesuai dengan apa yang kita minta. Oleh sebab itu, sikap ikhlas dan lapang perlu di tekankan dalam diri kita. Tugas seorang orang tua mertua hanya untuk mengarahkan dan membimbing anak dan menantunya agar tidak melakukan kesalahan yang dapat membuat dampak buruk pada keluarganya.

Tidak ada hak bagi mertua untuk menuntut dan memaksa menantunya agar sesuai dengan apa yang ia harapkan. Karena setiap orang memiliki cara berfikir dan langkah hidupnya masing-masing yang sudah di tentukan oleh Allah SWT. Yang perlu mertua lakukan adalah mengarahkan menantunya untuk melakukan hal yang baik, memberi nasihat dan mendoakan kebaikan agar rumah tangga anak dan menantunya dapat berlangsung dengan baik dan berjalan dengan semestinya. Mertua yang memkasa menantunya agar sesuai dengan keinginannya malah akan menjadi sebab maslah-masalah yang timbul dalam rumah tangga anaknya yang akhirnya akan berujung pada perceraian. Baiknya, mertua harus menaruh rasa percaya pada menantunya dan berserah diri pada Allah, serta mendoakan yang terbaik bagi anaknya. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya.

“Allah mencatat takdir setiap mahluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (H.R Muslim)

  1. Terlalu Ikut Campur Dalam Rumah Tangga Anaknya

Sebagai pasangan suami dan istri dalam sebuah rumah tangga yang baru, tentu perlu adanya bimbingan dan arahan oleh orangtua mertua. Pasalnya orangtua mertua tentu lebih berpengalaman akan hal-hal yang menyangkut rumah tangga. Oleh karena itu anak dan menantu tentu perlu untuk di bimbing dan di arahkan agar rumah tangganya dapat berjalan dengan baik. Namun sadar atau tidak, mertua sering kali terlalu ikut campur dengan rumah tangga anaknya.

Pada dasarnya, ketika anak telah menikah maka tugas orangtua mertua terhadap anak menantu telah selesai. Dan segala sesuatu yang terjadi dalam rumah tangga tersebut sudah merupakan tanggung jawab penuh oleh anak dan menantunya. Orang tua mertua tidak  di perbolehkan masuk keranah tersebut dengan sesuka hatiya. Mertua hanya dapat turun tangan apabila anak menantu menantunya meminta bantuan kepadanya untuk di bantu.

Tentunya setiap orangtua mertua mempunyai batasan dan ruang anak menantu yang tidak boleh ia sentuh masuki seenaknya saja. Namun ia tetap memiliki kewajiban untuk mengingatkan dan memberi nasihat yang baik untuk anak dan menantunya. Karena campur tangan dari mertua yang berlebihan dapat membuat menantu merasa tidak di hargai sebagai dalam keluarganya sendiri.

  1. Merendahkan Menantu

Menikah tentu merupakan jalan bagi seorang laki-laki dan wanita untuk mendapatkan kebahagiaan dalam sebuah hubungan rumha tangga. Dan setiap awal dari berjalannya sebuah rumah tangga tidak semuanya akan berjalan dengan lancar dan mulus. Pastinya ada saja kendala-kendala yang mengganggu jalannya rumah tangga yang di sebabkan oleh kurangnya pengalaman atau hal lain sebagainya.

Sebagai orang tua, pasti mengharapkan agar mendapat menantu yang baik dan sesuai dengan harapannya. Namun tidak selalu dari apa yang di harapkan oleh kita dapat terkabul begitu saja. Kadang mertua mendapati menantu yang kurang sesuai dengan apa yang ia harapkan. Dan hal ini bisa menjadi sebab mertua tidak senang terhadap menantunya. Padahal setiap dari menantu adalah pasangan dari anaknya, yang berarti menantu juga telah menjadi anaknya. maka dari itu, perlu bagi mertua untuk menerima menantunya dengan ikhlas dan lapang dada.

Pada hakikatnya, setiap orang lahir dan tumbuh dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing yang sudah di tentukan oleh Allah SWT. Dan setiap insan dengan beberapa kekurangan maka ada beberapa kelebihan pula dalam dirinya. Tugas mertua adalah untuk mendukung dan memotivasi menantunya dengan sepenuhnya, dan berdoa yang terbaik bagi anak dan menantunya.

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, tidak terkecuali mertua atau bahkan menantu. Apabila menantu melakukan kesalahan, maka sudah menajdi kewajiban bagi mertua untuk menasihatinya agar dapat memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya lagi. Akan menjadi dosa apabila mertua malah merendahkan dan menjelek-jelekkan menantu atas kesalahan yang telah di perbuat. Tentu hal tersebut dapat membuat menantu menjadi malu dan sakit hati dan bukan tidak mungkin hal tersebut dapat berdampak pada hubungannya dengan pasangannya.

Mertua juga memiliki tugas untuk merahasiakan aib menantu ataupun anaknya. Bukan malah mengumbar dan menjelek-jelekannya di muka umum. Karena hal tersebut murni merupakan penghinaan bagi menantunya yang akan membuat ia sakit hati kepada sang mertua.

Bagaimanapun pribadi seorang menantu, wajib bagi mertua untuk mendukung dengan apa yang menantu lakukan, karena hal itu pasti bertujuan untuk membahagiakan pasanganya. Tugas mertua kepada menantunya, hanya sekedar mengingatkan, menasihati, membimbing dan membantu menantu jika di minta olehnya. Batasan-batasan tersebut sebaiknya di patuhi dan tidak di sentuh, dan dukungan dari mertua tentu menjadi motivasi bagi sang menantu untuk menjadi lebih baik lagi.

Penutup

Mertua adalah seorang orang tua biasa yang pastinya mengharapkan agar anaknya mendapat pasangan hidup yang dapt bertanggung jawb dan membahagiakannya. Karena bagaimanapun kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua. Mertua memiliki batasan-batasan di mana ia tidak boleh terlalu ikut campur dalam rumah tangga anak dan menantunya. setiap orang pasti memiliki karakter yang berbeda, apabila orang mertua mendapati menantu yang tidak sesuai dengannya, maka tugasnya adalah menerima dengan lapang dan ikhlas. menantu tentu perlu do’a dan bimbingan serta dukungan dari mertua sebagai tambahan dorongan motivasi baginya dalam menajalankan rumah tangganya agar berjalan dengan baik. Allah Berfirman Dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 23, yang artinya.

“dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu. Dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lekaki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin maka Allah akan menkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) dan maha mengetahui.” (Q.S An-Nur : 32)

Demikian pembahasan dari Kawan Mama mengenai dosa mertua kepada menantu. Kunci dari keluarga bahagia adalah terjaganya hubungan komunikasi dan interkasi yang baik antar suami dan istri, serta dengan orang tua dan keluarganya dengan baik.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Topmedia
Kewajiban Mertua Terhadap Menantu Dalam Islam

Kewajiban Mertua Terhadap Menantu Dalam Islam

Hallo Kawan Mama, Menikah adalah jalan bagi pasangan laki-laki dan wanita dalam menjalankan ibadah yang telah di perintahkan oleh Allah SWT. Dengan menikah, maka pasangan laki-laki dan wanita sudah sah untuk hiudp besama dan terhindar dari perbuatan zina. Ketika telah melangsungkan pernikahan, dengan maksud menyatukan laki-laki dan wanita menjadi pasangan suami dan istri. Juga menyatukan dua keluarga yang berbeda dalam satu ikatan kekeluargaan di mana hal ini membuat sang mertua (orang tua dari pasangan) memiliki kewajiban terhadap sang menantu.

Setelah menikah, maka seorang suami dan istri akan hidup dalam sebuah rumah tangga yang baru. Suami juga akan mendapat orangtua baru dari sang istri. dan sebaliknya, istri juga akan mendapat orangtua baru dari sang suami. Oleh karena itu, penting bagi seorang menantu untuk bersikap baik dab berbakti kepada mertuanya. Sebab, mertua adalah orangtua dari pasangan kita yang rela melepaskan anak tersayangnya untuk kita pinang. Mereka yang telah merawat dan membesarkan pasangan kita sampai sekarang. Dan sudah menjadi kewajiban menantu untuk membalas kebaikan mertuanya dengan baerbakti kepada mertuanya.

Berjalanya sebuah hubungan rumah tangga menantu tentu tidak lepas dari peran orangtua dan mertua. Karena mertua pasti akan punya andil dan saling berinteraksi dengan menantunya. Tentu hubungan baik antara menantu dan mertua perlu di tekankan agar rumah tangga dari menantu dapat berjalan dengan semestinya. Dalam sebuah rumah tangga dari menantu dan anaknya, mertua tentu memiliki kewajiban-kewajiban yang perlu ia tunaikan kepada anak dan menantunya. Hal ini bertujuan agar rumah tangga anaknya dapat berjalan dengan baik.

Pada tulisan lalu Kawan Mama telah membahas mengenai kewajiban seorang menantu terhadap mertua. Dan pada kesempatan kali ini Kawan Mama akan membahas mengenai kewajiban mertua kepada menantunya. Berikut adalah penjelasannya.

Kewajiban Orangtua Kepada Menantu

Kewajiban Mertua Terhadap Menantu Dalam Islam

  1. Memberi Kasih Sayang

Dalam Al-Qur’an Allah telah memerintahkan umat-Nya untuk saling menyanyangi antar sesama umat. Allah SWT berfirman dalam surat Maryam ayat 96, yang artinya/

“sesungguhnya orang yang beriman dan beramal saleh akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang.” (Q.S Maryam : 96)

Dari ayat tersebut, dapat di ketahui bahwa sebagai umat Islam wajib bagi kita untuk saling mengasihi antar sesama. Seorang mertua memiliki kewajiban untuk memberikan cinta kasihnya kepada menantu selayaknya anaknya sendiri. Sebab menantu adalah pasangan sah dari anaknya yang nantinya akan melahirkan dan menjadi keturunan serta penerusnya. Oleh sebab itu wajib bagi mertua untuk selalu menyayangi menantunya.

Hubungan mertua dan menantu tentu menjadi bagian penting dari berjalannya rumah tangga, sebab ketika hubungan mertua dan menantu buruk maka tentu hubungan rumah tangga menantunya juga dapat terganggu. Baiknya sebagai mertua baiknya menyadari bahwa menantunya adalah sebaik-baiknya jodoh dari anaknya yang telah di pilih oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, mertua wajib menyayangi menantunya layaknya ia menyayangi anaknya sendiri.

  1. Hubungan Yang Baik

Sebuah hubungan yang baik anatara mertua dengan menantu tentu menjadi faktor penting agar rumah tangga anaknya dapat berjalan dengan baik. Pasalnya, banyak kasus terjadi di mana hubungan mertua dan menantu yang tidak baik yang kemudian mengganggu jalannya rumah tangga sang menantu yang berakhir pada perceraian. Perlu untuk di sadari oleh mertua, bahwa kodrat dari setiap manusia lahir dan tumbuh dengan karakter yang berbeda-beda. Dan jika mertua mendapat menantu yang tidak sesuai dengan harapan atau beda pemikiran dengannya, maka ia wajib untuk menerimanya dan tetap memberikan cinta kasihnya.

Tidak selamanya rumah tangga sang anak tinggal serumah dengan orangtuanya, maka orangtua perlu memberi perhatian lebih kepada anak dan menantunya. Mertua juga dapat sekali-kali berkunjung kerumah menantu, menyapa, menanyakan kabar dan melihat cucu-cucunya. Tentu hal tersebut akan membuat hubungan antara menantu dan mertua menjadi lebih dekat dan harmonis.

  1. Memberi Nasihat Dan Petuah

Sebagi orangtua, tentu lebih paham dan mempunyai segudang pengalaman kehidupan yang dapat ia ceritakan dan ajarkan pada menantunya. Hal tersebut dapat menjadi bekal bagi menantu dalam menjalankan rumah tangganya agar dapat berjalan dengan semestinya. Tentunya sebagai orang yang lebih muda, menantu perlu di bimbing dan di arahkan dalam urusan rumah tangga, baik dalam Agama, atau hal-hal lainya.

Mertua juga dapat membantu menantunya seperti mengajari memasak, mengajari cara merawat bayi, mengajari cara menjadi imam yang baik dan hal lain sebagai bekal menjalankan rumah tangga menantu. Dengan mengajari menantu sesuatu hal yang baik, maka ilmu dari mertua dapat bermanfaat dan dapat menjadi amal jariyahnya kelak.

  1. Tidak Terlalu Ikut Campur Dan Mengekang Menantunya

Pada dasarnya, setelah sang anak menikah, maka tanggung jawab dari orangtua kepada anaknya akan terlepas dan berpindah kepada menantunya. Dan tentunya dalam menjalankan rumah tangga, setiap insan memiliki cara masing-masing. Dan sebagai mertua tidak di perbolehkan untuk mengatur dan memaksa rumah tangga anaknya agar sesuai dengan keinginannya. Hal ini tentu akan mengganggu dan membuat tidak nyaman rumah tangga anak dengan menantunya.

Tidak jarang terjadi, mertua merasa lebih tahu tentang kehidupan yang pada akhirnya terlalu ikut campur dan memaksa rumah tangga anaknya agar sesuai dengan kemauannya. Hal ini tentu merupakan hal yang salah sebagai mertua. Peran dan tugas mertua hanyalah mengarahakan dan memberi nasihat kepada anak dan menantunya di dalam berumah tangga. Sehingga anak dan menantu tidak akan merasa terkekang dan merasa aman karena perhatian yang di berikan oleh sang mertua.

  1. Menghargai Dan Menghormati Menantu

Menghargai dan memnghormati sesama adalah sebuah kodrat dari sesama manusia agar tercipta hubungan yang harmonis. Hal ini juga berlaku pada mertua kepada menantu. Meskipun menantu jauh lebih muda darinya, mertua tetap wajib untuk menghormati menantunya. Ia dapat memerlakukan menantuinya dengan perlakuan yang baik, memberikan perhatian, memberi nasihat dan hal baik lainya sebagai tanda hormatnya kepada menantu.

Setiap dari apa yang di lakukan menantu tentu perlu di apresiasi oleh sang mertua, terlebih jika itu sebuah bentuk baktinya kepada mertuanya. Sebab, seorang menantu pastilah ingin selalu terlihat baik dan berguna serta bermanfaat bagi mertuanya. Meskipun hal yang di lakukan oleh menantu terkesan sepele, namun wajib bagi mertua untuk menhargai hal tersebut selama hal tersebut adalah hal yang baik.

  1. Tidak Pilih Kasih

Pada dasarnya, setiap menantu merupakan pasangan dari anak kita, maka dari itu menantu juga berarti anak kita. Dan tidaklah baik bagi mertua apabila memberikan perlakuan yang berbeda dengan anak-anaknya, atau bahkan dengan menantunya yang lain. Berbuat adil dan memperlakukan menantu tanpa tanpa membeda-bedakan adalah tugas yang harus di lakukan oleh mertua kepada menantunya. Sekalipun menantu memiliki tidak seusai dengan apa yang ia harapkan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 90, yang artinya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan keoada kerabat. Dan Allah melarang perbuatan keji serta permusuhan.” (Q.S An-Nahl : 90)

  1. Menutup Aib/Keburukan

Pada hakikatnya, tidak ada manusaia yang lahir dengan sempurna, karena kesumpurnaan hanya milik Allah SWT semata. Tidak jarang terjadi bahwa mertua mendapat menantu yang tidak seusai dengan apa yang ia harapkan dan kadang mempunyai kekurangan. Sesekali manantu juga bisa melakukan kesalahan-kesalahan.

Dan perang seorang mertua adalah mengarahkan dan membimbing menantu agar tidak melakukan kesalahan-kesalahan lagi. Mertua juga harus merahasiakan apa yang menjadi aib bagi kelurga anaknya dan jangan sampai mengumbarnya atau bahkan menjelek-jelekkannya. Sebab itu merupakan perbuatan tercela dan dosa baginya sendiri.

  1. Menjadi Contoh Dan Teladan

Setiap orangtua pasti menjadi figure bagi setiap anak-anaknya dan hal ini juga berlaku bagi mertua. Setiap langkah dari sang mertua tentu akan menjadi perhatian bagi sang menantu yang nantinya akan ia terapkan dalam kehidupan rumah tangganya. Oleh sebab itu, mertua mempunyai tanggung jawab untuk menjadi contoh dan teladan yang baik bagi anak dan menantunya.

  1. Membantu Dan Mengarahkan

Tugas dari orangtua lainya adalah memabantu rumah tangga sang anak dan menantu agar dapat berjalan dengan semestinya. Sebab orangtua pasti memiliki pengalaman yang lebih dalam berumah tangga jika di bandingkan dengan anak dan menantunya. Anak dan menantu tentu belum berpengalaman dalam mengahdapi tugas dan kewajibannya dalam berumah tangga. Sehingga peran orangtua/mertua sangat di butuhkan dalam rumah tangga anak dan menantunya.

Selain membantu,mertua juga memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengajarkan anak dan menantunya untuk belajar hidup mandiri sebagai pasangan suami istri dalam berumah tangga. Tentu hal ini dapat menjadi bekal bagi keduanya dalam menjalankan bahtera rumah tangganya. Terlebih karena ketika orangtua/mertua telah meninggal, maka keduanya harus dapat menghadapi permasalahan rumah tangganya sendiri.

  1. Mengingatkan Dan Mengajarkan Ilmu Agama

Tugas dan kewajiban orangtua kepada anaknya antara lain juga mengajarkan anaknya ilmu Agama. Hal ini juga berlaku bagi mertua kepada menantunya, karena menantu adalah pasangan hidup dari anaknya. Maka selayaknya ia mengajarkan ilmu Agama pada anaknya, ia juga wajib mengajarkan ilmu pada menantunya. Karena hal tersebut tentu akan berdampak baik pada keluarg anak dan menantu di masa mendatang.

Selain mengajarkan ilmu Agama, mertua juga memiliki kewajiban untuk mengingatkan pada menantunya. seperti halnya ketika menantu lalai dengan tugas dan kewajibannya pada pasangannya. Atau lalai terhadap Agama dan tuhannya, maka hal tersebut merupakan hal penting bagi seorang mertua. Hal-hal baik yang di ajarkan kepada anak dan menantu tentu akan menjadi bekal bagi mereka berdua dalam menajalankan rumah tangganya.

Pada dasarnya, seorang menantu adalah seseorang asing yang telah menjadi menantunnya ketika ia telah menikah dengan anaknya. Hal tersbut juga berarti bahwa ia telah menjadi anaknya dan merupakan bagian dari keluarga besarnya. Maka dari itu, mertua memiliki kewajiban-kewajiban yang harus ia tunaikan kepada menantunya. Karena hal ini dapat akan berdampak pada kelangsungan hidup rumah tangga anaknya dengan menantu, serta kelangsungan hidup cucu-cucunya.

Demikian pembahasan dari Kawan Mama mengenai Kewajiban Mertua Kepada Menantunya. menantu adalah pasangan dari anak mertua, oleh sebab itu mertua perlu memperlakukan menantu selayaknya ia memperlakukan anaknya sendiri.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • DalamIslam
Kewajiban Menantu Terhadap Mertuanya Dalam Islam

Kewajiban Menantu Terhadap Mertuanya Dalam Islam

Hallo Kawan Mama, Setiap mahluk hidup di ciptakan oleh Allah SWT dengan berpasang-pasangan, termasuk dengan manusia. Menikah adalah sala satu perintah dari Allah SWT sebagai jalan ibadah dan mendekatkan diri bagi setiap manusia. Maka dari itu setiap laki-laki dan wanita di perintahkan untuk melangsungkan pernikahan apabila telah memenuhi syarat dan rukunnya. Perintah untuk melangsungkan pernikahan tidak lain untuk mengikat hubungan antara laki-laki dan wanita dalam sebuah ikatan yang sah dan menghindari dari perbuatan zina. Tujuan lain dari menikah yaitu untuk mendapatkan keturunan sebagai penerus keluarga dan sebagai penerus umat ber-Agama. Dan ketika telah menikah nanti, menantu ada kewajiban bagi seorang menantu terhadap mertuanya yang juga telah menjadi orang tuanya.

Ketika telah melangsungkan pernikahan, maka suami dan istri akan hidup dalam keluarga baru. Artinya, suami akan menjadi bagian dari keluarga sang istri, dan istripun akan menjadi anggota keluarga dari keluarga suaminya. Tentunya, dalam sebuah keluarga baru tersebut suami dan istri memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang baru pula. Tidak hanya sebatasa kewajiban dan tanggung jawab pada pasangan. Ketika telah menikah, maka suami/istri memiliki peran baru sebagai anak/menantu dari keluarga pasanagannya. Yang tentunya juga mendapatkan kewajiban dan tanggung jawab baru sebagai menantu kepada mertuanya.

Sebagai menantu, tentu kita berfikir tentang bagaimana bersikap baik kepada mertua. Jangan sampai kehadiran kita dalam keluarga tersebut menjadi penyebab hubungan keluarga tidak harmonis. Oleh sebab itu, sebagai menantu perlu untuk bersikap baik kepada mertua kita.

Pada kesempatan kali ini, Kawan Mama akan membahas mengenai kewajiban menantu terhadap mertuanya. Karena beberapa dari kita pasti masih bingung dan belum mengetahui kewajiban-kewajiban sebagai menantu kepada mertua. Tentunya kewajiban tersebut perlu di di ketahui dan di amalkan agar hubungan menantu dengan mertua menjadi harmonis. Berikut adalah penjelasannya.

Kewajiban Seorang Menantu Kepada Mertua

Kewajiban Seorang Menantu Kepada Mertua

  1. Menganggap Dan Memperlakukan Mertua Layaknya Orangtua Sendiri

Pada dasarnya, mertua adalah orangtua dari pasangan kita. Artinya, ketika telah menikah maka mertua juga menjadi orangtua kita sendiri. Oleh karena itu, wajib bagi menantu untuk memperlakukan mertua selayaknya memperlakukan orangtua sendiri dengan sebaik-baiknya. Sebab mertua adalah orangtua yang melahirkan, merawat dan membesarkan pasangan kita sedari kandungan sampai sekarang.

Menantu wajib menganggap dan memerplakukan mertua layaknya ia memperlakukan orangtuanya sendiri. Memberikan kasih sayang dan perhatian layaknya kepada orangtua sendiri. Sebab memperlakukan mertua dengan baik sama halnya seperti berbakti kepada orangtua sendiri. Dan berbakti kepada orangtua adalah jalan jihad dan menjadi sumber pahala bagi sang anak/menantu.

  1. Bersikap Baik Kepada Mertua

Menjadi menantu berarti juga mejadi anak dari sang mertua. Dan bersikap baik kepada mertua tentu merupakan sebuah keharusan bagi menantu. Sebab mertua telah merelakan dan mengizinkan anak tersayangnya di ambil oleh orang lain. Karenanya, penting bagi setiap menantu untuk selalu bersikap baik, santun, lemah lembut dan cita kasih kepada mertuanya. Sebagaimana telah di jelaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 23. Yang artinya,

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu. Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkatan ‘ah’. Dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Q.S Al-Isra’ :23)

  1. Merawat Layaknya Merawat Orangtua Sendiri

Ketika mertua telah beranjak menua atau mengalami kondisi yang tidak sehat, maka menantu mempunyai kewajiban untuk ikut merawatnya. Terutama bagi menantu perempuan, sementara sang suami tengah pergi mencari nafkah maka ia wajib untuk merawat mertuanya seperti ia merawat orangtuanya dengan baik. Sungguh itu merupakan sebuah bakti seorang anak kepada orangtuanya sendiri dan menjdi lading pahala baginya. Tentunya hal tersebut akan membuat suami lega dan bengga kepada istri dan semakin sayang kepadanya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Luqman ayat 14, yang artinya.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Al-Luqman : 14)

  1. Memperkenalkan Dan Mendekatkan Anak Kepada Kakek/Neneknya

Umumnya, setelah menikah pasangan suami istri akan hidup pada lingkungan baru. Entah ikut keluarga suami atau ikut keluarga istri atau bahkan hidup mandiri. Dalam hal ini, ketika pasangan suami istri telah di karuniai seorang anak, maka sebaiknya kenalkan anak kita dengan kakek/neneknya.

Dan pastinya seorang mertua ingin melihat dan menimang cucu dari anak-anaknya. Karena itu juga merupakan sumber kebahagiaan bagi mertua kita. Sebab kebahgiaan dan hiburan yang bisa membuat mertua senang adalah melihat anak dan cucunya sehat dan tumbuh besar. Hal ini tentu sebagai bagian dari mempererat silaturhami dan berhubungan baik dengan mertua merupakan hal yang perlu di jaga dengan baik. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Muhammad ayat 22, yang artinya.

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa. kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?.” (Q.S Muhammad : 22)

  1. Memberi Nafkah Dan Membantu Mertua

Seorang suami memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istrinya. Namun apakah ia juga wajib memberi nafkah kepada mertuanya?. Pertanyaan ini tentu sering kali muncul dalam benak kita sebagai menantu. Tidak ada kewajiban bagi seorang istri untuk memberikan nafkah kepada orangtua mertuanya. Namun ia memiliki kewajiban untuk menafkahi orangtuanya sendiri. Menantu juga memiliki tanggung jawab untu membantu mertua, entah dalam bekerja atau dalam pekerjaan rumah tangga.

Seorang suami memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada orangtuanya, yang berarti ia juga memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkah kepada mertuanya. Sebab mertua juga merupakan orangtua dari pasangannya, dengan catatan bahwa ia telah memberikan hak nafkah kepada istri terlebih dahulu. Sebagai mana telah di di riwayatkan oleh Aisyah r.a, Rasulullah pernah bersabda.

“sungguhsebaik-baiknya makanan yang di makan oleh seseorang adalah hasil dari usahanya. Dan sesungguhnya anak dia adalah bagian dari hasil usahanya.” (H.R Abu Dawud)

Dari hadis tersebut dapat di ketahui, bahwa orangtua/mertua mempunyai ha katas nafkah dari anak/menantunya, karena itu adalah bagian dari usahanya juga. Seorang istri dapat memberi nafkah apabila menggunakan hartanya sendiri atau menggunakan harta suami atas seizing suaminya.

  1. Menjaga Tali Silaturrahim Dan Merekatkan Hubungan Kedua Keluarga

Dasar dari pernikahan adalah membentuk sebuah keluarga dan menyatukan kedua keluarga dalam satu ikatan kekeluargaan.  Artinya, menikah juga menyatukan keluarga yang berbeda (keluarga suami dan keluarga istri) menjadi satu ikatan kekeluargaan. Oleh karena itu, penting bagi menantu untuk menjadi perantara terjalinya ikatan silaturrahim yang baik antar kedua keluarga. Tidak jarang terjadi di mana menantu dan mertua memilki perbedaan pandangan dan pemikiram yang membuat keduanya tidak cocock. Namun hal ini perlu kembali di luruskan, seorang menantu tentu perlu bersikap baik dan menjaga hubungan baiknya dengan mertua. Meskipun berbeda pemikiran dan pandangan, menantu tetap wajib menjaga hubungan baiknya dengan sang mertua. Sebagaiman telah di sampaikan Rasulullah SAW, Beliau bersabda.

“Orang yang menyambung silaturrahim itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin. Akan tetapi orang yang menyambung silaturrahim ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus.” (Muttafaqun Alaih)

  1. Mengingatkan Dalam Kebaikan

Tugas dan tanggung jawab seorang umat berAgama Islam adalah saling mengingatkan dalam kebaikan kepada sesama. Karena itu merupakan sebuah kewajiban dan perintah dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Mertua pasti telah mengalami banyak pengalaman dan asam garamnya kehidupan. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan melakukan kesalahan lagi, dan wajib bagi menantu untuk mengingatkan sang mertua. Begitupun sebaliknya. Mertua dengan segala pengalaman hidupnya tentu perlu mengingatkan dan menasihati menantu apabila melakukan kesalahan.

  1. Tidak Menghalangi Pasangan Untuk Berbakti Kepada Orangtua

Bagi setiap pasangan yang telah menikah, maka prioritas yang utama adalah kepada pasnagannya. Namun seorang suami tetap memiliki tanggung jawab untuk berbakti dan mengutamakan orangtuanya, sebab ia adalah penerus dan harapan orangtuanya. Sedangkan bagi istri, berbakti pada suami adalah hal utama yang harus ia tunaikan. Karena setelah menikah, seorang istri sepenuhny merupakan tanggug jawab dari sang suami. namun istri tetap dapat berbakti kepada orangtuanya setelah berbakti kepada suami dan mendapat izin dari sang suami.

Dan tidak ada hak katas keduanya untuk saling mengalangi satu dengan lainya untuk berbakti kepada orangtuanya. Dalam hal ini, suami dan istri memiliki tugas baru untuk berbakti kepada mertua yang pada dasarnya telah menjadi orangtuanya. Dengan begitu, hubungan kekeluargaan antar menantu dan mertua dan besan antar besan(mertua) akan berjalan dengan baik dan menjadi harmonis.

  1. Mendoakan Mertua

Mendoakan kebaikan kepada sesama merupakan hal baik yang telah di perintahkan Allah SWT kepada umat Islam. Bagi seroang menantu, tentu memiliki kewajiban untuk selalu mendoakan mertuanya. Sebab, mendoakan mertua sama halnya mendoakan orangtua sendiri dan menjadi bagian dari jalan berbakti kepada mertua(orangtua). Sekalipun mertua telang meninggal dunia, menantu tetap wajib untuk mengirim doa kepada mertuanya. Sebab do’a yang baik dari anak (menantu) dapat memudahkannya di akhirat.

  1. Memuliakan Mertua

Sebagai seorang anak, tentu memiliki kewajiban untuk memuiakan kedua orangtua dan hal ini juga berlaku setelah kita menikah. Setelah menikah maka kita juga akan mendapatkan orangtua baru dari pasangan kita. Dan ini menjadikan kita sebagai menantu untuk memuliakan mertua kita dengan sebaik-baiknya. Ada banyak cara untuk kita memulikan mertua, bisa dengan memberi perhatian, bertutur kata yang baik, bersikap santun, membantu pekerjaan, memberi nafkah dan melakukan kebaikan lainya. Mertua adalah orangtua dari pasangan kita, yang artinya juga menjadi orangtua kita, dan wajib bagi seorang anak untuk memuliakan orangtuanya.

Pada dasarnya, orangtua dari pasangan kita merupakan orangtua kita juga. Sebab pernikahan adalah jalan menyatukan hubungan silaturrahim dua keluarga menjadi satu ikatan kekeluargaan. Dan dari penjelasan di atas, dapat di pahami bahwa menantu juga memiliki kewajiban untuk di tunaikan kepada mertua. Selayaknya berbakti kepada orangtua sendiri, menantu juga memiliki tugas untuk berbakti kepada orangtua (mertua) pasangannya dengan sebaik-baiknya.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai kewajiban seorang menantu kepada mertuanya. Mertua adalah orangtua dari pasangan kita, yang berarti juga menjadi orangtua kita. Dan wajib bagi kita untuk menunaikan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang anak (menantu) kepada orangtua (mertua).

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • DalamIslam
  • Sahabatyatim
Tugas Seorang Anak Dalam Keluarga

Tugas Seorang Anak Dalam Keluarga

Hallo Kawan Mama, Di dalam sebuah keluarga, kehadiran seorang buah hati merupakan sebuah hal yang menjadikan keluarga menjadi lengkap dan sempurna. Karena bagaimanpun, seorang anak adalah sumber kebahagiaan dari setiap orang tua yang menjadikan orang tua semakin termotivasi untuk menjalani kehidupannya. Karena kehadiran anak di dalam sebuah keluarga dengan segala tingkahnya yang membuat orang tua tersenyum bahagia dan tidak jarang juga membuat orang tua menjadi kesal dan geram. Nanmun terlepas dari itu semua, ada juga tugas seorang anak dalam keluarga yang juga menjadi tanggung jawab dan perlu untuk di laksanakan.

Namun atas apapun yang di lakukan dari setiap tingkah laku anak, hal itu akan membuat suasana keluarga menjadi lebih berwarna. Dan di dalam rumah tangga, setiap dari anggota keluarga memiliki peran dan tugasnya masing-masing, termasuk juga sang anak. Seorang anak pada dasarnya memiliki peran dan tugas pening sebagai bagian dari anggota keluarga. Namun, tentu peran seorang anak tidaklah sama dengan peran orang tuanya. Sebab seorang anak memiliki kedudukan dan daya kemampuan dan kekuasaan yang berbeda dengan orang tuanya.

Meskipun di berada di posisi sebagai anggota keluarga yang terkecil, namun seorang anak tidak dapat menyepelekan tugasnya sebagai bagian dari anggota keluarga. Karena bagaimanapun orang tua mempunyai tanggung jawab atas kelangsungan hidup dari sang anak. Maka wajib bagi sang anak untuk melaksanakan tugs-tugasnya dengan sebaik-baiknya agar keseimbangan sebuah keluarga tetap terjaga. Juga sebagai balasan atas pemberian kasih sayang, kehidupan yang layak dan segala pengorbanan yang telah di lakukan oleh orang tua kepada sang anak.

Seorang anak adalah harapan dari orang tua yang menjadikan seorang anak harus berbakti kepada orang tua serta membahagiakannya. Jangan sampai kita membuat orang tua kita kecewa, sedih, menangis dan sakit hati karena perbuatan yang telah kita lakukan. Pada kesempatan kali ini, Kawan Mama akan membahas mengenai tugas seorang anak sebagai bagian dari anggota keluarga. Berikut ini Kawan Mama sajikan,

Tugas Seorang Anak Di Dalam Sebuah Rumah Tangga

Tugas Seorang Anak

Apasih yang menjadi tugas kita sebagai seoran anak di dalam sebuah keluarga?. Sudahkah kita melaksanakan peran dan tugas kita sebagai seorang anak dalam sebuah keluarga?. sudahkah kita membahagiakan orang tua kita?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu untuk kita resapi dan cermati dengan seksama. Sebab anak adalah sumber kebahagiaan dari orang tua, di mana orang tua telah melakukan segala hal dan pengorabanan agar anak mendapat kehidupan yang layak dan hidup bahagia.

  1. Taat Dan Patuh Kepada Orang Tua

Tugas seorang anak yang paling utama dalam sebuah keluarga adalah taat dan patuh kepada orang tua. Karena bagaimanapun, seorang anak adalah seorang anggota keluarga tang terkecil dan seorang makmum atas orang tuanya. Seorang anak tentu belum memiliki pengetahuan dan pengalaman, oleh sebab itu wajib baginya untuk taat dan mematuhi orang tuanya. Perintah dari orang tua pastinya dengan maksud dan tujuan untuk terciptanya kebahagiaan untuk anak-anaknya. Sebab, anak yang tidak patuh kepada orang tua merupakan dosa yang akan membuat anak menjadi durhaka kepada orang tua dan di laknat Allah SWT.

Seiring bertumbuhnya sang anak menjadi dewasa, anak akan mulai terbentuk pola fikirnya sendiri. Yang menjadikanya dapat menentukan dan mengeluarkan pendapat yang kadang tidak sama dengan orang tua. Perlu di ketahui, seorang anak wajib untuk taat dan patuh kepada orang tua sekalipun anak telah dewasa dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sebagai orang tua, tentu juga harus sadar dan menghadapi anak dengan bijak kala sang anak mengeluarkan pendapatnya akan sesuatu hal. Karena itu akan membuat anak menjadi lebih terbuk kepada orang tua dan lebih percaya diri untuk berbicara.

  1. Belajar Dengan Rajin

Selain taat dan patuh kepada orang tua, seorang anak juga wajib untuk selalu belajar dengan rajin. Bukan hanya sebatas memenuhi kewajiban sebagai anak, namun perintah untuk belajar juga telah di wajibkan dan di serukan di dalam Agama. Dengan begitu, belajar dengan rajin tentu harus di lakukan oleh setiap anak dengan sebaik-baiknya. Dan anak yang rajin belajar tentu akan membuat orang tua menjadi senang dan bahagia melihat anak yang ia bangga-banggakan.

Seorang anak hendaknya tidak hanya mempelajari satu dua hal, karena banya hal yang sebaiknya ia pelajari sebagi bekal hidupnya kelak di masa depan. Seperti halnya belajar ilmu agama sebagai pedoman hidup dan bekal bagin anak untuk berbakti kepada orang tua. Belajar ilmu umum,Bahasa, komunikasi dan ilmu lain yang baik agar dapat menjadi anak yang berguna bagi orang tua, nusa, bangsa dan Agama. Karena bagaimanapun, membuat bangga orang tua merupakan salah satu cara berbakti dan membahagiakan orang tua.

  1. Menghormati Anggota Keluarga Lain Dan Menjaga Nama Baik Serta Memuliakan Orang Tua

Umumnya, manusia akan mengjjormati seuatu yang deka dengannya atau telah memberikan sesuatu atau atau yang seseorang yang lebih tua darinya. Atas segala alasan yang ada, wajib bagi anak untuk menghormati dan menjaga nama baik dari kedua orang tuanya serta saudara-saudaranya. Hal ini dapat menjadi cara bagi sang anak untuk memuliakan orang tuanya dengan cara yang baik.

Anak memliliki tugas dan tanggung jawab untuk berprilaku dan berinteraksi dengan baik kepada orang tua dan saudara-saudaranya, termasuk juga dalam bersosialisasi dalam bermasyarakat. Sebab apapun tingak laku dan perbuatan yang telah anak lakukan akan berdampak [ada citra dari anggota keluarganya yang lain, terutama sang ayah. Anak yang melakukan perbuatan buruk tentu akan mencoreng nama baik kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Dan anak yang berprilaku baik bahkan mendapat prestasi tentu akan membuat baik anam kedua orang tua dan saudara-saudaranya.

  1. Membantu Orang Tua

Dalam setiap langkah dan hal yang di lakukan orang tua pasti memiliki maksud dan tujuan baik untuk keluarganya, terutama kebahagiaan hidup anak-anaknya. Sebab, orang tua memiliki tanggung jawab atas kelangsungan hidup anak-anaknya yang menjadikan beban pada pundaknya semakin berat. Oleh sebab itu, kehadiran seorang anak di dalam sebuah keluarga, selain sebagai pelengkap dan kebahgiaan, anak juga memiliki tugas untuk membantu apa yang di lakukan oleh orang tuanya.

Sebab, dengan membantu aktivitas dan pekerjaan orang tua dapat membuat ringan beban-beban yang ada pada beban kedua orang tua. Anak dapat membantu meringannkan beban orang tua mulai dari hal-hal yang terkecil dan dan ringan seperti mengurus kebutuhannya sendiri. Seperti (mebersihkan kamar,mencuci baju), membantu pekerjaan rumah (bersih-bersih, menyapu, mencuci piring atau memasak). Anak juga dapat meringankan orang tua dengan memberikannya perhatian, seperti menyuguhkan minuman, menawarkan pijit, atau hal lain yang dapat membuat hati orang tua senang dan damai.

  1. Medoakan Kebaikan Kepada Orang Tua

Selain hal-hal di atas, seorang anak menajalankan tugas yang tak kalah penting, yaitu mendoakan kedua orang tuanya. Berbakti kepada orang tua juga berarti anak harus selalu medoakan kebaikan bagi orang tuanya. Seperti agar orang tua tetap sehat selalu, umur panjang dan berkah serta di limpahkan rizki bagi kedua orang tuanya. Terlebih jika orang tuanya telah meninggal dunia, karena doa dari seorang anak dapat menyelamatkan orang tua dari siksa api neraka dan membantu mengantarkan anak menuju surge.

Pada dasarnya, tugas dari seorang anak sebagai anggota dari sebuah keluarga adalah untuk berbakti pada orang tua dengan sebaik-baiknya. Sebab orang tua telah memberikan segalanya dan mengorbankan jiwa raganya hanya untuk kebahagiaan sang anak. Seperti halnya pepatah pernah mengatakan, “Kasih orang tua kepada anaknya sepanjang hayat, kasih seorang anak kepada orang tua hanya sepanjang galah”. Apapun yang telah di lakukan anak, tidak akan cukup untuk membalas apa yang telah di lakukan dan di berikan orang tua kepada anak-anaknya. Oleh sebab itu wajib bagi seoran anak untuk berbakti dan selalu mendoakan kebaikan bagi orang tuanya.

Demikan pembahasan dari kawan mama mengenai tugas seorang anak kepada orang tua di dalam sebuah keluarga. Tidak ada seorangpu yang dapat mengalahkan dan melebihi cint kasih kedua orang tua kepada anaknya. Semoga kita dapat berbakti dan membahagiakan orang tua kita dengan sebaik-baiknya.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Orami
  • Popmama

Hak Seorang Anak Menurut Wahbah Zuhailiy

Hak Anak Menurut Wahbah Zuhailiy

Hak Seorang Anak

 

Hallo Kawan Mama,

Agama Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk selalu memberikan cinta kasih kepada sesama, dan memerintahkan untuk melaksanakan apa yang sudah menjadi tanggung jawab dan kewajibannya. Selain dalam hal ibadah maghdah (fardhu), Agama Islam juga memperhatikan hal-hal lain terkait yang apa terjadi pada pemeluknya, begitu pula dengan hubungan rumah tangga. Karena pada dasarnya, pernikahan adalah jalan ibadah yang di tempuh oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk mengikat hubungan menjadi sah secara hukum dan Agama. Selain itu, menikah tentu juga untuk mendapatkan anak sebagai penerus keturunan.

Begitu indahnya Agama Islam sampai memperhatikan aktivitas umatnya sedemikian rupa, agar apa yang ia lakukan dapat berbuah kebaikan dan tidak menjerumuskan menuju kesesatan. Anak adalah seorang yang lahir dari adanya hubungan suami istri yang menjadikannya sebagai pelengkap dan sumber kebahagiaan keluarga. Selain itu peran seorang anak juga sangat penting dalam hal keagamaa, sebab anak adalah calon penerus dan menjadi generasi baru yang akan meneruskan, merawat dan menyebarkan nilai-nilai Agama Islam pada masa mendatang. Dan orang tua tentu memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang harus ia laksanakan kepada anak-anaknya agar anak dapat tumbuh dengan semestinya dan sesuai dengan ajaran agama Islam.

Dalam hal ini, orang tua memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup anak-anaknya. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk memenuhi setiap apa yang menjadi hak atas anak-anaknya. Hak seorang anak, tidak jarang orang tua yang tidak tahu atau lalai atau bahkan menganggap enteng dan menyepelekannya. Padahal hal itu merupakan perbuatan dosa orang tua kepada anak-anaknya, sebab wajib bagi orang tua untuk memenuhi hak dari anak-anaknya.

Lalu apa sih sebenarnya yang menjadi hak dari sang anak..?? bagaiamana islam memanda hak seorang anak..?? apakah saya sudah melakukan tugas saya sebagai orang tua dengan semestinya..?? Tentu pertanyaan seperti ini sering kali muncul dalam benak orang tua. Nah, pada kesempatan kali ini, Kawan Mama akan membahas mengenai hak seorang anak dalam Agama Islam.

Hak Anak Dalam Islam Menurut Wahbah Zuhailiy

Anak merupakan titipan dan amanah dari Allah SWT kepada pasangan suami istri sebagai pelengkap kebahagiaan mereka. Dan orang tua wajib untuk memenuhi apa yang menjadi hak dari sang anak tersebut. Sebab pada hari hisab nanti, orang tua akan di mintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT atas apa yang telah Allah titipkan. Menurut Wahbah Zuhaili dalam karyanya dalam kitab yang berjudul Al-Fiqh Al-Islamiy, ada 5 hak anak menurut pandangan Agama Islam yang wajib di penuhi oleh orang tuanya. Berikut adalah penjelasannya.

  1. Identitas Diri (Nasab)

Hal yang pertama menjadi hak dari anak adalah untuk mendapatkan pengakuan dan identitas diri (nasab dari orang tuanya. Sebagai orang tua perlu untuk melakukan penisbatan dari orang tua untuk mengumumkan dan memperjelas status dari sang anak, baik dalam pandangan keluarga maupun pandangan masyarakat. Karena hal itu dapat menjadi alasan kuat yang membuat anak paham akan statusnya sebagi keturunan asli dari orang tuanya. Sebagaiman telah di jelaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 5. Yang artinya,

“panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah SWT. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang di sengaja oleh hatimu. Sesungguhnya Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang.” (Q.S Al-Ahzab : 5)

  1. Mendapat Penyusuan (Radha’)

Pada dasarnya seorang anak adalah buah hati dari sang ibu di mana kelangsungan hidupnya merupakan tanggung jawab juga dari sang ibu. Oleh sebab itu, wajib bagi seorang ibu untuk merwat dam menjaga kelangsungan hidup dari sang anak. Seorang anak memiliki hak untuk mendapat susu (ASI) dari sang ibu, karena ASI dari sang ibu memiliki nutrisi yang sangat baik dan kaya akan zat gizi yang komplit yang tentunya di butuhkan bagi seorang anak pada usia menyusui. Sebagaimana telah di jelaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 233. Yang artinya,

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.”(Q.S Al-Baqarah : 233)

  1. Pengasuhan Dan Pemeliharaan (Hadhanah)

Ketika telah selesai melahirkan, seorang anak yang lahir tersebut sudah menjadi tanggung jawab sepenuhnya bagi orang tua untuk di di asuh dan di rawat sebagaimana mestinya. Bagi sang ayah tentu wajib untuk memberi nafkah dan memenuhi kebutuhan anak dengan baik. Sedangkan sang ibu yang bertugas untuk mengasuh serta merawat sang anak, sehingga kelangsungan hidup dan kemaslahatan anak dapat tercapai dengan baik. Sebagaiman telah di jelaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat 151. Yamg artinya,

“dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu, karena tekut kemsikinan. Kami akan memberi rizky kepadamu dan kepada mereka.” (Q.S Al-An’am : 151)

Selain itu, orang tua juga memilki tanggung jawab dalam pendidikan sang anak dan mengajarinya ilmu agama yang akan menjadi bekal bagi sang anak untuk hidupnya di masa mendatang. Dengan begitu, anak tidak mudah untuk terjerumus kedalam kesesatan dan terhindar dari api neraka. Sebab, anak sudah memiliki pegangan hidup yang telah di ajarkan orang tuanya, dan dapat menjadi manusia yang berguna bagi nusa bangsa dan agama. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6. Yang artinya,

“wahai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” (Q.S At-Tahrim : 6)

  1. Wilayah (Perwalian)

Hak seorang anak yang harus di penuhi oleh orang tua berikutnya adalah mendapat wilayah (perwalian). Dalam hal ini, Wahbah Zuhaili berpendapat bahwa wilayah (perwalian) di lakukan setelah fase hadhanah (pengasuhan dan pemeliharaan). Yang artinya wilayah (perwalian) dan hadhanah (pengasuhan dan pemeliharaan mebrupakan dua hal yang berbeda. Kemudian Wahbah Zuhaili membagi wilayah menjadi dua bagian, yaitu wilayah ‘ala al-nafs dan ‘ala al-mal.

Wilayah ‘ala al-nafs artinya penanganan segala macam urusan yang berkaitan dengan diri (individu) orang yang tidak mempunyai kemampuan dalam melaksanakannnya. Seperti penjagaan, pemeliharaan, pendidikan, pengajaran, kesehatan, pernikahan dan hal lain yang bersangkutan. Sedangkan wilayah ‘ala al-mal merupakan penanganan segala urusan yang berkaitan dengan harta orang orang yang tidak mempunyai kemampuan dalam melaksanakannya seperti pengembangan harta dan pengelolaannya.

  1. Mendapatkan Nafkah (Nafaqah)

Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab bagi orang tua untuk mencari nafkah dan memberikan kepada anak untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Nafkah kepada anak dapat berupa pemebrian makanan, pakaian, dan tempat tinggal kepada anak, serta mencukupi kebutuhan lain sekalipun bukan kebutuhan pokok. Memberi kasih sayang dan pendidikan juga termasuk cara begi orang tua memberi nafkah kepada anaknya.

Tentunya kebutuhan setiap seorang anak berbeda-beda, dan tidak ada standarisasai nominal dalam memberi nafkah kepada anak. Oleh sebab itu, kewajiban sebagai orang tua hanya untuk memberi nafkah kepada anak dengan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan anaknya. Dan pada umumnya, kebutuhan seorang anak berupa, makanan yang baik, pakaian, tempat tinggal dan serta cinta kasih dan pendidikan untuk bekal ia di masa mendatang.

Pada hakikatnya, anak adalah pemberian dari Allah SWT kepada pasangan suami istri sebagai titipan dan menjadi pelengkap sebuah keluarga. Dan tidak ada unsur kepemilikan sedikitpun dari orang tua terhadap anaknya. Namun, wajib bagi orang tua untuk memberikan kehidupan yang layak, memberi kasih sayang, menafkahi, mendidik dan merawatnya dengan baik, serta memenuhi hak-hak dari sang anak tersebut. Dalam sebuah keluarga, suami dan istri memiliki kewajiban dan hak yang harus di penuhi di antara keduanya dan hal itu juga berlaku pada anaknya. Wajib bagi orang tua untuk memenuhi hak seorang anak dengan sebaik-baiknya. Sehingga tidak akan mempersulit orang tua ketika di hari hisab nanti.

Demikan pembahasan dari Kawan Mama mengenai hak seorang anak terhadap orang tuanya menurut Wahbah Zuhailiy. Penting bagi kita sebagai orang tua untuk memperhatikan tugas dan tanggung jawab kita dalam memenuhi hak-hak dari sang anak. Sehingga sang anak juga akan terpenuhi hak-haknya dan mendapat kehidupan yang layak dan semestinya.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • parenting.dream
  • motherandbeyond
Hak Anak Terhadap Orang Tua Dalam Islam

Hak Anak Terhadap Orang Tua Dalam Islam

Hak Anak Terhadap Orang Tua Dalam Islam

Hak Anak Terhadap Orang Tua Dalam Islam

 

Hallo Kawan Mama,

Di dalam Agama Islam, orang tua memiliki peran yang penting yang harus ia laksanakan agar hubungan keluarga yang ia jalani dapat berjalan dengan semestinya. Di antaranya adalah, kewajiban orang tua untuk meberikan nafkah lahir dan batin kepada anggota keluarga lainya, tak terkecuali dengan anak. jelas dalam sebuah keluarga, orang tua merupakan pemimpin dan pelindung bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, demi berlangsungnya hubungan rumah tangga yang ia jalani, maka orang tua wajib untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya.

Agama Islam adalah Agama yang menjadikan seorang anak sebagai bahan perhatian yang besar untuk di cermati. Dan begitu pula telah di sebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits yang membahas mengenai  anak sampai berkali-kali. Oleh karena itu, seoran anak memiliki peran dan kedudukan yang penting, serta fungsinya untuk orng tuanya sendiri,  masyarkat, bangsa dan agama yang tidak boleh di sepelekan. Dan setiap anggota dari keluarga memiliki hak dan kewajiban yang harus ia penuhi terhadap anggota keluarga yang lain. Termasuk juga dengan hak seorang anak.

Pada hakikatnya, anak adalah pemberian dari Allah SWT kepada pasangan suami istri sebagai titipan dan menjadi pelengkap sebuah keluarga. Dan tidak ada unsur kepemilikan sedikitpun dari orang tua terhadap anaknya. Namun, wajib bagi orang tua untuk memberikan kehidupan yang layak, memberi kasih sayang, menafkahi, mendidik dan merawatnya dengan baik, serta memenuhi hak-hak dari anaknya tersebut. Dalam sebuah keluarga, suami dan istri memiliki kewajiban dan hak yang harus di penuhi di antara keduanya dan hal itu juga berlaku pada anaknya. Wajib bagi orang tua untuk memenuhi hak seorang anak dengan sebaik-baiknya.

Sebab di hari akhir nanti, orang tua akan di hadapkan dengan pertanggungjawaban terhadap tugas dan kewajibannya terhadap keluarga yang ia pimpin. Hal ini menjadi penting bagi orang tua untuk mengetahui hak-hak anak yang harus di penuhi oleh kedua orang tuanya. Nah, pada tulisan kali ini Kawan Mama akan membahas mengenai hak-hak seorang anak terhadap orang tuanya dalam Islam. Berikut pembahasannya,

Hak-Hak Anak Terhadap Orang Tua Yang Harus Di Penuhi

  1. Hak UntuK Mendapat Cinta Kasih

Di dalam hubungan sebuah keluarga, tentu perlu adanya rasah cintah kasih dari seorang suami dan istri agar keluarga hubungan keluarga yang ia jalani tetap berjalan dengan langgeng. Hal ini berlaku juga dengan sang anak. Seorang anak tentu wajib untuk di berikan cinta kasih dari kedua orang tuanya. Dan pada fitrahnya, orang tua pasti akan menyayangi dan memberikan cinta kasihnya kepada sang anak. Namun Islam tetap memrintahkan bagi orang tua agar selalu menunjukan cint kasihnya kepada anaknya.

Dengan begitu, sang anak tentu akan merasa di sayangi dan menjadi bagian dari keluarga yang ia jalani. Dan tentu setiap dari anak-anak mempunyai hak untuk di berikan cinta kasih dari orang tuanya, sehingga keluarga yang di isi dengan cinta kasih antara anggota keluarga akan berjalan dengan semestinya. Penting untuk di ketahui, orang tua yang tidak menelantarkan anaknya adalah orang yang di akan di laknat oleh Allah SWT.

  1. Hak Untuk Hidup

Dalam Agama Islam kelangsungan hidup seseorang merupakan hal yang penting untuk di perhatikan, apalagi jika menyangkut tentang anak-anak. Kelangsungan hidup dan tumbuh kembang seorang anak adalah tanggung jawab bagi orang tua kepada anak-anaknya yang harus ia penuhi. Dengan begitu, maka orang tua telah menunaikan tanggung jawabnya dan memenuhi hak dari anak-anaknya. Karena bagaimanapun anak adalah sumber rizki dari orang tua dan menjadi pelengkap kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Dan jika anak dapat hidup dan tumbuh kembang dengan baik itu juga akan menjadi kebahagiaan bagi orang tuanya.

Dan barang siapa sebagai orang tua menelantarkan anaknya, dan tidak memenuhi tanggung jawab dan hak dari anak-anaknya, maka ia di anggap sudah melakukan perbuatan dosa besar dan akan di laknat oleh Allah SWT. Sebagimana telah di jelaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat 151, yang artinya.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu, karena takut kemiskinan. Kami akan memeberi rizki kepadamu  dan kepada mereka.” (Q.S Al-An’am : 151)

  1. Hak Mendapat Nafkah

Kewajiban sebagai orang tua salah satunya adalah untuk mencari nafkah dan memberikannya kepada anggota keluarga yang lain. Dan hak seorang anak adalah untuk mendapatkan nafkah dari orang tuanya. Bahkan di katakana bahwa seorang anak mempunyai hak untuk di nafkahi oleh orang tua sampai sang anak dapat mencari nafkahnya sendiri. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 233, yang artinya.

“para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (Q.S Al-Baqarah : 233)

  1. Hak Mendapat Perlindungan Dan Penjagaan Dari Api Neraka

Di dalam sebuah keluraga, setiap anak memilik hak terhdap orang tuanya agar di jaga dan di lindungi dari api neraka. Artinya, orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik dan membimbing serta mengajarkan ilmu Agama pada sang anak dengan sebaik-baiknya. Dengan bimbingan tentang ilmu Agama pada anak sejak usia dini, dapat membuat anak tidak asing terhadap keyakinan dari orang tuanya. Dan membuat sang anak dapat mengaplikasikan nilai-nilai agama yang telah di ajarkan yang akan menjauhkannya dari siksa api neraka.

Sebagaimana telah di perintahkan Allah SWT kepada para orang tua untuk menjaga keluarga dari api neraka. Allah berfirmn dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim yat 6, yang artinya.

“wahai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” (Q.S At-Tahrim : 6)

  1. Hak Mendapatkan Keadilan

Pada dasarnya setiap anak lahir dan tumbuh dengan karakter dna keunikannya masing-masing. Namun itu tidak bisa manjadi alasan bagi orang tua untuk mebeda-bdedakan danberbuat tidak adil kepada sang anak. Seorang anak, sedari lahir mempunyai hak untuk di perlakukan adil oleh orang tuanya. Maksud daan tujuan sikap adil adri orang tua untuk menciptakan suasana rukun antar anggota keluarga. Sehingga tidak ada kesenjangan dan rasa iri antar anggota keluarga karena mendapat porsi dan rasa adil yang berbeda. Dan yang membedakan seorang anak hanya keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Sebagaimana telah di jelaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13, yang artinya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (Q.S Al-Hujurat : 13)

  1. Hak Mendapat Pendidikan

Setiap anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dari orang tuanya, khususnya di bidang agama. Karena bidang agama adalah bekal bagi anak untuk hidup di dunia yang akan membimbing anak menuju jalan yang benar. Kewajiban orang tua, selai memberi nafkah berupa pangan, pakaian dan tempat tinggal, orang tua juga wajib untuk memenuhi hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dengan begitu anak juga akan mendapat bekal untuk berbakti dan mendoakan orang tua dan terhindar dari api neraka. Sebagaimana telah di jelaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surta At-Tahrim ayat 6, yang artinya.

““wahai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” (Q.S At-Tahrim : 6)

  1. Hak Untuk Di Nikahkan

Selayaknya seorang manusia, kelak anak yang tadinya bayi kemudian tumbuh dewasa juga akan menghadapi kondisi dan masa sebagaimana orang dewasa pada umumnya, salah satunya adalah menikah. Dan sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk menikahkan anaknya bila sudah sampai pada masanya. Karena hal itu juga merupakan sebuah hak dari anak yang harus du penuhi oleh orang tuanya.

Sebagaimana pada umumnya, orang tua pasti mengharapkan agar anaknya mendapat pasangan yang baik dan dapat menuntun sang anak menuju jalan yang benar. Oleh karena itu banya orang tua yang sangat hati-hati dan cenderung memilih dengan ketat. Namun kewajiban orang tua hanya menikahkan anak dan memberinya saran dalam memilih pasangan. Sebagaimana telah di sampaikan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda,

“Hak anak antara lain, di berikan nama yang baik ketika lahir, di ajarkan Al-Qur’an ketika sudah berakal (tamyiz), dan menikahkannya ketika sudah menemukan.” (H.R Abu Hurairrah)

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya agar dapat hidup  dan tumbuh kembang dengan baik dan menjadi anak dengan pribadi yang shalih. Dan Agama Islam secara tegas memerintahkan kepada orang tua untuk menunaikan kewajibannya kepada sang anak dan memenuhi apa yang menjadi hak dari sang anak. karena pada hari akhir nanti, orang tua akan di hadapkan dengan petanyaan mengenai tanggung jawabnya terhadap keluarga yang ia pimpin dan tugas dan kewajiban serta hak yang seharusnya telah ia tunaikan. Dengan menunaikan hal-hal tersebut tentu dapat membuat ia melawati hisab dengan lancar karena dorongan dari doa anak yang telah ia ajari ilmu agama semasa ia hidup.

Demikan pembahasan dari Kawan Mama mengenai hak-hak seorang anak terhadap orang tuanya. Dengan memenuhi hak sang anak tentu akan mengantarkan sang anak menuju surga Allah SWT.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

Sumber :

  • Harakah
  • Haibunda
Hukum Berhubungan Badan Melalui Dubur Dalam Islam Dan Medis

Hukum Berhubungan Badan Melalui Dubur Dalam Islam Dan Medis

Hubungan Badan Suami Istri Melalui Dubur

 

 

Hallo Kawan Mama,

Agama islam memerintahkan bagi umatnya untuk menunaikan pernikahan dengan lawan jenisnya untuk membangun sebuah hubungan keluarga dalam sebuah runmah tangga. Oleh karena itu, pernikahan merupakan sebuah ibadah sunnah yang hendaknya di lakanakan oleh umatnya. Dengan memenuhi rukun dan syarat yang berlaku, maka seorang laki-laki muslim dan wanita msulimah dapat melangsungkan pernikahan.

Tujuan dari pernikahan bukan hanya untuk menjalin kasih di antara seorang  laki-laki dengan seosang wanita saja. Namun sebuah perintah untuk melaksanakan sebuah pernikahan juga dengan adanya tujuan untuk memperbanyak keturunan sebagai penerus umat beragama. Dalam upaya untuk mendapatkan keturunan, maka suami dan istri akan melakukan hubungan badan sebagai ikhtiar untuk mendapatkan keturunan.

Namun tidak jarang juga hubungan badan seorang laki-laki dengan seorang wanita tidak selalu bertujuan untuk mendapatkan keturunan. Ada juga yang melakukannya hanya untuk melampiaskan hasrat seksualnya saja. Karena beberapa orang memamng memilki hasrat dan libido yang cenderung lebih tinggi di bandingkan orang pada umumnya. Sehingga banyak dari kalangan tersebut berhubungan badan dengan memakai pengaman atau lewat duburnya.

Lalu bagaimana islam memandang hubungan badan yang di lakukan oleh suami dan istri melalui dubur?. Kali ini Kawan Mama akan membahas mengenai hukum berhubungan badan melalui dubur. Sebagai berikut.

Hubungan Badan Suami Istri Melalui Dubur

Pada umumnya tujuan hubungan badan suami istri adalah untuk mendapatkan keturunan sebagai penerus keluarga. Namun tidak jarang terjadi, hubungan badan suami istri hanya untuk menyalurkan hasrat dan libido yang cenderung tinggi dengan orang pada umumnya. Hal ini banyak di temukan dan sudah menjadi hal biasa di lakukan bangsa barat, Namun lain dengan umat Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 222, yang artinya.

“istri-istrimu adalah seperti lahan tempat kamu bercocok tanam. Maka datangilah lahan tempatmu bercocok tanam itu dengan cara apapun yang kamu kehendaki.” (Q.S Al-Baqarah : 222)

Dari ayat tersebut dapat di pahami bahwa seorang suami dapat menggauli istrinya dengan cara apapun yang ia kehendaki. Banyak yang salah mengartikan bahwa ayat tersebut memperbolehkan suami mneggauli istri melalui jalur belakang (dubur). Pemahaman tersebut merupakan logika yang keliru. Maksud dari ayat tersebut adalah suami dapat menggauli istri dengan cara apapun yang ia kehendaki selagi sesuai dengan ketentuan syariat.

Agama Islam memandang hal ini (berhubungan badan melalui dubur) adalah sebuah perbuatan yang tidak boleh di lakukan. Berhubungan badan suami istri melalui dubur merupakan sebuah perbuatan dosa bagi para pelauknya. Dan tidak ada alasan yang  dapat membenarkan dan memperbolehkannya hubungan badan suami istri melalui jalur belakang (dubur). Sebagai mana telah di perintahkan oleh Allah Swt kepada pasangan suami dan istri. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 222, petikan ayat tersebut yang artinya.

“Maka campurilah mereka (istri-istrimu) itu di tempat yang di perintahkan Allah SWT kepadamu.” (Q.S Al-Baqarah : 222)

Hukum Berhubungan Badan Melalui Dubur

Dari ayat di atas dapat di ketahui bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada suami untuk menggauli istri hanya pada tempat yang telah di perintahkan. Oleh sebab itu maka hubungan badan suami istri melalui jalur belakang adalah perbuatan yang salah dan tidak di perbolehkan. Meskipun seorang istri rela untuk melakukan hal tersebut bersama suaminya, hal tersebut tidak menjadikan hubungan badan suami istri melalui dubur di perbolehkan. Dan dengan demikian itu, keduanya akan mendapat ganjaran dosa dari Allah SWT.

Hubungan badan suami istri melalui dubur adalah termasuk perbuatan dosan yang haram di lakukan pasangan suami dan istri. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa apabila zakar (kelamin laki-laki) hanya bersenetuhan dengan lingkaran dubur dan tanpa memasukannya, maka hal tersebut bukan termasuk hal yang di larang. Namun barang siapa yang bermain-main dengat “kebun” sangat di khawatirkan ia akan terjerumus kedalamnya. Oleh sebab itu sebaiknya hindari hal-hal yang dapat menjerumuskan kedalam perbuatan dosa.

Hadits Nabi

Dalam sebiah riwayat, sahabat Umar Bin Khattab R.a, pernah memberitahu Rasulullah Saw bahwa ia telah mneyetubuhi istrinya bukan dari arah farjinya, Umar berkata pada Rasul.

“telah saya belokkan kendaraanku semalam.”, kemudian Rasul berkata. “boleh kamu laukan dari depan atau belakang, tapi hati-hatilah jangan kau lakukan ketika haid maupun pada dubur.” (H.R Ahmad)

Hal ini juga telah di perjelas oleh Rasulullah SAW, beliau bersabda.

”janganlah kamu mendatangi istri-istrimu pada dubur mereka.” (H.R Ahmad, Ibnu majjah dan Tirmidzi), Dan hadits lainya yang berbunyi.

“terkutuklah orang yang mendatangi istri dari duburnya.” (H.R Ahmad dan Ashaab As-Sunan)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW membolehkan sahabat Umar untuk bebas dalam menggauli istrinya, namun dengan catatan tidak menggauli istrinya ketika istrinya tengah dalam kondisi haid, dan tidak boleh menggauli istrinya melalui duburnya. Berhubunagan badan dengan istri melalui dubur samal halnya seperti kisah kaum Nabi Luth yang tekenal sebagi kaum Sodom, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 28, yang artinya.

“Sesunguhnya kalian telah melakukan perbuatan keji yang tidak pernah di lakukan oleh satu orang pun sebelum kalian di ala mini.” (Q.S Al-Ankabut : 28)

Dan Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT melaknat orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth” bahlan rasul sampai mengucapkannya sebanyak tiga kali. Dengan begitu dapat di pastikan bahwa berhubungan badan dengan istri melalui dubur merupakan perbuatan dosa dan haram di lakukan dalam Agama Islam.

Menurut Ilmu Medis

Secara medis, dubur (anus) adalah sebuah jalur pembuangan limbah dan kotoran yang di hasilkan dari dalam organ pencernaan yang mengandung banyak bakteri. Oleh sebab itu berhubungan badan dengan istri melalui dubur adalah perbuatan yang tidak di anjurkan dalam ilmu medis. Secara medis, banyak resiko yang dapat terjadi dan berdampak bururk bagi pelau akibat hubungan badan melalui jalur belakang.  Berikut adalah beberapa resiko yang akibat berhubungan badan melalui jalur belakang (dubur).

    1. Terkena Penyakit Menular

Lapisan dalam kulit anus (dubur) merupakan lapisan yang sangat tipis dan tidak memiliki pelumas alami yang akan mengakibatkan luka pada lapisan tersebut. Dengan adanya luka dapat membuat bakteri dan virus masuk dan menginveksi jaringan pembuluh darah pada tubuh apabila di gunakan untuk berhubungan badan. Akibat dari inveksi tersebut, pelaku dapat terkena penyakit seperti, HIV, Herpes Kelamin, Kutil Kelamin, Klamidia, Hepatitis A, Hepatitis B, Gonore, dan Sifilis.

    1. Melemahkan Cincin Otot Anus

Bentuk dari anus (dubur) di desain dengan otot berbentuk lingkaran yang berfungi sebagai pengatur aktivitas buang air besar (BAB). Sehingga apabila di gunakan untuk berhubungan badan dapat mengakibatkan otot pada anus menjadi lemah dan dapat mengganggu aktivitas BAB menjadi tidak terkontrol.

    1. Memperburuk Wasir

Bagi sebagian orang tentu ada yang memilki riwayat penyakit wasir. Berubungan badan lewat dubur beresiko dapat memperburuk penyakit wasir dan menjadikan anus lebih mudah untuk terinfeksi oleh bakteri dan virus.

Dengan demikian dapat di ketahui, bahwa berhubungan badan melalui dubur adalah hal yang haram dan tidak boleh di lakukan baik menurut pandangan Agama maupun medis. Sebab pada dasarnya dubur bukanlah alat reproduksi yang dapat di gunakan untuk melakukan hubungan badan suami dan istri. berhubungan badan melalui anus juga dapat mengakibatkan resiko pada suami dan istri. Sebab anus merupakan organ pembuangan kotoran yang di kelilingi oleh bakteri dan virus yang dapat menular dan menginvekasi istri maupun suami. Dan Allah SWT melaknat bagi siapa saja yang melakukan hubungan badan melalui dubur sama halnya ketika Allah SWT melaknat kaum Nabi Luth.

Demikian pembahasan dari Kawan Mama mengenai hubungan badan suami istri melalui dubur. Sebagai seorng istri, penting untutk taatdan patuh dengan perintah suami, karena itu merupakan sebuah bentuk ibadahnya dalam rumah tangga. Namun jika suami memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat dan merugikannya, maka wajib bagi istri untuk menolak permintaan dan perintah tersebut.

Semoga tulisan ini dapat membantu. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Islampos
  • Alodokter
  • Konsultasisyariah
Cara Untuk Mendiagnosis Penyakit Presbiopi

Cara Untuk Mendiagnosis Penyakit Presbiopi

Hallo Kawan Mama, Kesehatan mata adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam aspek kondisi kesehatan oragn tubuh. Sebab mata yang sehat tentu akan membuat pemiliknya terbantu dan dapat melihat dengan jelas pada objek yang ada di sekitarnya. Namun ketika kondisi mata mengalami gangguan atau masalah keseatan, tentu hal ini akan merepotkan pemiliknya, terutama dalam melakukan aktivitas. Salah satu jenis masalah kesehatan terkait gangguan penglihatan adalah pres biopi. Sementara itu beberapa cara dapat di gunakan untuk mendiagnosis kondisi mata yang mengalami penyakit presbiopi.

Pertambahan usia atau juga di sebut faktor penuaan adalah salah satu kondisi alamiah yang di mana setiap orang, bahkan setiap mahluk hidup akan mengalaminya. Pada masa ini, fungsi dari setiap system metabolisme dan organ tubuh akan mengalami penurunan akibat faktor penuaan. Kondisi tersebut akan seringkali dapat menyebabkan seseorang mengalami masalah kesehatan. Dan salah satu masalah kesehatan yang akan muncul dan di alami oleh kebanyakan orang adalah gangguan penglihatan.

Presbiopi merupakan salah satu jenis masalah kesehatan terkait gangguan penglihatan yang umumnya akan muncul pada usia lanjut. Kondisi ini di duga dapat di pengaruhi oleh adanya faktor pertambahan usia atau penuaan. Umumnya seseorang yang mengalami kondisi presbiopi ini akan mengalami keadaan di mana ia akan kesulitan untuk meliihat atau membaca. Mata akan dapat melihat dengan jelas apabila ingin melihat atau membaca harus dengan merentangkan matanya terlebih dahulu.

Selain itu, penderita penyakit presbiopi biasanya juga harus memicingkan mata ketika hendak melihat pada objek. Tentunya kondisi ini membutuhkan tenaga dan focus yag lebih agar objek dapat terllihat dengan lebih jelas. Faktor penuaan di ketahui memiliki andil besar sebagai pemicu munculnya penyait presbiopi yang di alami oleh mata. Berikut ini Kawan Mama telah merangkum beberapa informasi mengenai cara untuk mendiagnosis kondisi mata yang mengalami penyakit presbiopi.

Presbiopi Pada Mata

Cara Untuk Mendiagnosis Penyakit Presbiopi

Penyakit mata berupa presbiopi atau juga lebih di kenal dengan istilah mata tua atau rabun senja, pada dasarnya memang merupakan penyakit yang umumnya di picu akibat faktor penuaan. Jenis gangguan penglihatan yang satu ini umumnya akan mengakibatkan munculnya gejala-gejala di mana mata tidak dapat berfungsi dengan normal seperti biasanya. Cepat atau lambat penyakit ini akan mengakibatkan penderitanya mengalami penurunan pada fungsi dan ketajaman penglihatan. Tentunya kondisi ini akan membuat penderitanya kesulitan dalam melihat atau mengenali sebuah objek di sekitarnya.

Pada dasarnya prsebiopi merupakan kondisi di mana mata mengalami penurunan fungsi dan kemampuan serta focus dan ketajaman penglihatan akibat adanya perubahan bentuk pada lensa mata. Gejala tersebut merupakan kondisi yang di akibatkan oleh faktor penuaan yang di alami oleh system penglihatan. Kondisi sering kali membuat penderitanya harus sedikit meregangkan matanya atau menjauhkan objek ketika melihat atau membaca agar dapat terlihat dengan jelas.

Di lansir dari laman American Academy of Ophthalmology yang menyebutkan bahwa presbiopi atau rabun senja adalah kondisi masalah kesehatan yang umum terjadi. Kondisi ini juga seringkali di alami oleh kebanyakan orang dan bahkan sebagian besar orang mengalaminya ketika memasuki usia lanjut. Terjadinya kondisi presbiopi ini adalah di mana adanya pergeseran struktur lensa mata yang di sebabkan oleh perubahan akibat faktor penuaan.

Pada kondisi ini struktur lensa mata akan mengalami perubahan struktur dan menjadi lebih keras dan tidak fleksibel seperti pada kondisi sebelumnya. Perubahan struktur lensa tersebut berdampak pada kondisi struktur kornea mata yang menjadi tidak rata. Akibatnya cahaya atau bayangan objek yang masuk ke mata akan kesulitan untuk sampai pada retina mata. Kondisi inilah yang membuat lensa mata mengalami kontraksi sehingga tidak adapt memfokuskan cahaya yang masuk ke mata.

Cara Untuk Mendiagnosis Penyakit Presbiopi

Umumnya, untuk mengatahui apakah seseorang mengalami kondisi penyakit presbiopi, dokter akan melakukan berbagai jenis tes secara medis. Hal tersebut di lakukan agar mendapatkan hasil yang lebih jelas dan akurat terkait kondisi mata. Apabila dokter menduga adanya gejala kondisi tersebut, maka pemeriksaan fisik dan tes akan di sarankan untuk di lakukan. Umumnya, langkah untuk mendiagnosis sendiri biasanya sama seperti pemeriksaan pada jenis ganggguan penglihatan lainya.

Berikut adalah beberapa prosedur dalam upaya untuk mendiagnosis mata yang mengalami presbiopi.

  1. Tes Ketajaman Penglihatan

Salah satu prosedur dalam upaya untuk mengatahui atau mendiagnosis kondisi mata yang mengalami presbiopi adalah dengan melakukan tes ketajaman penglihatan. Pada metode ini, dokter akan menggunakan alat yang bernama Snellen chart. Snallen chart sendiri merupakan alat yang berupa sebuah papan yang berisikan huruf-huruf. Huruf-huruf pada papan tersebut memiliki ukuran yang beragam, mulai dari ukuran yang terbesar hingga huruf yang lebih berukuran lebih kecil dan setersunya.

Dengan menggunakan alat tersebut dokter akan mengetahui bagaimana kondisi dan kemampuan penglihatan yang di miliki oleh pasien. Sebab kondisi mata yang mengalami presbiopi sendiri akan menyebabkan penurunan focus dan ketajaman penglihatan pada penderitanya.

  1. Pemeriksaan Uji Refraksi

Jika sebelaumnya dokter mangguanakan alat snallen chart dalam tes ketjaman penglihatan. Maka metode pemeriksaan ini merupakan metode pemeriksaan lanjut dari pemeriksaan sebelumnya. Dalam metode pemeriksaan ini, dokter juga akan menggunakan sebuah alat yang akan membantu untuk mendeteksi kondisi kesehatan dari fungsi penglihatan pasien.

Selain dapat medeteksi gejala presbiopi, prosedur pemeriksaan ini juga dapat menilai kondisi mata pasien, apakah pasien mengalami gejala mata silinder, rabun dekat atau bahkan mengalami gejala rabun jauh. Biasanya, dokter juga akan meminta pasien untuk melihat dan membaca huruf dan angka atau tulisan dengan menggunakan lensa dengan berbagai ukuran yang berbeda.

  1. Prosedur Tes Dilatasi Mata

Setelah melakukan beberapa metode prosedur pemeriksaan kondisi mata di atas, dokter juga akan melakukan metode pemeriksaan dengan prosedur tes dilatasi mata. Metode diagnosis tersebut akan di lakukan dengan tujuan untuk memeriksa bagian terdalam pada mata. Metode ini juga sangat di anjurkan untuk di lakukan pada pasien dengan beberapa risiko gangguan mata. Seperti rasa nyeri pada mata hingga adanya penurunan pada fungsi penglihatan.

Pada metode ini, dokter umumnya juga aka menggunakan adan meneteskan obat tetes mata agar pupil mata menjadi membesar dan lebih terbuka. Dengan kondisi bagian pupil mata yang membesar maka kondisi bagian retina dan saraf terdalam pada mata dapat terlihat dengan jelas. Dan dengan begitu, dokter dapat melihat dengan jelas terkait apakah kondisi mata mengalami gejala presbiopi atau bahkan gejala gangguan penglihatan lainya.

Pada dasarnya presibiopi merupakan salah satu masalah kesehatan terkait gangguan pada fungsi penglihatan yang umum di alami kebanyakan orang. Bahkan sebagaimana di jelaskan di atas, bahwa presbiopi sendiri akan di alami sebagian besar orang ketika memasuki usia lanjut. Bahkan beberapa kasus menyebutkan bahwa presbiopi dapat di terjadi lebih awal atau pada usia mulai dari 45 tahun. Munculnya kondisi tersebut pada usia lanjut seringkali membbuat penderitanya tidak menyadari dan menyepelekannya sebagai hal biasa. Namun beberapa penanganan yang tepat dapat mencegah dan mengurangi gejala akibat kondisi presbiopi.

Demikian penjelasan dari Kawan Mama mengenai beberapa cara untuk mendiagnosis penyakit presbiopi. Metode-metode pemeriksaan di atas di lakukan untuk mengetahui dengan lebih jelas terhadap kondisi yang sedang terjadi pada bagian mata. Selain itu, metode-metode pemeriksaan di atas juga seringkali di gunakan untuk memeriksa dan mengetahui gejala dari jenis gangguan penglihatan lainya.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Linksehat
  • Sehatq
Penyebab Munculnya Penyakit Presbiopi

Penyebab Munculnya Penyakit Presbiopi

Hallo Kawan Mama, Penuaan adalah salah satu kondisi alami yang di mana kondisi ini pastinya akan di alami oleh semua orang tanpa terkecuali. Pada kondisi ini, umumnya fungsi dari organdan metabolisme tubuh akan mengalami penurunan. Hal ini seringkali menyebabkan seseorang mengalami masalah kesehatan, termasuk pada fungsi penglihatan. Pada usia-usia tua seseorang rentan mengalami kondisi presbiopi. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya penyakit presbiopi.

Pada usia yang beranjka mulai menua memang kerap sekali menjadi momen di mana berbagai jenis masalah kesehatan datang dan menyerang metabolsime di dalam tubuh. Hal tersebut juga berlaku pada system penglihatan di mana berbagai jenis gangguan penglihatan seringkali muncul dan membuat fungsi penglihatan menjadi terganggu. Prsebiopi adalah salah satu kondisi gangguan penglihatan yang seringkali muncul dan banyak di alami oleh orang dengan usia lanjut.

Jika kamu perhatikan dengan seksama, sering kali orang dengan usia tua atau lanjut usia seringkali merentangkan matanya ketika membaca koran atau buku. Hal ini juga seringkali terjadi ketika hendak melihat objek dengan memicingkan matanya. Kondisi ini seringkali terjadi agar mata dapat mefokuskan pandangannya untuk melihat objek di depannya. Kondisi ini umumnya seringkali di alami ketika seseorang menginjak usia 40 tahun ke atas.

Seseorang yang mengalami presbiopi umumnya akan mengalami kondisi di mana fungsi penglihatanya mengalalmi gangguan. Kondisi ini akan cukup sering membuat focus penglihatan penderitanya menjadi buyar. Akibatnya, penderita presbiopi akan kesulitan untuk melihat objek di depanya, terutama pada objek yang berukurann kecil. Pada kesempatan kali ini, Kawan Mama akan membahas mengenai beberapa penyebab yang membuat munculnya penyakit presbiopi. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya sebegai berikut.

Pengertian Penyakit Presbiopi

Penyebab Munculnya Penyakit Presbiopi

Presbiopi atau yang juga di kenal dengan sebutan prsebiopia atau mata tua pada dasarnya merupakan suatu kondisi berupa gangguan yang terjadi pada fungsi penglihatannya. Gangguan pada fungsi penglihatan tersebut akan membuat penderita presbiopi mengalami penurunan daya penglihatan. Kondisi ini merupakan sebuah keadaan yang umumnya akan muncul dan di alami oleh seseorang yang beranjak dan memasuki usia tua.

Dalam istilah lain, kondisi mata yang mengalami presbiopi juga sering di sebut dengan sebutan mata tua atau rabun senja.  Kondisi di mana penurunan fungsi dan kemampuan penglihatan tersebut terjadi karena adanya perubahan bantuk lensa mata. Akibat dari mata yang mengalami kondisi ini membuat penderita presbiopi lebih mudah dan merasa nyaman menjauhkan objek ketika melihat maupun membaca di bandingkan melihatnya dengan jarak yang dekat.

Di lansir dari laman American Academy of Ophthalmology, menyebutkan bahwa rabun tua atau presbiopi merupakan salah satu kondisi yang sudah pasti akan di alami semua orang ketika memasuki usia lanjut. Umumnya kondisi ini terjadi akibat adanya pengerasan lensa mata karena faktor pertambahan usia. Pengerasan lensa akan mengakibatkan kondisi lensa mata yang menjadi tidak fleksibel. Selain itu, kondisi tersebut juga akan mengakibatkan struktur dari lensa atau kornea mata menjadi tidak rata.

Lensa mata sendiri pada dasarnya memiliki fungsi sebagai alat untuk memfokuskan cahaya yang masuk menuju retina. Ketika mata memandang objek yang dekat, maka lensa mata akan berkontraksi dan melengkung untuk memfoksukan cahaya. Faktor penuaan menajdi salah satu faktor yang membuat lensa menjadi sulit untuk berkontraksi dan kesulitan untuk melihat focus pada objek yang dekat.

Penyebab Munculnya Penyakit Presbiopi

Sebagaimana yang telah di jelaskan di atas, bahwa presbiopi atau rabun senja merupakan masalah kesehatan yang seringkali terjadi ketika usai beranjak menua. Hal tersebut membuat kondisi presbiopi berbeda dengan gengguan penglihatan jenis lainya, seperti silinder, rabun jauh, dan rabun dekat. Usia yang menua seringkali membuat struktur lensa mata mengeras hingga mata kehilangan fleksibilitasnya.

Struktur lensa mata yang menjdi kaku akan membuat menyebabkan lensa tidak bisa fleksibel dan berubah bentuk untuk memfokuskan cahaya dari benda yang jaraknya dekat ke retina mata. Kondisi ini membuat benda tersebut terllihat menajdi kabur dan tidak jelas karea mata yang kesulitan untuk focus. Faktor penuaan juga akan menyebabkan perubahan pada serat otot yang mengelilingi lensa mata sehingga mata menjadi kurang elastis.

Hal tersebut membuat mata membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat melilhat pad objek dengan lebih baik dan jelas. Meskipun kondisi ini lebuh mudah tejadi akibat faktor penuaan, namun ternayata presbiopi juga dapat terjadi lebih awal. Kondisi ini di sebut dengan istilah presbiopi premature atau presbiopi dini. Presbiopi premature dapat terjadi akibat beberapa faktor, yakni antara lain sebagai berikut.

  1. Kondisi mata yang mengalami trauma
  2. Penyakit diabetes
  3. Riwayat kondisi anemia
  4. Rabun dekat
  5. Adanya gangguan neuromaskular yang dapat mempengaruhi saraf dan otot
  6. Riwayat penyakit autoimun yang dapat mempengaruhi tulang belakang dan otak
  7. Buruknya gaya hidup
  8. Penggunaan handphone yang tidak baik
  9. Efek dari penggunaan beberapa jenis obat seperti, antidepresan, antihistamin dan diuretic
  10. Seringkali mengkonsumsi alcohol
  11. Jenis kelamin wanita
  12. Menopause
  13. Riwayat penyakit jardiovaskular
  14. Riwayat insufisiensi vascular (penumpukan aliran darah

Pada dasarnya presbiopi adalah suatu kondisi berupa gangguan penglihatan yang pada umumnya terjadi akibat faktor penuaan. Kondisi ini akan menyebabkan penderitanya mengalami penurunan ketajaman penglihata. Selain itu, mata juga akan kesulitan untuk memfokuskan pandangan ketika melihat pada objek, terutama yang memiliki ukuran lebih kecil. Presbiopi sendiri merupakan kondisi yang hampir semua orang akan mengalaminya ketika memasuki usia tua. Namun beberapa hal di atas juga dapat menyebabkan kondisi presbiopi terjadi dengan lebih cepat.

Demikian pejelasan dari Kawan Mama mengenai beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya penyakit presbiopi. Meskipun faktor penuaan menjadi penyebab paling kuat munculnya presbiopi, namun beberapa faktor lain juga dapat menyebabkan terjadinya presbiopi. Karenanya pentinh untu mengetahui kondisi mata dengan memeriksakan mata secara rutin untuk mencegah kondisi tersebut.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Linksehat
  • Honestdocs
Dosa orang tua kepada anak Dalam Agama Islam

Dosa orang tua kepada anak Dalam Agama Islam

Hallo Kawan Mama, Setelah menikah laki-laki dan wanita akan mendapatkan kehidupan baru sebagai pasangan suami dan istri. Dan tidak berselang lama, ketika istri telah mengalami kehamilan, maka pasangan suami istri tersebut akan berubah menjadi seorang ayah dan ibu. Tentu ini adalah kabar bahagia yang di tunggu-tunggu oleh setiap pasangan suami istri. Dan dalam Agama Islam mengajarkan bahwa tujuan menikah selain mengesahkan ikatan laki-laki dan wanita dalam sebuah pernikahan, juga untuk memperbanyak keturunan. Selain itu, peran seoarng suami istri juga akan bertambah menjadi orang tua. Dengan begitu, ada beberapa hal yang dapat menjadi pahala bagi atau bahkan dosa orang tua kepada sang anak apabila tanggung jawab serta hak dan kewajibannya tidak di jalankan sebagai mana mestinya.

Setiap orang tua pasti mengaharapkan agar anaknya dapat lahir dan dapat bertumbuh kembang dengan sehat dan cerdas, serta berahklakul karimah dan berbakti kepada orang tua. Dan tentunya tugas orang tua bukan hanya sekedar untk memnuhi kebutuhan sandang, papan dan pangannya semata. Namun orang tua juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mengajarkan tentang ilmu agama dan ilmu lainya sebagai bekal bagi si anak untuk menjadi anak yang pintar dan shalih. Dan tidak jarang anak dapat melakukan kesalahan-kesalahan kepada orang tuanya.

Menjadi orang tua, pada umumnya terlihat begitu mudah, namun jika kamu sudah mengalaminya, ternyata menjadi orang tua bukanlah perkara yang mudah di lakukan. Kewajiban seorang anak tentu adalah untuk patuh dan taat serta berbakti kepada orang tua. Sebab orang tua merupakan prang yang telah melahirkan, mendidik dan merawat sang anak dengan penuh kasih sayang. Namun tidak semua hal dalam sebuah keluarga adalah kesalahan dari sang anak. Tidak jarang juga orang tua melakukan kesalahan-kesalahan yang tanpa ia sadari perkesalahan tersebut merupakan dosa orang tua kepada anak-anaknya.

Nah, pada kesempatan kali ini Kawan Mama akan membahas mengenai dosa orang tua kepada anaknya. Pada umumnya, banyak dari orang tua yang melakukan perbuatan kepada anak yang tanpa ia sadari, perbuatannya tersebut merupakan perbuatan dosa. Berikut adalah penjelasannya.

Dosa Anak Kepada Orang Tua

Dosa orang tua kepada anak

  1. Kasar Kepada Anak

Melakukan tindakan kasar tanpa sebab yang jelas kepada anak merupakan hal yang di larang dalam Agama Islam. Baik dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan, kasar kepada anak adalah salah satu bentuk dosa dari orang tua kepada anaknya. Setiap dari anak pasti akan melakukan kesalahan-kesalahan dalam keseharianya dan bahkan kesalahan tersebut membuat hati orang tua menajdi geram.

Namun ini bukan menjadi alasan untuk orang tua dapat melontarkan kata-kata atau perbuatan kasar kepada anaknya. Apalagi sampai melakukan hal tersebut di depan orang lain atau teman-temanya. Tentu perlakuan tersebut dapat membuat anak berkecil hati, dan sakit hati terhadap orang tuanya sendiri. Dan bahkan bukan tidak mungkin anak akan menjadi pribadi yang pendendam dan durhaka pada orang tuanya.

  1. Tidak Mendidik Anak Dengan Baik

Kewajiban orang tua selain menafkahi dan memenuhi kebutuhan dari anak-anaknya, ia juga memliki kewajiban lainya. Yakni seperti halnya untuk memberikan pendidikan dan mengajari anak-anaknya terutama tentang ilmu agama. Sebab dengan mengajari anak ilmu agama, maka aanak akan sedari dini mengetahui tentang agama dan akhlak yang mulia dan kemudian dapat anak terapkan dalam kehidupannya sedari dini.

Sebagaimana telah di sampaikan oleh Rasulullah SAW, Beliau bersabda.

“tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (H.R Al-Hakim)

  1. Dosa Menelantarkan Anak

Ketika sudah menjadi seorang ayah maupun ibu, tentu orang tua memiliki tanggung jawab dan kewajiban baru yang harus ia penuhi kepada anak-anaknya. Bukan hanya sekedar memberikan makan dan pendidikan semata, namun orang tua juga perlu memperhatikan dan memberi cinta kasihnya kepada anak dengan sepenuhnya. Orang tua akan menjadi berdosa apabila ia menelantarkan anaknya begitu saja, apalagi ketika anaknya masih berusia dini.

Sebagaimana telah di sampaikan oleh Rasulullah SAW, Beliau bersabda.

“Seseorang di katakan telah cukup berbuat dosa apabila menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (H.R Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Dari hadits tersebut, dapat di pahami bahwa orang tua memilki kewajiban untuk menunaikan tanggung jawabnya kepada anak dengan sebaik-baiknya. Dan ia dapat di katakan berdosa apabila ia menelantarkan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Perbuatan yang termasuk menelantarkan anak adalah tidak memberi makan anak, pakaian, pendidikan dan tidak memberikan anak cinta kasihnya.

  1. Tidak Berbuat Adil Kepada Anak

Tugas orang tua lainya adalah berbuat adil pada anak-anaknya. Adil dalam memberi makanan, pakaian, pendidikan dan tentunya adil dalam memberikan cinta kasihnya kepada anak-anaknya satu sama lain. Orang tua yang bersikap tidak adil dan cenderung pilih kasih tentu dapat membuat kesenjangan di antara anak-anaknya. Tentu hal ini dapat menjadi sebab ketidak akuran anak dan bahkan menjadi sebab permusuhan di antara anak-anak, yang pada akhirnya akan membuat anak geram dan marah pada orang tuanya.

dan telah di ceritakan dalam sebuah riwayat, bahwa sanya Rasulullah SAW sampai berwasiat kepada kaum orang tua untuk bersikap adil kepada anak-anaknya. Bahkan Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali, beliau bersabda.

“Adilah kepada anakmu, adilah kepada anakmu, adilah kepada anakmu!.” (H.R Abu Dawud, Nasa’I, dan Ibnu Hibban)

Dari hadits tersebut dapat di ketahui, bahwa penting bagi orang tua untuk bersikap adil dan tidak bertindak pilih kasih kepada anak-anaknya. Dengan begitu dapat menghindari kesenjangan dan permusuhan di antara anak-anak dan dapat menjauhkan orang tua dari perbuatan dosa kepada anak.

  1. Membandingkan Anak Dengan Orang Lain

Sebagai orang tua yang baik dan sayang kepada anaknya, tentu harus selalu memberikan dorongan dan motivasi yang baik kepada anak-anaknya. Pasalnya, banyak sekali orang tua yang membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain yang mempunyai kelebihan dari pada anaknya. Tanpa orang tua sadari, perbuatan tersebut merupakan perbuatan dosa orang tua kepada anak-anaknya. Sebab, dengan membandingkan anak dengan anak orang lain, dapat membuat anak tidak percaya diri, kurang motivasi, yang pada akhirnya membuat sang anak menjadi pribadi yang pendiam dan tidak percaya diri.

Pada dasarnya, setiap anak lahir kedunia memiliki karakternya masing-masing yang membuatnya menjadi unik. Membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain dapat mengakibatkan anak menjadi geram dan marah pada orang tua, buruknya hal ini dapat menjadi sebab anak tidak patuh dan durhaka pada orang tua. Dan membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain tentu menjadi sebuah dosa bagi orang tua kepada anaknya.

  1. Memaksa Dan Menuntut Anak Untuk Menjadi Dewasa Pada Usia Dini

Setiap anak-anak pasti ingin mengalami dan menikmati masa kanak-kanaknya dengan sebaik-baiknya. Bermain bersama teman sepuasnya dengan teman sebayanya, merupakan hal yang lumrah bagi anak-anak dan memang di perlukan oleh anak-anak. Namun seringkali orang tua bertindak dan memberikan tanggung jawab yang pada dasarnya terlalu besar dan belum cakap baginya untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut pada usianya yang sekarang.

Orang tua memang perlu untuk mengajari anak-anaknya untuk tumbuh kembang dengan berbagai pengalaman dan keahlian dari orang tuanya. Namun bukan berarti ia dapat memberikan tanggung jawab yang besar seketika saja pada anaknya. Baiknya, bombing anak dengan perlahan dan bisa di mulai dari memberikan anak tugas yang ringan kepadanya.  Dengan begitu anak tidak akan merasa terlalu terbebani dan dapat menikmati masa kanak-kanaknya.

  1. Mengekang Sang Anak

Orang tua merupakan penanggung jawab dari kelangsungan hidup keluarga yang ia pimpin, tidak terkecuali dengan kehidupan anak-anaknya. Tapi itu tidak menjadikan orang tua dapat semena-mena terhadap kehidupan anak-anaknya, apalagi sampai mngekang kebebasan anaknya. Wajar bagi orang tua bila ingin anaknya dapat tumbuh dengan sehat dan menjadi seperti apa yang ia inginkan. Namun akan menjadi hal yang salah apabila ia mengekang dan meminta anak untuk selalu menuruti kemauanya.

Peran orang tua hanya sebatas untuk memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya untuk menafkahi dan memberikan pendidikan serta membimbing anaknya agar tidak salah memilih jalan. Orang tua yang mengekang dan sangat membatasi anak akan membuat anak menjadi karaktaer dengan mental yang tidak setabil, cenderung penakut dan tertutup serta membuatnya sulit untuk bersosialisasi, bahkan dengan orang tuanya sendiri. Dan orang tua yang tidak terlalu mengekang anaknya cenderung akan membuat anak yang berkarakter ceria dengan mental yang stabil dan mudah untuk bersosialisasi.

  1. Buruk Sangka Kepada Anak

Agar anak dapat memili karakter yang jujur, perlu bagi orang tua untuk menaruh kepercayaan kepada anaknya. Selain itum buang jauh-jauh rasa curiga maupun buruk sangka pada anaknya. Dengan memberikan kepercayaan apada sang anak, secara tidak langsunga anak juga akan menjdi anak dengan karakter bertanggung jawab atas amanat yang telah ia terima. Anak tentu memiliki cara pandang dan pola fikirnya sendiri yang dan salah jika orang tua menaruh rasa curiga apalagi sampai menuduh yang bukan-bukan kepada anaknya.

Tugas orang tua hanya memberitahu dan membimbing anak menuju jalan yang benar tanpa harus menaruh rasa curiga yang berlebihan terhadap apa yang di lakukan kepada anak. Karena dengan rasa buruk sangka pada anak, dapat membuat kepribadian anak malah cenderung sering berani berbohong kepada orang tuanya. Orang tua dapat mengawasi dan menegur atau memberi peringatan apabila anak hendak melakukan kesalahan. Dan sudah menjadi tugas bagi orang tua untuk membimbing anak bila melakukan kesalahan dan momotivsinya untuk memperbaiki kesalahan yang telah anak perbuat.

Pada dasarnya, orang tua memiliki tugas untuk memberi nafkah, memberi makan, pakaian, tempat tinggal, kehidupan yng layak dan mendidik serta membimbing anak menuju jalan yang benar. Orang tua juga memiliki kewajiban untuk mengajari anaknya untuk berbuat baik dan memperbaiki kesalahan apabila anak melakukannya. Pasalnya orang tua adalh ornag yang akan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Sehingga apapun yang di lakukannya terhadap anak tentu akan berdampak pada karakter anak tersebut.

Demikaian pembahasan dari Kawan Mama mengenai dosa orang tua kepada anak. Kewajiban orang tua adalah memberikan nafkah lahir dan batin, serta memberikan cinta kasih juga sebagai tauladan bagi anak-anaknya. Sehingga penting bagi orang tua untuk memperhatikan hal-hal yang dapat membuatnya melakukan perbuatan dosa dan berdampak buruk kepada anaknya.

Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat. . .

 

 

 

 

Sumber :

  • Theasianparent
  • Popbela